welcome

Jumat, 08 Juni 2012

RPP

RPP paragraf Deduktif dan Induktif

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Satuan Pendidikan    : SMA
Mata Pelajaran         : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester        : XI/I
Alokasi waktu          : 2 X 40 menit

A. STANDAR KOMPETENSI
Menulis: menggungkapkan pikiran, pendapat, dan informasi dalam penulisan karangan berpola deduktif dan induktif.

 B. KOMPETENSI DASAR
Menulis karangan berdasarkan topik tertentu dengan pola pengembangan deduktif dan induktif

  C. INDIKATOR

  1.  Kognitif
   a. proses
  •     Menemukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf
  •     Menemukan kalimat penjelas yang mendukung kalimat utama
  •     Menemukan paragraf induktif dan deduktif
    b.  Produk
  •     Menentukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf
  •     Menentukan kalimat penjelas yang mendukung kalimat utama
  •     Menentukan paragraf induktif dan deduktif
  2.  Psikomotor
  •     Menjelaskan perbedaan paragraf deduktif dan induktif
  3.  Afektif
    a. Karakter
  •     tanggung jawab
  •     kritis
  •      disiplin
    b.  Keterampilan sosial
  •     Berbahasa santun dan komunikatif
  •     Partisipasi dalam (kerja sama) kelompok
  •     Membantu teman yang mengalami kesulitan
  D.  TUJUAN PEMBELAJARAN
  1.  Kognitif
     a.Proses
Setelah membaca dan memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca nyaring, siswa secara berkelompok diharapkan dapat
   1. Menemukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf
   2. Menemukan kalimat penjelas yang mendukung kalimat utama
   3. Menemukan paragraf induktif dan deduktif
     b. Produk
Setelah menemukan hasil pencapaian tujuan proses di atas, siswa secara berkelompok diharapkan dapat
   1. Menentukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf
   2. Menentukan kalimat penjelas yang mendukung kalimat utama
   3. Menentukan paragraf induktif dan deduktif

   2. Psikomotor
Setelah menentukan dan memahami hasil pencapaian tujuan produk di atas, siswa secara mandiri diharapkan dapat
   1. Menjelaskan perbedaan paragraf deduktif dan induktif 

  3.  Afektif
    a. Karakter
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan dalam berperilaku yang meliputi sikap
  •     tanggung jawab
  •     kritis
  •      disiplin
  b.  Keterampilan sosial
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan kecakapan sosial yang meliputi
  •     Berbahasa santun dan komunikatif
  •     Partisipasi dalam (kerja sama) kelompok
  •     Membantu teman yang mengalami kesulitan

   E. MATERI PEMBELAJARAN
  •    Paragraf yang berpola deduktif dan induktif
  •     Kalimat utama dan kalimat penjelas
  •     Perbedaan deduktif dan induktif
    F.MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN
  1.  Pendekatan: Pembelajaran Kontekstul
  2.  Model Pembelajaran: Kooperatif Tipe STAD
  3.  Metode: tanya jawab, pemodelan, penugasan, dan unjuk kerja
   G. BAHAN DAN MEDIA
  •     Wacana tulis (artikel)
  •     LKS
  •     Kertas HVS
    H. ALAT
  •     Spidol
  •     Format evaluasi
  •     Pedoman penilaian dan penskoran

I. SKENARIO PEMBELAJARAN

Nokegiatan penilaian pengamat   1   

PERTEMUAN I (80 menit)1234
A1
KegiatanAwal (15):                      Tahap 1(5 menit): Pemancingan dengan mula-mula menanyakan kesiapan belajar siswa, lalu menanyakan pengetahuan dan pengalaman siswa tentang paragraf.
Tahap 2 (10 menit): Pengarahan dengan mula-mula bertanya jawab tentang jenis-jenis paragraf  berdasarkan letak kalimat utamanya, kemudian diakhiri dengan penegasan guru tentang tujuan pembelajaran yang harus dicapai dalam proses pembelajaran pada pertemuan itu.              



