welcome

Kamis, 31 Mei 2012

PENGGUNAAN GAYA BAHASA PERBANDINGAN DAN PERTENTANGAN DALAM KORAN KENDARI POS, EDISI JUMAT, 2 SEPTEMBER 2011

TUGAS BAHASA JURNALISTIK

PENGGUNAAN GAYA BAHASA PERBANDINGAN DAN  PERTENTANGAN DALAM KORAN KENDARI POS, EDISI JUMAT, 2 SEPTEMBER 2011







OLEH
ARIFIN
A1D1 09 069



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011



KATA PENGANTAR
       Tiada kata yang layak kita haturkan selain mengucap rasa syukur kepada Allah SWT atas segala Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya, walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana.
        Semakin ketatnya persaingan di kalangan media cetak membuat para jurnalis harus bisa menggunakan bahasa yang menarik agar media mereka laku di pasaran. Makalah ini berjudul AnalisisMembandingkan Gaya Bahasa Perbandingan dan Gaya Bahasa Pertentangan Dalam Koran Kendari Pos Edisi Jumat, 2 September 2011.
        Penulisan makalah ini banyak dibantu oleh berbagai pihak. Oleh karen itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen mata kuliah bahasa Jurnalistik yang telah memberikan arahan dan pemahaman, kepada teman-teman dan semua pihak yang telah memberikan semua kontribusinya terhadap penulisan makalah ini.
       Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik konstruktif diperlukan menuju ke arah yang lebih baik dan kesempurnaan. Akhir kata, semoga makalah ini nantinya dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan dinilai ibadah dalam pandangan Allah SWT, Amin.
                       
                                                                                                            Kendari,   November 2011

                                                                                                            Penulis

DAFTAR ISI

                                                                                                      Halaman
HALAMA JUDUL............................................................................................   
KATA PENGANTAR......................................................................................   i
DAFTAR ISI......................................................................................................   ii
BAB 1 PENDAHUKUAN
1.1    Latar Belakang...................................................................................   1
1.2    Rumusa Masalah...............................................................................    2    
1.3    Tujuan Penelitian...............................................................................   3  
1.4    Manfaat Penelitian.............................................................................   3
1.5    Ruang Lingkup..................................................................................   3
BAB II PEMBAHASAN
    2.1 Pengertian Gaya Bahasa....................................................................   4
    2.2 Jenis Gaya Bahasa.............................................................................   4
          2.2.1   Gaya Bahasa Perbandingan....................................................   5
              1.  Perumpamaan...................................................................   5
              2.  Metafora...........................................................................   6
        3.  Personifikasi.....................................................................  6
    4.  Depersonifikasi................................................................   7
    5.  Alegori.............................................................................   7
    6.  Antitesis...........................................................................   7
    7.  Pleonasme dan taitologi...................................................   8
    8.  Perifrasisi.........................................................................   8
    9.  Antisipasi.........................................................................   9
                10.  Koreksio..........................................................................   9
2.2.2    Gaya Bahasa pertentangan...................................................   9
1.    Hiperbola..........................................................................   9
2.    Litotes..............................................................................   10
3.     Ironi.................................................................................   10
4.    Okimoron.........................................................................  10
5.    Satire................................................................................  11
6.    Inuendo............................................................................   11
7.    Antifrasisi........................................................................   11
8.    Paradoks..........................................................................   12
9.    Klimaks............................................................................  12
10.    Antiklimks .......................................................................  12 
11.    Sinisme.............................................................................  12
12.    Sarkasme..........................................................................  13
2.3     Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa dalam koran Kendari Pos,
 edisi    Jumat, 2 September 2011.......................................................  13
  2.3.1    Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa Perbandingan Dalam
              Koran Kendari Pos, Edisi Jumat, 2 September 2011............  13
1.    Gaya Bahasa Metafora....................................................   13
2.    Gaya Bahasa Tautologi....................................................  14
3.    Gaya Bahasa Pleonasme..................................................  15
2.3.2    Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa Pertentangan  Dalam
Koran Kendari Pos, Edisi Jumat, 2 September 2011...........      15
1.    Gaya Bahasa Hiperbola..................................................   15
2.    Gaya Bahasa Ineundo.....................................................  16
BAB III PENUTUP
3.1    Kesimpulan................................................................................  17
3.2    Saran..........................................................................................  17

DAFTAR PUSTAKA




BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
    Gaya bahasa adalah bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Secara singkat penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale, 1971 : 220; Guntur Tarigan, 2009 : 4). Gaya Bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak atau pembaca (Guntur Tarigan, 2009 : 4).

       Sehubungan dengan hal tersebut Toeti Adhitama (1978 : 33) mengatakan bahwa supaya komunikasi dapat efektif, pembicara (penulis) selain harus menghayati apa yang harus dikemukakannya ia juga harus trampil menggunakannya. Ia bukan harus menguasai tata bahasanya tetapi juga harus peka terhadap gaya bahasa yang dipilihnya.

        Secara singkat dapat dikatakan bahwa “gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut: kejujuran, sopan-santun, dan menarik (Keraf, 1985: 113). Kejujuran dalam bahasa berarti kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Pemakaian kata-kata yang kabur dan tak terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit adalah jalan untuk mengundang ketidakjujuran. Sedangkan yang dimaksud dengan sopan santun adalah memberi hormat atau menghormati yang diajak bicara, khususnya pendenganr atau pembaca. Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkatan. Menyampaikan sesuatu secara singkat dan jelas berarti  tidak membuat pembaca dan pendengar memeras keringat untuk mencari tahu apa yang ditulis atau katakan.

         Fungsi penggunaan gaya bahasa yaitu bila dilihat dari fungsi bahasa, penggunaan gaya bahasa termasuk ke dalam fungsi puitik yaitu menjadikan pesan lebih berbobot. Pemakaian gaya bahasa yang tepat (sesuai dengan waktu dan penerima yang menjadi sasaran) dapat menarik perhatian penerima. Sebaliknya, bila penggunaannya tidak tepat, maka penggunaan gaya bahasa akan sia-sia belaka, bahkan mengganggu pembaca.

          Dalam koran banyak kita jumpai ragam gaya bahasa. Koran tidak hanya sekadar memberikan sebuah informasi kepada pembaca, akan tetapi koran juga bisa menjadi media pembelajaran gaya bahasa bagi para pembaca.  Secara tidak sadar bahasa yang dalam dalam koran dapat mempengaruhi tingkat perkembangan bahasa seseorang, khususnya pengetahuan tentang gaya bahasa. Menyadari pentingnya pemahaman gaya bahasa dalam koran, maka penulis mencoba meneliti penggunaan gaya bahasa dalam koran, khususnya membandingkan gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan dalam koran Kendari Pos edisi Jumat, 2 September 2011.

1.2          Masalah
         Berdasarkan  uraian latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka yang menjadi  masalah dalam  makalah ini adalah Bagaimanakah penggunaan gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011?

1.3    Tujuan
     Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini yaitu untuk mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011.

1.4   Manfaat
        Manfaat yang diharapkan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagi penulis, yaitu untuk memperoleh pemahaman kajian ilmu kebahasaan khususnya gaya bahasa perbandingan dan pertentangan, sehingga bisa lebih baik lagi dalam hal teoritik  dan praktiknya.
2.    Bagi pembaca, yaitu untuk memperoleh pemahaman kajian ilmu kebahasaan khususnya gaya bahasa perbandingan dan pertentangan, sehingga bisa lebih baik lagi dalam hal teoritik  dan praktiknya.
3.    Bagi media cetak, yaitu untuk memberikan masukan tentang penggunaan gaya bahasa agar dalam penggunaannya lebih tepat dan lebih sempurna,

1.5    Ruang Lingkup
Ruang lingkup makalah ini adalah gaya bahasa perbandingan dan pertentangan dala koran Kondari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011, pada kolom berita utama dan opini.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Pengertian Gaya Bahasa
        Gaya bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis; pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek tertentu; keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra; cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan (Depdikbud, 1995: 297).