B1

Kegiatan Inti (55 menit):(55 menit):                  guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, kemudian memberikan pemahaman kepada siswa mengenai paragraf deduktif dan induktif, serta perbedaan antara kalimat utama dan kalimat penje





C1 

Kegiatan Akhir (10 menit)                              Siswa bersama guru merumuskan kesimpulan umum atas semua butir pembelajaran yang telah dilaksanakan;
Siswa  diminta menyampaikan kesan dan saran (jika ada) terhadap proses pembelajaran yang baru selesai mereka ikuti;
Guru menugaskan siswa untuk mencari artikel di media masa yang akan mereka identifikasi paragraf deduktif dan induktif  








   J. SUMBER PEMBELAJARAN
  1.  Wacana tulis
  2.  Materi Essensial MGMP Sekolah
  3.  Lembar Pegangan Guru
  4. LKS 1 ; LKS 2
  5. LP 1 ; LP 2
  6.  Silabus
    K. EVALUASI DAN PENILAIAN

1. Evaluasi
a. Evaluasi Proses: dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap aktivitas peserta  (siswa) dalam menggarap tugas, diskusi, kegiatan tanya jawab, dan dialog informal.
b. Evaluasi Hasil: dilakukan berdasarkan analisis hasil pengerjaan tugas dan pengerjaan tes, dan pengamatan unjuk keterampilan (performance)

 2. Penilaian
 a. Jenis Tagihan Penilaian: LKS 1 dan LP 1, LKS 2 dan LP 2, , LP 4, LP 5
     1) Tugas Individu: menggunakan LKS 3 ; LP 3
 b.Bentuk Instrumen Penilaian:
     1). Uraian bebas
     2). Jawaban singkat
     3). Pilihan ganda





Satuan Pendidikan    : SMA
Mata Pelajaran    : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester    : XI/I
Standar Kompetensi    : Membaca
Kompetensi Dasar      : Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan           membaca intensif

LEMBAR PEGANGAN GURU
 (LPG)

Pengertian Paragraf
Paragraf (dari bahasa Yunani paragraphos, “menulis di samping” atau “tertulis di samping“) adalah Unit terkecil sebuah karangan yang terdiri dari kalimat pokok atau gagasan utama dan kalimat penjelas atau gagasan penjelas. Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi.
Syarat sebuah paragraf di setiap paragraf harus memuat dua bagian penting, yakni :
    Kalimat utama
Biasanya diletakkan pada awal paragraf, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir paragraf. Kalimat pokok adalah kalimat yang inti dari ide atau gagasan dari sebuah paragraf. Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas.
    Kalimat Penjelas
Kalimat penjelas adalah kalimat yang memberikan penjelasan tambahan atau detail rincian dari kalimat pokok suatu paragraf.

2. Jenis Paragraf Berdasarkan Letak Kalimat Utama
Letak kalimat utama juga turut menentukan jenis paragraf. Penjenisan paragraf berdasarkan letak kalimat utama ini terbagi atas 4 yakni :
    Paragraf Deduktif
Paragraf dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat utama. Kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas yang berfungsi menjelaskan kalimat utama. Paragraf ini biasanya dikembangkan dengan metode berpikir deduktif, dari yang umum ke yang khusus.

Dengan cara menempatkan gagasan pokok pada awal paragraf, ini akan memungkinkan gagasan pokok tersebut mendapatkan penekanan yang wajar. Paragraf semacam ini biasa disebut dengan paragraf deduktif, yaitu kalimat utama terletak di awal paragraf.

    Paragraf Induktif
Paragraf ini dimulai dengan mengemukakan penjelasan-penjelasan atau perincian-perincian, kemudian ditutup dengan kalimat utama. Paragraf ini dikembangkan dengan metode berpikir induktif, dari hal-hal yang khusus ke hal yang umum.
    Paragraf Campuran (Deduktif-Induktif)
Pada paragraf ini kalimat topik ditempatkan pada bagian awal dan akhir paragraf. Dalam hal ini kalimat terakhir berisi pengulangan dan penegasan kalimat pertama. Pengulangan ini dimaksudkan untuk lebih mempertegas ide pokok. Jadi pada dasarnya paragraf campuran ini tetap memiliki satu pikiran utama, bukan dua.
    Paragraf Tersebar
Paragraf ini tidak mempunyai kalimat utama, berarti pikiran utama tersebar di seluruh kalimat yang membangun paragraf tersebut. Bentuk ini biasa digunakan dalam karangan berbentuk narasi atau deskripsi.



DAFTAR PUSTAKA
Irawan, yudi (dkk). 2007. Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia. Jakarta : Pusat Perbukuan



               
LEMBAR PENILAIAN

LP 1 : KOGNITIF PROSES
Pedoman Penskoran LKS 1

No. 

Komponen
DeskriptorSkorBobotSkor x BobotCatatan
1.  Menemukan kalimat utama dan kalimat penjelas dalam  paragraf   a.Dapat menemukan kalimat utama  dan kalimat penjelas pada semua paragraf
b.Hanya dapat menemukan kalimat utama  dan  kalimat penjelas pada beberapa  paragraf .
c.Tidak dapat menemukan  kalimat utama dan kalimat penjelas dalam paragraf.  