   Gaya bahasa adalah bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Secara singkat penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale, 1971:220; Guntur Tarigan,2009 : 4). Secara singkat (Guntur Tarigan, 2009 : 4) mengemukakan bahwa gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak atau pembaca. 

       Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah pengaturan kata-kata oleh penulis dalam mengekspresikan ide, gagasa, dan pengalamannya untuk mempengaruhi dan meyakinkan para pembaca.
Bahasa dalam koran kadang menggunakan bahasa yang “bersayap,” cenderung konotatif dan ambigu (bermakna lebih dari satu). Bahasa ambigu membuat koran menjadi tidak kering. Penggunaan bahasa “bersayap’ disebut juga dengan majas (Depdiknas, 2005:89).

2.2       Jenis-Jenis Gaya Bahasa
      Dalam kaitannya dengan gaya bahasa yang berlaku di Indonesia, gaya bahasa dapat ditinjau dari bermacam-macam sudut pandang. Guntur Tarigan (2009 : 5-6) membedakan gaya bahasa menjadi empat, yaitu (1) gaya bahasa perbandingan , (2) gaya bahasa pertentangan, (3) gaya bahasa pertautan, dan  (4) gaya bahasa perulangan. Akan tetapi yang fokus  terhadap gaya bahasa dalam pembahasan ini adalah pada gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan.

2.2.1    Gaya Bahasa Perbandingan
        Sesuai dengan namanya, gaya bahasa perbandingan mencoba membandingkan dua hal yang sama atau dua hal yang berbeda. Dengan gaya bahasa perbandingan, kita akan mengetahui unsur-unsur apa saja yang dianggap sama, dan unsur-unsur apa pula yang dianggap berbeda atau bahkan bertentangan satu sama lain. Menurut Henry Guntur Tarigan, gaya bahasa perbandingan mencakup sepuluh jenis: (1) perumpamaan, (2) merafora, (3) personifikasi, (4) depersonifikasi, (5) alegori, (6) antitesis, (7) pleonasme dan tautologi, (8) perifrasisi, (9) antisipasi, dan (10) koreksio.

1.  Perumpamaan
         Gaya bahasa perumpamaan adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berbeda sehingga dianggap memiliki unsure-unsur persamaan yang diantara keduanya. Dalam bahasa latin, perumppamaan disebut simile yang bermakna seperti. Menyebut sesuatu dengan seperti,  bererti sifat-sifat atau cirri-ciri pokok yang melekat pada sesuatu yang akan dibandingkan, seolah disamakan sehingga menjadi tidak tampak.
         Para jurnalis hanya dapat menggunakan gaya bahasa perumpamaan ini ketika menulis tajuk rencana, arikel, kolom, berbagai jenis cerita khas berwarna (feature), catatan perjalanan, atau pelaporan mendalam.
Contoh:
        penjahat itu licik seperi belut, rakus seperti  monyet.bagai air di daun talas.

2.    Metafora
     Metafora adalah pemakain kata-kata bukan arti yang sebenarya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan (Poerwadarminta, 1976:648). Metafora adalah sejenis gaya bahasa perbandingan yang singkat, padat, tersusun rapi. Di dalamnya terlihat dua gagasan. Gagasan yang pertama adalah suatu kenyataan, sesuatu yang dipikirkan, sesuatu yang menjadi objek. Gagasan yang kedua merupakan pembanding terhadap kenyataan pertama tersebut (Tarigan, 1983:14: 1985:183).
Contoh:
Anak emas, buah bibir, buah tangan. Gudang ilmu, surga dunia, airmata buaya, dll.

3.  Personifikasi
        Secara etimologis, personifikasi berasal dari bahasa latin, persona yang berarti orang, pemain, pelaku, actor, subjek, atau topeng dalam permainan drama atau sandiwara. Menurut Edgar dale, dengan gaya bahasa personifikasi, kita memberikan ciiri-ciri atau kualitas pribadi seseorang kepada  gagasan atau benda-benda tidak bernyawa sehingga benda-benda tidak bernyawa itu seolah-olah menjadi hidup atau  bernyawa seperti layaknya manusia (Dale, 1971:221).

    Dalam redaksi yang berbeda, personifikasi adalah gaya bahasa perbandingan yang mengandaikan benda-benda mati, termasuk gagasan atau konsep-konsep yang abstrak, berprilaku seperti manusia yang bisa menggerkkan seluruh tubuhnya, berkata-kata, bernyanyi, bersiul, berlari, manari, melihat, dan sebagainya.
    Personifikasi lebih tepat digunakan untuk karya-karya jurnalistik yang sifatnya sotf news.
Contoh:
        Nyiur melambbai, mentari mencium tubuh gadis itu.


4.    Depersonifikasi
        Depersonifikasi mengandaikan manusia atau segala hal yang  hidup, bernyawa, seolah benda-benda mati yang kaku beku, tidak bias mellihat, mendengar, mencium, menggerakan tubuhnya.
Contoh:
    Dari tadi kakek tua itu mematung, wajah gadis itu membeku.

5.    Alegori
    Alegori berasal dari bahasa Yunani, Allegorein, yang berarti bicara secara kias atau bicara dengan menggunakan kias. Alegori adalah cerita yang dikisahkan dalam lambing-lambang, tempat atau wadah pbjnek-objek atau gagasan yang diperlambangkan. Alegori biasanya mengandung sifat-sifat moral atau spiritual manusia.
   
6.   Antitesis
    Antithesis berarti lawan yang tepat atau pertentangan yang sebenarnya (Poerwadarminta, 1976:52). Antithesis adalah sejenis  gaya bahasa yang mengadakan perbandingan antara dua antonim yaitu kata-kata yang mengandung cirri-ciri semantic yang bertentangan (Ducrot dan Todorow, 1981:277 dalam Tarigan, 1985:27).

     Antitesis membuat laporan jurnalistik yang sifatnya fakktual, menjadi seolah-olah karya fiksi yang sifatnya imajisional. Artinya sangat sarat dengan lukisan suasana serta pengembangan karakter khas dari para pelaku yang terlibat dalam cerita itu.
Contoh:
     Dia bersuka cita kalau aku dipenjara, kencantikannyalah yang membawa           dirinya ke lembah nista.


7.  Pleonasme dan Tautologi
    Pelonasme adalah pemakain kata mubazir atau berlebihan yang sebenarnya tidak perlu (Poerwawadarminta, 1976:76). Suatu acuan disebut pleonasme apabila kata yang berlebihan itu dihilangkan (Keraf, 1985:133). Pleonasme bisa juga merupakan penegasan terhadap suatu kata atau konsep yang sudah tegas dan jelas. Sedangkan tautologi adalah penegasan terhadap suatu hal yang mengandung unsure perulangan tetapi dengan menggunakan kata-kata yang lain. Bahasa jurnalistik tidak menyikai pleonasme dan tautologi karena keduanya bertentangan dengan prinsip keringkasan dan kelugasan.
Contoh pleonasme:
    Rector baru akan tiba pukul 06.00 sore. Hanya harga kentang dan cabai merah yang sudah lagi turun ke bawah.
Contoh tautologi:
Darah merah itulah yang melumuri wajahnya, para pengungi menerima bantuan satu ton atau seribu kg beras dari pemerintah provsinsi

8.  Perifrasis
        Perifrasisi adalah gaya bahasa yang mirip dengan pleonasme, kedua-duanya menggunakan kata-kata lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Pada gaya bahasa perifrasis, kata-kata yang berlebihan itu pada prinsipnya dapat diganti dengan sebuah kata saja (Keraf, 2004:134).
Contoh:
    Setelah dirawat selama tiga pekan di rumah sakit, mantan pejuang yang sangat dicintai keluarganya itu akhirnya beristirahat dengan tenang utnuk selama-lamanya (menungal dunia).

9.   Antisipasi (Proolepsis)
    Kata antiisipasi berasal dari bahasa latin anticipatio yang berarti mendahului atau penetpan yang mendahului tentang suatu yang masih akan dikerjakan atau akan terjadi (Shadily, 1980:234).
Contoh:
Tiga hari sebelumnya, gadis malang itu masih sempat ke salon di dekat rumah untuk potong rambut.

10.    Koreksio
    Koreksio adalah gaya bahasa yang berwujud semula inngin menegaskan sesuatu. Tetapi kemudian memeriksa dan memp[erbaikinya mana yang salah (Tarigan, 1985:34-35).
Contoh:
laki-laki pemulung itu pun mencinatai, eh meniduri, sang nenek separuh  bayah ini hingga subuh.

2.2.2    Gaya  Bahasa Pertentangan
        Gaya bahasa pertentangan membandingkan dua hal yang berlawanan atau bertolak belakang. Menurut Pof.Henry Guntur Tarigan, gaya bahasa pertentangan semuanya terdiri dari 20 jenis. Dari 20 jenis gaya bahasa tersebut, dintaranya: (1) hiprbola, (2) litotes, (3) ironi), (4) oksimoron, (5) satire, (6) ineundo, (7) antifrasis, (8) paradoks, (9) klimaks, (10) antiklimaks, (11) sinisme, dam (12) sarkasme (Tarigan, 1985:55-85).

1.    Hiperbola
       Hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang melebih-lebihkan jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
Contoh:
Sedikitnya 120 rumah rata dengan tanah disapu badai.

2. Litotes
       Litotes adalah majas yang dalam pengungkapannya menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif atau bentuk yang bertentangan. Litotes mengurangi atau melemahkan kekuatan pernyataan yang sebenarnya (Moeliono, 1984:3). Menurut Tarigan (1985:58) litotes adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang dikecil-kecilkan, dikurangi dari kenyataan yang sebenarnya, misalnya untuk merendahkan diri.
Contoh:
Jika ada waktu singgahlah ke  gubuk saya padahal rumahnya seperti istana), saya memang menjadi juara tetapi dia tetap labih baik (padahal tiga kali juara dunia).

3.  Ironi
        Ironi ialah majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud berolok-olok. Maksud ini dapat dicapai dengan mengemukakan tiga hal: (1) makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya, (2) ketidaksesuaian antara suasana yang diketengahkan dengan kenyataan yang mendasarinya, dan (3) ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan.
 Contoh:
Bandung adalah kota kembang yang penuh sampah; bagus benar prestsinya, tiga kali naik ring, tiga kali terkapar.

4.  Oksimoron
      Oksimoron adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung penekanan atau pendirian suatu hubungan sintaksis baik koordinasi maupun determinasi, antara dua antonim (Ducrot dan Todorow, 1981:278).
Contoh:
    Terjun payung adalah olahraga beresiko, tetapi eksekutif muda itu sangat menyukainya.

5.  Satire
      kata satire diturunkan dari kata satura berarti talam yang penuh berisi buah-buahan. Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Bentuk ini tidak harus bersifat ironis. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia. Tujuan utamanya adalah agar diadakan perbaikan secara etis dan estetis (Keraf, 1985:144; 2004:144).
Contoh:
    Mari kita belajar dari koruptor yang dermawan; Indonesia surga narkoba.
    Ajari kami untuk pandai menipu rakyat.


6.  Inuendo
      Inusndo adalah sejenis gaya  bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenrnya. Gaya bahasa ini menyatakann kritik dengan sugesti langsung dan sering tampaknya tidak menyakitkan hati kalau ditinjau sambil lalu saja (Keraf, 1985:144).
Contoh:
     Pidatonya disambut dingin karena tidak menyinggung kenaikan gaji.

7.   Antifrasis
        Antifrasisi adalah gaya bahasa yang berupa penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya.
Contoh:
Inilah pahlawan kita (padahal pneghianat)

8. Paradoks
     Paradox adalah suatu pernyataan yang bagaimanapun diartiakan selalu berakhir dengan pertentangan (shadily, 1984:2552). Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya (Keraf, 1985:136; 2004:136).
Contoh:
Dia menderi dalam kelurga bahagia; mantan pejabat itu merasa bahagia setelah masuk penjara.

9.  Klimaks
     Klimaks adalah sejenis gaya bahasa yang berupa susunan yang makin lama makin mengandung penekanan. Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang brsifat periodik. Kimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya (Keraf, 1985:124; 2004:124).
Contoh:
Datang, berjuang, menang; Balita, remaja, dewasa,  manula.

10. Antiklimaks
      Antiklimaks adalah suatu acuan yang berisi gagasan-gagasan tang diurutkan  dari yang terpenting berturut-turut kegagasan yang kurang penting. Gaya bahasa antiklimaks dapat digunakan sebagai suatu istilah umum yang masih mengenal spesifikasi lebih lanjut, yaitu dekrementum, katabasis, dan batos.

11.  Sinisme
        Sinisme adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati.

Contoh:
Apa yang tidak bisa Anda beli? Jangankan mobil dan rumah mewah, istri orang lain pun Anda sikat. Bahkan Negara ini besok lusajadi milik Anda. Kalau mau, Ana juga bis menyebut diri sebagai Tuhan.

12.  Sarkasme
        Sarkasme adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung olok-olok atau sindiran pedas dan menyakiti hati (Poerwadarminta, 1976:874).
Contoh:
perbuatan kakek tua ini, mungkin sama dengan setan yang suka gentayangan tengah malam.

2.3    Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011
         Berdasarkan hasil analisis, maka gaya bahasa yang terdapat dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011 yaitu gaya bahasa metafora, pleonasme, tautologi, hiperbola, dan ineundo.

2.3.1    Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa perbandingan dalam koran Kendari    Pos, edisi Jumat, 2 September 2011
Berdasarkan hasil analisis, maka gaya bahasa perbandingan yang terdapat dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011 yaitu gaya bahasa metafora, pleonasme, tautologi.