2


1


5      

2.   Menemukan paragraf yang berpola deduktif dan induktifa.Dapat menemukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada semua paragraf
b.Hanya dapat menemukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada beberapa  paragraf .
c.Tidak dapat menemukan  paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada semua paragraph  
2


1

0  

5  


Jumlah





Catatan :  0 = Sangat kurang  1  = kurang   2 = baik 

Cara Pemberian NilaiRumus :
nilai=   (skor perolehan siswa)
           (skor maksimum)          X 100


LP 2 : KOGNITIF PRODUK
Pedoman Penskoran LKS 2

No.

Komponen 

Deskriptor
SkorBobot  Skor x Bobot Catatan

1.
Menentukan kalimat utama dan kalimat penjelas dalam  paragrafa.Dapat menentukan kalimat utama  dan kalimat penjelas pada semua paragraf
b.Hanya dapat menentukan kalimat utama  dan  kalimat penjelas pada beberapa  paragraf .
c.Tidak dapat menentukan  kalimat utama dan kalimat penjelas dalam paragraf.  

2


1


0   
5      

2.
Menentukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif
a.Dapat menentukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada semua paragrafb.Hanya dapat menentukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada beberapa  paragraf .
c.Tidak dapat menentukan  paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada semua paragraf
2


1

0  
5

jumlah





Catatan :  0 = Sangat kurang  1  = kurang   2 = baik 
Cara Pemberian Nilai
Rumus :
nilai=(skor perolehan siswa)/(skor maksimum)    X 100


              
LP 3 = Psikomotor
Pedoman Penskoran LKS 3


No.   Komponen  Deskriptor SkorBobot  Skorx
Bobot
Catatan
1.Menjelaskan perbedaan paragraf deduktif dan induktifa.Dapat menjelaskan dengan sangat jelas dengan bahasa yang efektif dan santun.
b.Dapat menjelaskan, namun dengan terbata-bata.
c.Tidak dapat menjelaskan apa-apa.  


3

2

0  
5

jumlah





Catatan :  0 = Sangat kurang 2 = cukup baik  3 = baik 
Cara Pemberian Nilai
Rumus :

nilai=(skor perolehan siswa)/(skor maksimum)    X 100



LP 4 = Afektif : Perilaku Berkarakter
Petunjuk :
Berikan penilaian atas setiap perilaku berkarakter siswa menggunakan skala berikut :
A = sangat baik            B = memuaskan
C = Cukup baik            D = kurang baik



No.

Rincian tugas kinerja
Memerlukan perbaikan
(D)
Menunjukkan kemajuan
(C)
Memuaskan(B)    Sangat baik(A)
1.Tanggung jawab



2.Kritis



3.Disiplin






Hari/Tanggal :

Guru/Pengamat


(…………………..)




LP 5 = Afektif : Perilaku Keterampilan Sosial
Petunjuk :
Berikan penilaian atas setiap perilaku berkarakter siswa menggunakan skala berikut :
A = sangat baik            B = memuaskan
C = Cukup baik            D = kurang baik

No.Rincian tugas kinerjaMemerlukan perbaikan(D)   Menunjukkan kemajuan(C) Memuaskan(B)  Sangat baik(A)
1.
 Berbahasa santun dan komunikatif              




2.Partisipasi dalam (kerja sama) kelompok



3.Membantu  teman yang kesulitan              






Hari/Tanggal :

Guru/Pengamat


(…………………..)




MEDIA PEMBELAJARAN

Bacalah Kutipan Artikel Berikut!
Efek Rumah Kaca

       Segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika mengenai permukaan bumi, energi berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagi radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun, sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini.gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi. Akibatnya panas akan tersimpan di permukaan bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata  tahunan bumi terus meningkat.
      Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsenterasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala mahkluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15˚C (59˚F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33˚C (59˚F) dengan efek rumah kaca (tanpanya suhu bumi hanya -18˚C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi). Akibatnya jumlah gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.
     Kenaikan suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan.misalnya naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan
        Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perbedaan politik dan publik di dunia mengenai tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut. Sebagian besar Negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca

                                                                                                                 Kendari,  Desember 2011
Guru Pamong                                                                                           Mahasiswa KKP                                                              
HARLINA, S.Pd                                                                                              A R I S
NIP  197605292007012012                                                                         A1D1 07 105




Mengetahui,
Kepala SMA Kartika VII-2 Kendari


Drs. H. NP. DAHLAN





Kamis, 07 Juni 2012

GALAU

Sudah lama keluh cintaku
Untuk selalu bersamamu kasih
Sudah lama aku ternista
Dalam kasih yang tak pasti

Sejuta duka telah kucipta
Lantas aku tercampakan
Dalam sakit menggigit

Kucoba membela diri
Mereguk nostalgia merenda mimpi
Tapi sia-sia
Semua sudah berlalu
Tinggal kenangan
Lantas kupandang sang bulan
Kumenanti jawaban
Mungkinkah dia kembali
Meminta hati
Mengharap kasih
Tapi hanya galau yang menghadang

Kasih
Hatiku menjerit sakit
Cintaku tercabik terhimpit
Dalam mimpi aku masih berharap
Masih mungkinkah dia kembali padaku
Masih adakah sisa cintanya untukku
Kendari, 2012

SIA-SIA KUKAU HARAP

Kenapa kau masih saja bermimpi
Padahal kasihku sudah lama terkunci
Walau kau hardik aku, dan beri aku sejuta harapan
Kau tidak kan dapat apa-apa, hanya hati kita yang luka

Dan kau tidak dapat apa-apa, kecuali harap
Bisa saja kau robek jiwaku
Dengan janji indah
Tetapi benar-benar takan ada yang kau dapat
Hanya kenangan yang tak tentu
Tidak pernah jiwaku
Tidak pula kasihku
Dan tidak pula cintaku
Tidak! Tidak mungkin itu

Engkau berdiri menangis di atas menara
Aku tak melihat siapa engkau
Tapi jelas engkaulah kenanganku
Berawal dari mimpi
Dan berakhir dengan mimpi
Tapi jiwaku telah lama menangis
Mengharap hujan dimusim kemarau
Yang mampu membasahi lereng
Tetapi tidak dengan jiwaku
Hatiku terlalu kering untuk kau basahi
Karena cintaku memang bukan milikmu
Kendari, Mei 2012

KENANGAN

Kupandang potret wajahmu
Manis dan cantik
Kasihku tercinta entah di hati yang mana

Kuingat masa lalu kita
Begitu indah untuk dikenang
Tetapi semua tinggal kenangan

Kupandang raut wajahmu
Menembus segala rasa rinduku padamu, tapi itu dulu
Cerita masa lalu
Harapan yang tak mau terwujud
Kenangan itu, setiap gambarmu melukiskan cerita tentang kita
Bukan bernostalgia, tetapi betapa jiwaku masih menyayangimu
Waktu telah mengubur segalanya
Menjadi kenangan terindah

Kukenang masa lalu
Mengapa begitu singkat
Kisah kasih kita
Segalanya hanya sepintas
Datang dan pergi begitu saja
Meninggalkan sejuta cerita
Dan luka mengiris hati

Kendari, 2012

RINDU

Mata batinku mengharap jumpa
Denganmu wahai sang pemilik hati
Telah lupa apa makna kasih
Telah habis untaian kata
Merajuk makna
Untuk mewujud dalam harap
Kian kusebut kian tak berarti
Kian kuingat kian merindu

Seharusnya aku lama mencari arti
Tapi relung hatiku selalu penuh
Jelaga hitam kehidupan
Menutup cahaya batinku

Lama batinku menangis
Meratapi harapan jumpa
Dengan engkau wahai sang kekasih
Kalau kubisa meminta waktu
Ingin kutumpahkan semuanya
Segala rasa rinduku
Namun samudera bumi tak mampu menampungnya
Wajah dan cintamu kekasih
Biarlah menutupi seluruh jiwaku
Di bawah bentangan laut aku menanti
Kendari,  Mei 2012

TAKUT MATI, SALAHKAH?