1.     Gaya Bahasa Metafora
      Penggunaan majas merafora dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya berjumlah 12.
Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas metafora pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:
1)    Kesepakatan lima bakal calon gubernur dari partai Golkar yang mereka teken di depan Ketua Umum DPP Golkar, Aburizal Bakri, akhir Juli lalu ternyata mengisahkan sedikit cerita sumbang.
2)    Ketua Kolkar Sultra, Ridwan BAE tak mau isu itu menjadi bola liar dan jadi konsumsi rival politik partai ini di masyarakat.
3)    Selamat berjuang garuda.
4)    Se-Indonesia sepantasnya mendukung perjuangan anak-anak garuda agar pengorbanan mereka mendapatkan hasil yang maksimal.
5)    Sehingga mampu membuat seluruh warga negara bangga akan garuda.
6)    ... sebagai buah manis dari reformasi pemerintahan yang telah berhasil diletakkan secara gradual sejak tumbangnya rezim pemerintahan orde baru.
7)    ....pemilihan langsung sebagaimana telah dipraktikan selama ini di bawah payung hukum Undang-Undang No. 32 Tahun 2004.
8)    Dalam iklim pembangunan sistem demokrasi pemerintah untuk tegaknya negara hukum.
9)    ... secara kreatif, dinamis, dan integral di bawah payung konstitusi.
10)    ... menyemburkan aroma miskin koordinasi dalam kabinet pemerintahan Presiden SBY, yang makin membingungkan rakyat.
11)    Dalam konteks ini kita sepatutnya bangga atas loncatan jauh yang telah kita capai dalam kehidupan berdemokrasi...

2.        Gaya Bahasa Pleonasme
    Penggunaan majas pleonasme dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya hanya satu.
Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas pleonasme pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:
1)    Ribuan warga yang mengikuti shalat ied dimaksud terlihat tetap khusu menunaikan shalat dan antusias mendengarkan khotbah shalat ied yang disampaikan oleh Gubernur Nur Alam.
3.         Gaya Bahasa Tautologi
Penggunaan majas tautologi dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya hanya satu.
Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas tautologi pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:
1). Tentu yang kita inginkan adalah kemenangan atas Iran, minimal mendapatkan satu poin alias bisa menahan imbang tuan rumah yang ditempatkan pada unggulan pertama Group E  Zona Asia.

3.2    Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa Pertentangan dalam koran Kendari     Pos, edisi Jumat, 2 september 2011
Berdasarkan hasil analisis, maka gaya bahasa pertentangan yang terdapat dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011 yaitu gaya bahasa hiperbola dan gaya bahasa ineundo.

1.           Gaya Bahasa Hiperbola
        Penggunaan majas hiperbola dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya berjumlah enam.
     Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas hiperbola pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:
1).  Memang, sejak tenggelam pada sabtu dini hari lalu, Suhariyah menumpang di atas kapal fery naas tersebut dan hingga kini belum ditemukan, termasuk satu ajudannya bernama Suryani.

2).  Kasus suap di tubuh Kemenaketrans semakin memanas.

3).  Nama menaketrans Muhaimin Iskandar semakin santer disebut –sebut terlibat dalam kasus suap dikemenaketransnya.
4).  Pemain harus berjibaku di atas lapangan menghadapi Iran, yang akan di helat malam nanti.
5). Namun mengatasinya dengan merubah mekanisme pemilihan gubernur dengan menariknya dari tangan rakyat sama halnya dengan pelecehan atas kedaulatan....
6).  ... bukan sebaliknya hukum digunakan untuk memasung hak-hak rakyat untuk berpartisipasi dalam sistim pemerintahan yang demokrasi itu.
2.         Gaya  Bahasa Ineundo
Penggunaan majas ineundo dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya hanya satu.
Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas ineundo pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:

1). Hasilnya, seperti kita sudah ketahui semua, dalam laga uji coba itu, Indonesia ditekuk 1-0 oleh tim lawan, dan diperparah dengan cederanya kiper Fery Rotinsulu.





BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
     Berdasarkan temuan data dalam menganalisis penggunaan gaya bahasa dalam koran Kendari Pos, edisi 2 September 2011 dapat disimpulkan sebagai berikut:
Jumlah seluruh penggunaan gaya bahasa dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 adalah 21majas, terdiri dari: (a) majas perbandingan berjumlah 14, meliputi penggunaan majas metafora (12), pleonasme dan tautologi masing-masing satu. (b) majas pertentangan berjumlah tujuh, meliputi penggunaan majas hiperbola (6), dan majas ineundo satu. 

3.2    Saran
      Sehubungan dengan hasil penelitian ini, sejumlah saran penulis kemukakan Kepada Peneliti Selanjutnya, agar hasil penelitian ini bisa menjadi acuan penelitian lebih lanjut serta dengan mengembangkan kemungkinan-kemungkinan terhadap unsur-unsur kebahasaan yang lainnya.









DONGENG JENAKA DAERAH MUNA

OLEH
ARIFIN
AKABHO-KABHONGO
        Akabho-kabhongo ini notuduemo inano nakumala naegholi ghohia, sadaeghohiagho roono sau. Maanano sadaeghohiaghoo kadada. Nokalamo akabho-kabhongo, norato kaawu we daoa negholimo ghohia. Pada negholi, nosulimo we lambu. Nando we sala, akabho-kabhongo iano nowura roono sau nokamburuiane ghohia, sampe nowolo hohiano, neghohiaane roono sau we kangkaha. Norato kaawu we lambu nofenaemo inano akabho-kabhongo.
Ina            : Hamaiemo ghohia kagholimu kabho-kabhongo?
Kabho-kabhongo     : Ingka padamo aeghohia ane roono sau we sala.
Ina            : Anagha sohae omeghohinegho roono sau?
Kabho-kabhongo    : Ambamu anini, otudu kanau aeghoLi ghohia sadaeghohiagho roono sau. Dadihanomo awura roono sau akamburuianemo ghohia.
Ina    : kabhoremu ihintu ini keda, patudhuku aniini sadaeghohiagho kadada kune ghane.
       Pada kaawu anagha, Akabho-kabhongo notuduemo tora inano nakumala naegholi tagambiri. Gara Akabho-kabhongo mina namandehane medano hae tagambiri nagha. Nofenamo inano, ambano medano hae ga otagambiri nagha Ina? Ambano inano somura madea-deano peda kaedehano adhara, medanomo aitu otagambiri.
       Nokalamo akabho-kabhongo, bhenekala-kala nobisa-bisara aegholi tagambiri, aegholi tagambiri, aegholi tagambiri, aegoli tagambiri. Mina nasesehae notitunomo Akabho-kabhongo. Aitu nolimpuane katughono neinano. Nofeki-fekiriemo, notudu kanau aegholi hae waitu anini inaku, ambano welo lalono Akabho-kabhongo. Nompona kaawu nofekirie, nopandehanemo, tamaka katandaino kaawu, notudue naegholi madea-deano medano kaedehano adhara. Nokalamo tora Akabho-kabhongo, nofura kaawu kaedehano adhara, nofekirimo lalono, medanomo aini hae otagambiri nepulughono inaku. Mina naseha-sehae noresiemo kaedeha adhara anagha sampe nomaho nopono kantono. Pada kaawu neresi, noghoro anemo doino neadhara anagha. Amba Akabho-kabhongo: “Ala doino itu pihihi.” Pada anagha nosulimo kabho-kabhongo. Norato kaawu we lambu, nofenaemo inano.
Ina            : “Hamaie tagambiri kagholimu kabho-kabhongo?”
Kabho-kabhongo    : ”Ainihae, nowane aedehano adhara karesino anini.
Ina    : “Anagha sohae kaedehano adhara ini Kabho-kabhongo? Ingka aniini atuduko omegholi otagambiri maka sohae omeowagho kaedehano adhara ini.
Kabho-kabhongo    : “ Ambamu samura madea-deano peda kaedehano adhara, otagambirimo itu. Awura kaawu kaedehano adhara aniini aresiemo inodi.
Ina        : “ Doino hamaie?
Kabho-kabhongo    : “ padamo aghoro ane nepihihi.
Ina         : “ kaderono kabhoremu kune ihintu ini Kabho-kbhongo.
     Nopusimo Inano nofekiri akabho-kabhongo ini. Ambano inano aitu atumobakomo bhela kabho-kabhongo, kalamo meghondoho modhi. Gara akabho-kabhongo mina tora namandehane medano hae modhi nagha. Nofetapamo tora neinano. Ambano medano hae omodhi nagha ina? Ambano inano somura okamokula itu naewantahi dhangkuno, medano aitu omodhi.
       Nokalamo akabho-kabhongo. Nowulemo nolili mina naewura kamokula mowantano dhangku. Mina naseha-sehae, nowuramo omembe kawanta dhangkuno. Nokalahikiemo, maka nofetapomo akabho-kabhongo nemembe anagha. Modhi ohunda otumoba kanau? Ambano membe me.... nopusi akabho-kabhongo. Nofetapamo tora, modho ohunda otumoba kanau? Ambano tora membe me.... Nonturu kaawu nofetapa akabho-kabhongo tamaka taneme-meemo kaawu, welo lalono akabho-kabhono nohunda inia, nongari kaawu lalono nabisara umbe. Noalimo katapuno membe anagha, maka nosuli we lambu. Norato kaawu, notolamo Inano. Ina... aeghawamo omodhi sotumoba kanau. Nolimbamo inano nomaigho we ghabu, anagha sohae omeowagho omembe itu kabho-kabhongo, ambano inano. Amba akabho-kabhongo ingka aini haemo pada modhi so tumoba kanau, ingka kawantahino dhangkuno watu. Ambano Inano umbe pada newantahi dhangkuno itu, tamaka suano omembe nepulughoku inodi, kafosuli we katapuno membeno mie itu, maka meghondoho tora modhi sotumobako.
     Nokalamo nofosulie wekatapuno membe aniini. Pada kaawu anagha, neghondohimo tora modhi. Nopona kaawu nolili, newuramo okamokula mewantano dhangku. Nofetapo akabho-kabhongo nekamokula anagha. Ambano ohunda otumoba kanau? Ambano kamokula anagha umbe. Pada anagha dokalamo we lambu akbho-kabhongo bhe modho anagha. Dorato kaawu notolamo tora inano akabho-kabhongo. Ina ainihaemo omodho sotumoba kanau. Nolimbamo tora inano, pedano aitumo patudhuku anini, pansuru telo lambu ini modhi.
      Dengkoramo, dopowiseki omodhi bhe akabho-kabhongo. Nobisaramo moji. Ane atumobako ini angka-angkawi kabisarahaku. Amba akabho-kabhongo umbe. (Patudhuno akabho-kabhongo iano kabisarahano modhi nasumulikie nabisarane dua anoa).