Oleh
ARIFIN
    Tidak salah, kalau Anda merasa takut mati. Rasa takut itu adalah fihtrah, dan manusia hidup sudah dibekali dengan berbagai perangkat dan kemampuan untuk mempertahankan hidup, sebatas yang dikehendaki oleh Allah Yang Maha Kuasa. Dan sesungguhnya kondisi kejiwaan seperti itu sudah diisyaratkan firman Allah dalam QS. Al-jumu’ah:8,
     Fitrah manusia, mengajak siapapun menghindari kematian. Makan dan minum bukan saja soal kebutuhan, soal nafsu dan selera, tetapi juga soal mempertahankan hidup. Kenapa manusia harus belajar menghemat uang, belajar bertahan dalam lapar, bahakan juga mempelajari seni bela diri untuk bertahan mrnghadapi serangan dari luar dirinya? Karena secara fitrah, manusia sudah terdiorong untuk bertahan hidup, menghindari mati, atau minimal menurut logika kefitrahan adalah menunda kematian.
    Meski tak seorang pun bisa berlari dari kematian, tapi Allah tidak menyalahkan orang yang selalu mencoba bertahan untuk hidup, selama ia bisa, dan selama itu diperbolehkan. Bahkan dalam kondisi  demikian, seseorang berkewajiban mempertahankan hidup yang merupakan karunia Allah atas diirinya. Maka segala usaha yang dilakukan oleh manusia saat ini, seperti makan, minum, berolahraga atau beristirahat, tidak lain adalah proses alami mempertahankan hidup dan menghindari kematian, sebagaimana yang difitrahkan oleh Allah dalam diri mereka.
    Namun, tentu berbeda makna antara takut mati dengan membenci kematian. Sangat tidak sama antara takut mati dengan ketakutan menghadapi kematian.
    Rasa takut terhadap mati, seperti halnya rasa khawatir atau takut terhadap penyakit, terhadap rasa sakit, terhadap kemiskinan, atau hal-hal yang dinggap  buruk oleh umumnya manusia. Berbeda dengan kebencian terhadap kematian. Rasa benci terhadap kematian itulah yang bisa menyebabkan seseorang mencintai hidup dan enggan bersiap-siap menghadapi mati. Seperti yang selalu disebutkan dalam hadits, “cinta dunia dan takut mati”
    Begitu pula dengan sikap ketakutan menghadapi kematian. Takut berbeda dengan ketakutan. Orang yang merasa takut terhadap musuh pun masih dianggap wajar. Namun, ketakutan menghadapi musuh adalah berbahaya, karena ujung-ujungnya adalah  lari dari peperangan.
    Insting seseorang adalah selalu bergerak untuk merasa takut menghadapi mati. Namun orang yang ketakutan menghadapi mati adalah orang yang tak pernah merasa siap menghadapinya. Ia hanya selalu berusaha memuaskan diri dengan hidup dan kehidupan, hanya suka bersenang-senang, dan nyaris tak pernah memikirkan soal mati dan kematian. Orang yang seperti itu akan sangat ketakutan menghadapi mati. Bahkan ia rela membiarkan banyak orang mati ,  asalkan ia bisa terus hidup. Da sesungguhnya orang seperti  itu justru kehilangan kenyamanan menikmati hidup.
    Gambarannya seperti seorang pemimpin umat yang kerjanya hanya menumpuk kekayaan melalui korupsi dan sejenisnya. Ia hanya menghabiskan masa jabatannya dengan ketakutan, memuaskan diri tapi tidak pernah merasakan kepuasan. Turun dari jabatan, apalagi sebelum berakhirnya masa jabatannya, sungguh merupakan kiamat bagi tipikal pemimpin seperti itu. Bayangkan hilangnya kekuasaan dan potensi untuk menghuni jeruji besi sungguh merupakan siksaan tersendiri yang menyebabkan hidupnya tak pernah nyaman.