Modhi            : “Atumobakomo ini kabho-kabhongo.”
Kabho-kabhongo    : “Atumobakomo ini modhi.”
Modhi            : “angkafi pogauno inamu bhe amamu kabho-kabhongo”
Kabho-kabhongo    : “Angkafi pogauno inamu bhe amamu modhi”
Modhi    : “ (welo lalono nopare-are kanau akabho-kabhongo ini) nopokaruta kunae kabho-kabhongo”
Kabho-kabhongo    : “Kopogaruta kune modhi”
Modhi     : “ Kopare-are kanau kune kabho-kabhongo”
Kabho-kabhongo    : “Kopare-are kanau kune modho”
Modhi    : “Aghumoroe we wite akabho-kabhongo aini”
Kabho-kabhongo    : “Aghumorae wi wite modhi aini”
    Nofanaha kaawu lalono modhi, noepe-epesie nopare-are akabho-kabhongo, noeremo nosangke akabho-kabhongo maka nogoroe we wite, nokolita akabho-kabhongo nopee ne wite. Nomamaramo dua akabho-kabhongo, nofoni telo lambu, nosangke modhi maka noghoroe dua we wite. Nokolita dua kaasi modhi nope ne wite, nondawu bhe songkono, kosuli-sulino modhi nagha. 

TAMAT

MITOS DAERAH MUNA


OLEH
ARIFIN
TULA-TULANO SANGIA WA RUMBAI
    Dhamani wawono nando nikonando Wa Rumbai. Wa Rumbai nagha neano meino robhine, nifahamughondo awando Wale-ale. Bhahi tutula, dhamani wawono Sangia Wa Rumbai maitu konano seghonu kontu te gununo Wale-ale. Kontu anagha lateno te wunta-wunta, noreme pedamo seghonu medha notukoe fato poi kontu morubuno. Ne wuntano nando o loso nikonando losono radhaki.
      Losono radhaki anagha nembali katantuano radhakino liwu setaghu folu. Noraku kaawu maanano bongkano taghu, nikonando fonisihano Tuturano Sangia. Nolapasi kaawu dhalangino tutura, nofolukumo limano Mampeda nelosono kontu sangia otawa losono radhaki. Barangka nofoluku limano Mampeda inia, nondalo maka noratoe dasarano, maananoa nondalo dua radhakino liwu setaghu folu. Pedamo dua nampu nofoluku limano Mampeda mina nandalo losono, sonorowi noratoemo, maanano nomaho dua radhaki otawa dowise-wise radhakino liwu.
       Nando seghonu kadhadhia welo liwu. Doratomo tantara katuduno Ternate nikonando kapoburusino Tobelo, damohansuru liwuno Wale-ale. Damohansurumo kaawu liwuno Wale-ale ini, dofitingkemo bisara, lenteno maigho te  wawo gunu Wa Rumbai ini.
“lahae bhara itu somohansuruno Wale-ale?”
        Dofitingke kaawu bisara anagha tantara Tobelo kansuru dofoni te wawo gunu Wa Rumbai ini, dokapihi totono kamaighohano bisara amaitu. Gara bisara nifitingkendo maitu nibhete maigho welo sepoi kontu bhalano (kontu sangia). Pasino anagha tifitengkemo tora suara: “Koe omehanda-handamua ne Wale-ale ini. Liwu aini liwu molala. Kadikiho ewangi omu mieno, karukunokarukuno kaawu paemo otumaloe omu. Natumalo karukono, potumaloeomu kontuno. Natumalomo kontuno , potumaloeomu oeno. Natumalomo oeno, potumaloeomu wutoku.
    Tantara tobelo difitingke bisara anagha nohende amarando. Dopamurumo tantara Tobelo ini damohamsuru kontu bisarano nagha. (dadihanomo kontu Sangia Wa Rumbai mina nengkonu peda sawawono , rampahano doturakie tantara Tobelo). Tudu pogau, sesehae doratomo kawule tantara Tobelo ini bhe noratoda kampau. Dealamo roono sau maanano so kaempesindo daolodo welo kawule bhe kampaundo maitu. Pasino kaawu, noratodamo kamoito molala kosighulundo. Kolindo norara pasae nikantibhano rendeno ifi. Kansuru dofele-filei tantara Tobelo ini.
      Bhahi pogau, nandomo dua welo liwu mie kakalabhia otawa o wali-wali, neano Wa Rumbai. Wa Rumbai nagha nifahumughondo liwu awanomo Wale-ale, rampano anoamo nagha bha-bhano tumarimano kitabu maigho ne Saidhi Rabba o Quraani.
    Nando kaawu kadhadhiano tantara Tobelo ini, dosangiaemo mieno liwu kontu bisarano nagha. Nefoghonumo mieno liwu Wa Rumbai ini damufakagho so Tuturano Kontu Sangia. Dopokakapoimo mieno liwu maanano, dorame-rame bhe damongarohiane maitu mbali tumpuno lalondo maananoa, sawali dhasano kontu sangia notalo tantarano Tobelo.
       Welo tuturano sangia doniati mbali kasama bhari-bhari bhe kasalamano liwu. Nobhatatamo Wa Rumbai ini we lalo tuturano maitu: “laha-lahae pata marasaeano fonisihano tuturano sangia, namintarae sangiano wite. Nakumala te karuku natumabhurie kampulaho, tawa nakumala we tehi natumoloe buea, natibuna murino, naeghefi-ghefi, naeghabu-ghabu we witeno morani.” Knsuru noila Wa Rumbai maitu.
       Dhadhihanomo kontu sabgia dokonae Sangia Wa Rumbai, rampahano dofahamuane mieno liwu, Wa Rumbaimo ini pasarangkano welo kontu tumalonomo kampuburusi otawa tantara Tobelo ini. Sesetaghu namesua wulano puasaha, Sangia Wa Rumbai sadhia dotuturae nikonandomo Tuturano Sangia Wa Rumbai.