RESTORASI KELEMBAGAAN MAHASISWA

Oleh
ARIFIN

    Diskusi seputar paradigm pikir mahasiswa menemukan urgensinya ketika gejala teralienasinya peran dan fungsi mahasiswa muncul di mana-mana. Keinginan untuk mengkritisi ulang terhadap pola sikap mahasiswa diperlihatkan oleh sebagian mahaasiswa yang kecewa terhadap label-label perguruan tinggi. Kondisi demikian diperparah dengan adanya pengaburan identitas dari yang sesungguhnya oleh sebagian media melalui propaganda isu yang mereka lemparkan ke publik yang cenderung menjadikan isu seputar mahasiswa sebagai komoditi profit agar rating penjualan informasinya kian melonjak dengan menegasikan faktor edukatif di dalamnya. Lebih jauh dan kompleks, peran dan fungsi mahasiswa itu sendiri senantiasa memdapat soorotan. Apalagi saat ini, berkembangnya insstans culture alias budaya pop/hedon juga tak luput telah menggerus identitas dan kepribadian mahasiswa.
    Pola berpikir mahasiswa biasanya mengikuti pola berfikir kultur dominan di kampus sehingga sudah tidak sedikit yang terhipnotis dan tergiur dengan gemerlapnya budaya ini. Itu sebabnya, seperti yang disinyalir oleh kritikus Lorraine Gamman dan Margaret Marshment yang bersepakat bahwa budaya pop adalah sebuah medan pergulatan ketika mengemukakan bahwa tidaklah cukup bagi kita untuk semata-mata menilai budaya pop sebagai alat kapitalisme dan patriarki yang menciptakan kesadaran palsu di kalangan banyak orang. Bagi mereka, budaya pop juga tempat dipertarungkannya makna dan digugatnya ideology dominan. Akibatnya, tanpa sadar kita dipaksa patuh dengan logic of capital (logika proses produksi), yakni hal-hal yang dangkal yang cepat ditangkap dan cepat laku. Inilah yang sering dijuluki dengan instans culture.
    Realitas demikian sungguh berbalik  dari kulminasi identitas yang seharusnya terselamatkan kepada mahasiswa. Sebagaimana sejarah pergerakan dan perubahan di berbagai negara mencatat peranan gerakan mahasiswa sebagai inspirator melalui pemikiran dan tuntutannya. Mahasiswa tampil sebagai avant garde perjuangan dengan daya kritis dan keberaniannya, sehingga dikenang sebagai pahlawan dalam pengorbanannya, meskipun mahaiswa idealisnya tidak menempatkan dirinya sebagai pahlawan. Biarkanlah public yang menilai. Catatan perjuangan mahasiswa tidak selalu diakhiri dengan kemenangan, namun ide-ide perjuangan mahasiswa tidak akan pernah mati sampai kemenagan diraih oleh para kader penerus dan pendukungnya.
    Dengan demikian, menjadi patut untuk kita pikirkan dengan memberi perhatian dalam usaha restorasi/perbaikan paradigma pikir mahasiswa saat ini ialah dengan mendahulukan segala hal berkaitan dengan pelurusan paradigma pikir atau cara pandang. Berpijak dari adanya kecenderungan mahasiswa diposisikan subordinat oleh oknum tertentu dengan mempergunakan celah yang a da ataupun memang karena ketidakmampuan kita selaku mahasiswa untuk bersikap sebagaimana mestinya. Tidak diragukan lagi bahwa kita memerlukan suatu landasan yang sangat kuat untuk melakukan perbaikan di internal kemahasiswaan kita. Salah satu unsure terpenting pada kekuatan mahasiswa adalah pemikiran.
    Paradigm berfikir adalah kecenderungan manusiawi yang dinamis, ia dapat memengaruhi siapa saja, ia dapat menguatkan, dan dapat pula melemahkan. Apapun yang terjadi di dalam hidup kita mmerupakan realisasi dari pikiran kita yang dominan. Karenanya kita adalah hasil dari apa yang kita pikirkan. Oleh karena itu, upaya perbaikan terhadap pemikiran mahasiswa yang hedon dan jahiliah menjadi pemikiran yang idealis progresif adalah suatu kewajiban sehingga cahaya penegakkan jalan kebenaran senantiasa merupakan keniscayaan. Karena sangat tidak masuk akal, bahwa amal perbuatan dapat meneliti jalan yang benar, kalau pemikirannya saja tidak lurus. Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair “Bilakah bayangan akan lurus kalau tongkatnya bengkok?” atau sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Buddha “pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk”.