TAMAT

Kamis, 24 Mei 2012

verba transitif bahasa Muna

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang dan Masalah
1.1.1    Latar Belakang

     Bahasa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, sebab perkembangan bahasa juga bergerak secara slimultan mengikuti perkembangan kehidupan manusia. Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia  sebagai alat komunikasi. Hal ini tampak dari berbagai aktivitas yang dilakukan manusia, bahasa senantiasa kerangka untuk mencapai tujuan. Dengan bahasa manusia dapat mengomunikasikan berbagai aspek kehidupan dalam arti yang luas, seluas jangkauan manusia itu sendiri.

       Manusia dan bahasa adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kemampuan berbahasa yang dimiliki manusia merupakan karunia yang diberikan oleh Allah swt sebagai sarana dalam mengemban tugas kekhalifaan di muka bumi. Kemampuan dasar manusia untuk berbahasa merupakan kemampuan yang sejalan dengan potensi hidupnya sekaligus berfungsi sebagai alat hidup.

      Keragaman bahasa daerah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia merupakan gambaran umum kekayaan bangsa Indonesia yang berkepribadian serta elegan dalam variasinya yang berbeda-beda. Dengan demikian, bahasa daerah sebagai salah satu warisan budaya nasional harus dipelihara dan ditumbuhkembangkan agar nilai-nilai budaya yang berkembang di dalamnya tetap hidup dan tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Keberadan bahasa daerah dalam hubungannya dengan pembakuan bahasa nasional serta kepentingan pembinaan dan pengembangan bahasa-bahasa daerah di Indonesia, harus diselamatkan dari ancaman kepunahan.

       Pembinaan bahasa daerah perlu terus dilanjutkan dalam rangka mengembangkan serta memperkaya perbendaharaan kata bahasa Indonesia dan khasanah kebudayaan nasional sebagai salah satu unsur jati diri dan kepribadian bangsa. Perlu ditingkatkan penelitian dan pengembangan bahasa dan sastra daerah serta penyebarannya melalui berbagai media. Sehubungan dengana kenyataan ini, untuk meneliti bahasa daerah nusantara sangat besar manfaatnya, termasuk bahasa-bahasa di Sulawesi Tenggara pada umumnya dan dan khususnya bahasa Muna.

       Bahasa muna adalah salah satu bahasa daerah yang terdapat di Sulawesi tenggara. Hingga saat sekarang ini bahasa muna masih tetap dipergunakan sebagai bahasa pergaulan dan alat komunikasi dalam wilayah sosiokultural muna. Bahasa muna juga merupakan salah satu bahasa di antara tiga bahasa daerah di Sulawesi Tenggara yang dimasukan dalam kurikulum sebagai mata pelajaran Muatan Lokal. Dengan hal itu, maka bahasa muna menjadi salah satu mata pelajaran bagi siswa sekolah dasar  dan sekolah lanjutan tingkat pertama di Kabupaten Muna.

       Secara umum, fungsi bahasa muna bagi masyarakat penuturnya antara lain sebagai bahasa kelompok etnik (group language); bahasa untuk komunikasi intra etnik; bahasa yang digunakan dalam bidang pendidikan (language of education); bahasa yang digunakan dalam upacara keagamaan (language of religion); da bahasa yang digunaka dalam urusan-urusan adat. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Muna perlu dibina dan dikembangkan guna memperkaya khasanah perbendaharaan bahasa daerah di Indonesia yang kelak dapat memperkaya kosakata bahasa nasional kita.

        Seperi halnya daerah lain, bahasa daerah Muna juga memilki variasi bahasa.  Menurut  Rene Van den Berg dalam bukunya “ A Grammar of the Muna Language ‘, (1989:7) bahwa sementara ini dalam bahasa muna terdapat tiga variasi atau dialek.
Penelitian tentang bahasa Muna telah banyak dilakukan, diataranya: Verba Turunan bahasa Muna Dialek Gulamas (Zainuddin Sangka, 2002), Afiks Pembentuk Adjektiva bahasa Muna Dilaek gulamas (La Ode Rafiuddin, 2004), Afiks Pembentuk Verba bahasa Muna Dialek Muna Standar (Rachman, 2010), Verba Semitransitif bahasa Muna (La Marwin).
       Dalam kenyataannya, bahasa daerah di Indonesia mempunyai tataran kebahaasaan yang sama, yaitu tataran fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Dari keempat gejala tersebut yang menarik bagi penelaah untuk dikaji yaitu gejala morfologi yang berupa verba transitif dalam bahasa Muna. Verba transitif bahasa Muna sangat menarik untuk ditelaah karena terjadi proses morfologis pada verba transitif, serta adanya nomina di belakang verba yang juga turut menandakan ketransitifan verba tersebut, seperti:
-    La Ude nefekatahi kantagho ‘La ude memperbaiki pancuran’
-    La Aba nerabu medha ‘ La Aba membuat meja’
       Nefekatahi dan nerabu pada kalimat di  atas adalah verba transitif karena memerlukan objek sesudah verba yaitu kantagho ‘pancuran’ dan medha ‘meja’. Hal ini ditandai dengan adanya afiks persesuaian ne- pada kata fekatahi atau ‘perbaiki’ dan medha ‘meja’ serta menunjukkan berapa jumlah nomina yang juga turut berperan menentukan ketransitifan verba transitif bahasa Muna.

1.1.2    Masalah
       Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah:
1.     Bagaimanakah bentuk-bentuk verba transitif bahasa Muna?
2.    Afiks apa saja yang berperan dalam pembentukan verba transitif bahasa Muna?

1.2    Tujuan dan Manfaat
1.2.1    Tujuan
      Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.     Untuk  mendeskripsikan bentuk-bentuk verba transitif bahasa Muna.
2.    Untuk mendeskripsikan afiks-afiks apa saja yang berperan dalam pembentukan verba traansitif bahasa          Muna.

1.2.2    Manfaat
      Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Sebagai salah satu sumbangan informasi dan masukan bentuk-brntuk verba transitif bahasa Muna.
2.    Sebagai dokumentasi bahasa Muna untuk dijadikan acuan bagi penelitian selanjutnya.
3.   Sebagai salah satu sumbangan pemikiran dalam upaya untuk pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia pada umumnya dan bahasa Muna pada khususnya.

1.3    Batasan Operasional
       Untuk menghindari salah pengertian, diberikan batasan operasional penelitian ini:
1.    Verba adalah kata yang biasanya berfungsi sebagai predikat.
2.    Verba transitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif, dan objek                tersebut dapat berfungsi sebagai subjek pada kalimat pasif.