    Apabila kita kembali menilik historigrafi perubahan radikal, tak satupun revolusi di dunia yang tidak berawal dari perubahan pemikiran, paradigm, atau visi. Dan untuk mengubahnya adalah dengan melalui pembacaan ulang. Sebab pemikiran akan berubah apabila ada bacaan baru atau informasi baru yang dipadukan dengan informasi yang berbeda dengan sebelumnya. Dapat dipetik pelajaran, mengapa wahyu yang pertama turun adalah surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5 berisi perintah membaca. Begitu juga yang semestinya menjadi pilihan kita selaku mahasiswa saat ini ingin melakukan revolusi ataupun gerakan lainnya yang sifatnya perbaikan adalah dengan cara melakukan pembacaan ualang terhadap kelamahan mahasiswa selama ini. Dan tak dapat dipungkiri bahwa penyakit akut yang mendera adalah pola pikir yang telah terkontaminasi virus-virus jahiliah instans culture/pop atau hedonism. Pola pikir inilah yang meski diberangus. Karena bagaimana pun juga, siapapun yang pandangannya tidak baik terhadap suatu perkara, maka perilakunya yang berkaitan dengan perkara itu juga tidak akan baik. Karena sesungguhnya perilaku itu sangat dipengaruhi oleh pandangannya, baik ataupun buruk.
    Atas dasar itu, pertarungan pemikiran (ghozwul fikri) yang senantiasa bergulir dan berusaha untuk didominasi Neoliberalisme menjadi mesti untuk kita menangkan, maka urgensi pelurusan pemikiran yang menyimpang, dan konsep-konsep yang tidak benar menemukan relevansinya untuk diberi prioritas dan didahulukan oleh perkara yang lain. Hal ini digolongkan sebagai perang besar melawan kezaliman sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat Al-Furqan.
      Dengan demikain, suatu hal yang mendesak untuk digalakan secara massif tentang upaya restorasi/perbaikan paradigm pikir mahasiswa dalam kaitannya dengan penciptaan atmosfer kehidupan kampus yang ilmiah dan religius.
Kelompok Mahasiswa
    Mahasiswa sebagaimana masyarakat tidaklah homogeny. Dalam konteks perubahan paradigma pikir, setidaknya ada tiga kelompok mahasiswa. Pertama, Intelektual Progresif. Kelompok mahsiswa ini merupakan bagian mahasiswa yang memiliki kualitas tinngi. Mereka memahami betul visi, misi, dan tujuan menjadi mahasiswa. Pemikiran dan metode apa yang ditempuh dalam melakukan perubahan menuju tegaknya kebenaran demikian jelas di benak dan jiwanya. Mrekalah kader, perintis, sakaligus pejuang garis depan yang mengusung perjuangan untuk terpraktisikannya kalam-kalam kebanaran. Umumnya mereka sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan jumlah mahasiswa secara keseluruhan.
    Kedua, Moralis Empatitis. Mereka adalah kelompok mahasiswa yang bukan ujung tombak perubahan. Mereka bukanlah kader perubahan, namun memiliki semangat dan dorongan untuk melakukan perubahan. Ketika opini menggiring mereka untuk mengganti sistim kapitalisme misalnya, kelompok mahsasiswa ini akan mendukungnya karena mereka mempunyai daya rasa yang sensitif untuk membela yang terampas haknya. Dalam waktu tertentu mereka menjadi masa mengambang apabila tanpa ada dorongan dari luar dirinya, namun momen tertentu bisa menjadi masa ideologis apabila besama kelompok mahasiswa intelektual progresif.
    Ketiga, Hedonis. Berbeda dengan kedua kelompok mahasiswa di atas, mahasiswa hedonis tidak memiliki orintasi perjuangan. Bagi mereka yang penting adalah kondisi aman dan perut kenyang. Kondisi comfort zone  adalah keadaan yang mereka gandrungi. Ketika penguasaannya menerapkan peraturan yang menindas, mereka ikut, kala penguasanya menerapkan kapitalisme, mereka pun setuju. Saat kawa-kawan mahasiswanya yang lain berjuang, mereka akan mendukung tapi hanya dengan niatan untuk sekadar mengisi waktu luang, bukan sebagai sesuatu yang seharusnya dilakukan. Tidak bisa disangsikan, di lingkup kelokalan mahasiswa, kelompok ini umumnya mayoritas.
    Berdasarkan strukutur mahasiswa seperti itu, perbaikan paradigm pikir itu dilakukan terhadap pelaku utama  (mahasiswa intelektual progresif) dan pelaku pendukung (mahasiswa moralitas empatitik dan hedonis). Pendekatan terhadap  keduanya berbeda. Untuk para kader (mahasiswa yang telah terdaftar sebagai anggota biasa pada structural BEM ataupun UKM) pembentuknya lewat pembinaan intensif. Sebaliknya, perbaikan paradigma pikir pada kelompok mahasiswa lainnya sulit ditempuh lewat pembinaan intensif. Di samping tidak mungkin setiap orang dibina, juga tidak setiap orang siap untuk dibina. Karenanya, untuk menanamkan paradigma pikir yang ideal pada mereka, dilakukan dengan pembinaan umum.
    Cahaya dengan terus mengembangakan opini umum, bukan sekadar opini, melainkan opini yang dibangun di atas  kesadaran umum. Tanpa opini, kelompok mahasiswa yang memiliki kesadaran dan melakukan perubahan hanyalah sedikit. Itupun akan ditentang oleh bagian masyarakat yang tidak paham akan kebaikan perubahan yang dibawanya, apabila ada opini yang menyudutkannya. Di sinilah letak pentingnya opini umum. Dalam hal ini, bukan mahasiswa itu sendiri yang mempunyai tanggung jawab, tetapi seluruh citivas akademika kampus mesti turut serta termasuk di dalamnya birokrasi dengan amanah jabatannya dan dosen dengan otoritas mengajarnya yang idealnya bukan hanya memprioritaskan pembangunan kognitif tapi juga perbaikan paradigma pikir mahasiswa, misalnya dengan membangun opini di kampus bahwa aktivis tawuran adalah musuh bersama dan siapapun yang terlibat di dalamnya adalah penghianat-penghianat mahasiswa, mengingat aktivitas inilah yang paling ampuh mendiskreditkan integritas mahasiswa di masyarakat dan melemahkan  gerakan mahasiswa. Hal ini merupakan salah satu selain masih banyak problem lainnya.
     Pada sisi lain, perubahan paradigma pikir mahasiswa bukan semata-mata ditujukan agar kebenaran ditegakkan, melainkan juga demi lestarinya nilai-nilai kebenaran tersebut. Siapa yang mesti menggawanginya? Tidak cukup hanya sekadar sata atau dua kelompok mahasiswa. Yang harus menggawanginya adalah mahasiswa itu sendiri. Hal ini tidak akan terjadi jika opini yang berkembang bukanlah opini yang mendukung mahasiswa. Lagi-lagi, pembentukan opini menjadi suatu perkara yang mutlak dalam perubahan paradigma pikir mehasiswa menuju cita idealitasnya. Pembentukan opini yang demikian merupakan salah satu metode yang ditempuh sang revolusioner sejati Nabi Muhammad saw. Dulu, ketika di Makkah, Rasulullah saw. membina para sahabatnya di rumah Arkam bin Abil Arqam secara intensif. Para sahabat pun saling membina satu sama lain di rumah-rumah mereka.
    Selain itu, Rasul saw. membentuk  opini umum dengan mengundang berbagai suku di bukit Shafa, atau mengundang makan sanak family dan kerabat-kerabatnya di rumah, lalu menyampaikan dakwah kepada mereka. Rasul saw. melakukan pembinaan intensif sekaligus pembinaan umum lewat pembentukan opini.  Kalau pembentukan kader melalui pembinaan intensif diibaratkan sayap kanan, maka pembentukan opini umum sebagai agitasi propaganda merupakan sayap kirinya.
Pecundang Bukan Pilihan   
Harus diakui, tak bisa disangsi bahwa perang pemikiran ini setidaknya sampai saat ini, terkadang dimenagkan oleh oknum-oknum yang ingin agar gerakan mahasiswa stagnan dan terkungkung dalam kesalahan. Para Thogut (anti kebenaran) menuai untung, kita yang terhempas. Tentuntan  tidak ingi kondis ini member kita beban yang begitu berat. Jadi, saatnya kita bangkit dari keterpurukan ini. Hiidup jadi pecundang tidak saja menyakitkan, tetapi juga terhina total. Itu sebabnya, kita tetap waspada dengan kondisi ini. Waspada dalam pengertian tidak mudah tergoda dengan budaya baru yang kontra dengan prestise agent of change, Agent of Social Control dan iron stoke. Dengan kata lain, pandai memilih dan memilah. Kita harus dalam menilai budaya tersebut sebagi lawan, bukan yang lain. Sebagai manusia kita adalah satu-satunya makhluk hidup di dunia ini yang memiliki kemampuan berfikir mengenai proses berfikir. Istilah teknisnya adalah metakignisi. Tidak sedikit mahasiswa yang tidak sadar, tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau bahkan tidak mau tahu bahwa mereka sebenarnya terjerambab ke dalam paradigma pikir yang hedon. Dan sebab itu, mereka tidak pernah sadar bahwa seumur hidup mereka telah menjadi budak atau hamba dari pikiran mereka sendiri.
Kampus Ilmiah dan Religius
Menurut Al-Gazali, ilmiah (berasal bahasa Arab ‘ilmy) dimaknai sebagai suatu aqly (bersiat akal) yang lebih tinggi sifatnya dari dua tingkat pengetahuan di bawahnya. Dua pengetahuan di bawahnya yaitu pertama adalah pengetahuan takliqy (otoriter, bersifat pedagogis). Tingkat pengetahuan yang kedua adalah pengetahuan inderawi, yaitu pengetahuan yang dapat dijelaskan dengan bantuan/ pembuktian panca indera. Kampus yang ilmiah adalah kampus yang segala halnya lebih mengedepankan pemahaman/pengertian yang objektif tentang suatu hal yang bbersifat logis (dapat diterima akal/rasio/penalaran/pikiran). Sedagkan religious dalam pengertiannya yang lebih progresif dan militant adalah keadaan dimana perjuangan melawan hawa nafsu adalah kelaziman, baik hawa nafsu di luar diri seperti kkeserakaha dan kebejatan system dan struktur maupun hawa nafsu dalam diri seperti paradigma pikir hedois dan sebagainya sebagai sebuah antitesa ketidakadilan dan kebatilan yang mesti dilawan dengan logika, etika, dan cinta. Ilmiah dan religius, tatanan kampus inilah yang berusaha untuk kita realisasikan.