BAB II
KAJIAN TEORI

        Penelitian ini mengacu pada teeori-teori yang dikemukakan oleh para ahli bahasa yang berhubungan dengan konsep morfologi, batasan verba, cirri-ciri verba, bentuk-bentuk verba, verba transitif, verba ekatransitif, verba dwitransitif, dan verba semitransitif. Berikut penjelasan teori-teori tersebut.

2.1    Konsep morfologi
       Dalam kamus internasional, Ralibi dalam Sutawijaya (1996:5) mengemukakan bahwa “morfologi berasal dari kata Yunani yakni morphe yang berarti bentuk dan logos yang berarti ilmu”. Berdasarkan hal itu, kita dapat mendapat gambaran bahwa morfologi merupakan ilmu tentang bentuk.

      Ramlan (2009:21) mengemukakan bahwa “morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap fungsi dan arti kata”. Sutawijaya (1996:5) “morfologi adalah cabang dari ilmu linguistik yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata dan perubahannya serta dampak dari perubahannya itu terhadap arti (makna) dari kelas kata”. Di pihak lain, verhaar (1996:12) mengemukakan bahwa “morfologi adalah bidang linguistic yag mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal.”

2.1.1    Morfem
     Ramlan (2009:32) mengatakan bahwa “morfem adalah satuan gramatik yang paling kecil, satuan gramatik yang tidak mempunyai satuan lain sebagai unsurnya.”  Kridalaksana (1984:128) menyebutkan bahwa “morfem adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya secara relative stabil dan tidak dapat dibagi lagi atas bagian bermakna yang lebih kecil, misalnya ter-, di-, pensil, buku, dan sebagaianya”.

       Dalam penelitian ini, peneliti berpegang pada definisi yang dikemukakan oleh Ramlan dan Kridalaksana. Bertitik tolak dari kedua definisi itu, morfem secara garis besar adalah satuan terkecil bahasa yang tidak mempunyai satuan lain sebagai unsurnya dan tidak dapat dibagi lagi atas makna yang lebih kecil.

2.1.2    Alomorf
     Alomorf dan morfem dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Morfem adalah konsep yang banyak variasinya (Papera, 1990:42). Samsuri (1998:22) mengatakan bahwa “alomorf adalah variasi dari satu morfem.  Morfem itu tidak tampak dalam kosntruksi kata, yang kelihatan adalah alomorf”. Selanjutnya Keraf (1984:52) berpendapat bahwa alomorf adalah variasi bentuk dari satu morfem yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya.

        Lebih khusus lagi (Ramlan, 2009:32) mengemukakan bahwa “dalam verba transitif terdapat afiks yang berperan dalam pembentukannya mislanya afiks meN- yang mempunyai alomorf me-, meny-, meng-, dan men-.”

        Berdasarkan pendapat para linguis di atas, dapat dikatakan bahwa alomorf merupakan variasi dari satu morfem yang kelihatan dalam konstruksi kata dan dipengaruhi oleh lingkungan yang  dimasukinya.

2.1.3    Konsep Kata
       Kata adalah satua bebas yang paling kecil, atau dengan kata lain setiap satuan merupakan kata (Ramlan, 2009:33). Kata dapat dibentuk melalui bentukan yang merupakan morfem tunggal atau gabungan antara morfem yang lain. Bentukan seperti itu disebut konstruksi morfologis. Bentukan yang merupakan morfem tunggal disebut konstuksi sederhana, sedangkan gabunga antara morfem disebut konstruksi morfem rumit (Samsuri, 1998:195). Kata juga dapat dibentuk dengan cara menghubungkan morfem yang satu dengan yang lain. Proses morfologis ini dibentuk dengan cara penambahan afiks, reduplikasi dan pemajemukan” (Ramlan, 2009: 34).

2.1.4    Afiksasi
        Alieva (1991: 90) menjelaskan bahwa “ Afiksasi adalah cara pembentukan kata baru dan bentukan kata dengan bantuan morfem tugas terikat, yaitu afiks (imbuhan) yang diletakan ppada morfem akar. Kridalaksana (1984:26) menjelaskan bahwa “ Afiksasi adalah pembentukan kata atau proses moorfologis yang dilakukan denga jalan penggabungan kata atau pokok kata dengan afiks. Juga ditambahkan bahwa penggabungan afiks tersebut kadang-kadang menempel pada akhir kata, awal kata, menyisp di tengah kata, atau mungkin juga menempel serempak pada awal dan akhir kata.”

         Verhar (1986:60) memberikan penjelasan tentang afiksasi sebagai berikut:
Afiksasi (affikxation) adalah penambahan afiks (affix). Afiks itu berupa morfem terikat, dan dapat ditambahkan pada awal kata (prefiks, prefix) dalam proses disebut prefiksasi (preffixation), pada akhir kata (sufiks, suffix) dalam pproses disebut sufiksasi (suffikxation), untuk sebagian pada awal serta untuk sebagian pada akhir kata disebut konfiks, ambifiks, dan simulfiks, (confix. Ambifix, simulfiks) dalam pproses disebut konfiksasi ambifiksasi. dan simulfiks (confixation, ambifixation, dan simulfixation) atau di dalam kata itu sendiri sebagai suatu sisipan (infiks;infix) dalam proses disebut infiksasi (infixation).

        Menurut Ramlan(2009:54)menjelaskan bahwa
Proses pembubuhan afiks  adalah pembubuhan afiks pada sesuatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata. Miisalnya pembubuha afiks ber- pada kata jalan menjadi berjalan, pada sepeda menjadi bersepeda,  pada kata susah payah menjadi bersusah payah, pada gerilya menjadi bergerilya; perubahan afiks meN- pada kata tulis menjadi menulis, pata kenai menjadi mengenai, pada baca menjadi membaca. Ada juga afiks yang tidak membentuk kata, melainkan membentuk pokok kata, ialah afiks per-, -kan, dan –I,  misalanya perbesar, perkecil, perluas, perindah, perkaya, perdua, perempat, ambilkan, bacakan, bangunkan, duduki, Tanami pukuli.

      Selanjutnya Ramlan menjelaskan bahwa satuan yang dilekati afiks atau yang menjadi dasar pembentukan bagi satau yang lebih besar itu di sini disebut bentuk dasar. Bentuk dasar kata berjalan ialah jalan, bentuk dasar kata bersusah payah ialah susah payah, bentuk dasar kata berperikemanusiaan ialah perikemanusiaan, bentuk dasar kata berkepemimpinan ialah kepemimpinan.  Dalam proses pembubuhan afiks, bentuk dasar merupakan salah satu unsur yang bukan afiks.
      Dengan  demikian dapatlah dikatakan bahwa “afiksasi adalah pembubuhan afiks, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun dalam bentuk kompleks untuk membentuk kata. 

    Dalam bahasa Muna terdapat proses pembubuhan afiks yang belum tentu sama dengan proses pembubuhan afiks dalam bahasa Indonesia. Untuk menghindari kesalah ppenafsiran terhadap penyebutan afiks yang tepat dalam proses pembentukan afiks bahasa daerah, maka digunakan istilah lain, yakni afiks peprsesuaian (AP). Hal ini didasarkan pada istilah-istilah  penggunaan afiks bahasa daerah Muna yang dikemukakan oleh Marafad, yang menyebut afiks ne- pada kata gholi ‘membeli’, sebagai afiks persesuaian (AP). Oleh karena itu, dalam penelitian ini juga digunakan istilah-istilah afiks persesuaian yang membentuk afiks dalam bahasa Muna.

2.1.5    Konsep Afiks
      Afiks adalah bentuk terikat yang apabila ditambahkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramtikal (Kridalaksana, 1984:2). Selain itu, Ramlan (2009:55) menjelaskan bahwa ”Afiks adalah suatu satuan gramatikal terikata yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata dan pokok kata, yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru.
Dari penegrtian di atas, Ramlan memberikan contoh dengan kata minuman. Kata itu terdiri dari dua unsur, yaitu unsur minum yang merupakan kata dan –an sebagai afiks.

2.2    Verba
2.2.1    Batasan
     Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan (Keraf dalam Konisi, 2001:22). Sedangkan Kridalaksana (2008:51) mengatakan bahwa:
Secara sintaksis sebuah satuan gramatika dapat diketahui berkategori verba dari perilakunya dalam satuan yang lebih besar; jadi sebuah kata dapat didkatakan berkategori verba hanya dari perilakunya dalam frase, yakni dalam hal kemungkinannya satua itu didampingi partikel tidak dalam konstruksi dan dalam hal tidak dapat didampinginyasatuan itu dengan partikel di, ke, dari, atau dengan partikel seperti sangat, lebih, atau agak.

     Selain itu Lubis (1993:119) mengatakan bahwa “verba dapat diartikan sebagai kategori grammatikal yang dalam konst ruksi berkemungkinan diawali oleh kata tidak, dan tidak mungikin diawali oleh kata di, dari dan tidak mungkin diawali oleh ter  yang bermakna paling.

      Menurut Tarigan (1984:64), “verba adalah segala kata yang dipakai sebagai perintah baik dapat maupun tidak dapat digabung dengan imbuhan atau afiks”.
Kridalaksana dalam Kamus Linguistik (1984:205) menyatakan bahwa  “verba adalah kelas kata yang biasanya berfungsi sebagai predikat dalam beberapa bahasa lain mempunyai cirri morfologis seperi cirri kala, aspek, pesona atau jumlah. Sebagian verba memiliki unsur semantik, perbuatan keadaan atau proses”.

    Berdasarkan beberapa pendapat para ahli linguistik di atas, maka dapat dikatakan bahwa verba merupakan inti predikat, dan tidak dapat diikuti oleh kata dengan.

2.2.2    Ciri-ciri Verba
      Moeliono (1988:77) mengatakan bahwa “ciri verba adalah sebagai berikut: (1) verba berfungsi utama sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun juga dapat berfungsi yang lain, (2) verba mengandung makna dasar perbuatan (aksi) atau proses atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas, (3) verba yang khususnya bermakna keadaan tidak dapat diberi prefix ter yang  bermakna paling”.

      Keraf (1984:86) mengatakan bahwa “ciri verba bahasa Indonesia adalah semua kata yang mengalami proses morfemis se + reduplikasi dasar + nya. Ciri verba lain adalah unsur  leksikal frasa yang belum (dalam proses morfemis) termasuk di dalamnya kategori tertentu, misalnya tulis dalam bahasa Indonesia (Verhaar, 1996:123).

        Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia menyatakan bahwa ciri-ciri verba yaitu:
Verba dapat diketahui dengan mengamati (1) perilaku semantis, (2) perilaku sintaksis, dan (3)  bentuk morfologisnya. Namun, secara umum verba dapat diidentifikasi dan dibedakan dari kelas kata yang lain, terutama dengan adjektiva, karena cirri-ciri sebagai berikut.
a.    Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat           juga mempunyai fungsi lain.
b.    Verba menganndung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau                   kualitas.
c.    Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prafiks ter yang berarti “paling”.
d.    Pada umunya  verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan (Alwi , 2010:91).

2.2.3    Bentuk Verba
       Ada dua macam bentuk dasar yang dipakai dalam pembentukan verba, yaitu: (1) dasar yang tanpa afiks atau telah masuk dalam kategori sintaksis dan memiliki makna yang independen, dasar verba ini dinamakan verba bebas, dan (2) dasar yang berkategori sintaksis maupun maknanya dapat ditentukan hanya setelah ditambahkan afiks, dasar bebas ini dinamakan dasar bebas terikat.

       Moeliono (1988:77) berpendapat bahwa:
Bahasa Indonesia pada dasarnya mempunyai dua macam bentuk verba, yakni; (1) verba asal, yaitu verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis, dan(2) verba turunan, verba yang harus atau dapat memakai afiks, tergantung pada tingkat keformalan bahasa atau pada posisi sintaksisnya. Verba turunan terbagi lagi menjadi tiga sub kelompok, yakni: (a) verba yang dasarnya adalah verba bebas, tetapi memerlukan afiks supaya dapat  berfungsi sebagai verba, (b) verba yang dasarnya adalah verba dasar terikat atau dan tentunya memerlukan afiks. Di samping itu verba turunan sub kelompok (a), (b), dan (c) dapat juga berbentuk reduplikasi atau atau juga paduan.


        Selain itu Kridalaksana (2008:51) berpendapat bahwa:
dilihat dari bentuknya verba dapat dibedakan atas verba dasar bebas dan verba turunan”. Slanjutnya dijelaskan sebagai berikut:
Verba dasar bebas yaitu verba yang berupa morfem dasar bebas. Conto: duduk, makan, mandi, minum, pergi, pulang, tidur. Sedangkan verba turunan yaitu verba yang telah mengalami afiksasi, reduplikasi, gabungan proses atau berupa paduan leksem. Sebagai  bentuk turunan dapat kita jumpai: (a)  verba berafiks, contoh: ajari, bernyanyi, bertaburan, bersentuhan, ditulis, jahitkan, kematia, melahirkan, menari, menguliti, menjalani, kehilangan, berbuat, terpikirkan. (b) verba bereduplikasi, contoh: bangun-bangun, ingat-ingat, makan-makan, marah-marah, pulang-pulang, senyum-senyum, (c) verba berproses gabung, contoh: bernyanyi-nyanyi, tersenyum-senyum, dan (d) verba majemuk, contoh: cuci mata, campur tangan, tunjuk gigi.

        Hal senada juga dikemukakan oleh Alwi  (2010:102) bahwa
Dalam bahasa Indonesia ada dua macam dasar yang dipakai dalam pembentukan verba; (1) Dasar tanpa afiks, apapun yang telah memiliki kategori sintaksis dan mempunyai makna yang mandiri, dasar ini dinamakan dasar bebas, dan (2) dasar yang kategori sintaksis maupun maknanya baru dapat ditentukan setelah diberi afiks, dasar ini dinamakan dasar terikat.

2.3     Verba Transitif
     Dalam Tata bahasa Baku Bahasa Indonesa disebutkan bahawa verba transitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif dan objek tersebut dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif (Alwi,2010: 95). Chaer (1991:138) mengatakan bahwa “verba transitif adalah verba yang memerlukan objek, verba yang memerlukan dua objek disebut dwitransitif atau bitransitif dan yang hanya satu objek disebut ekatransitif atau monotransitif. Verba transitif berobjek dua maupun satu dapat diubah susunannya menjadi kaliamat aktif maupun pasif”.
     Selain itu Keraf (1984:64) berpendapat bahwa “verba transitif adalah kata kerja yang menyatakan perbuatan dan menghendaki adanya pelengkap misalnya; memukul, menangkap, melihat, dan lain-lain”.
Verba transitif adalah verba yang bisa mempunyai atau harus mendampingi objek (Kridalaksana, 2008:52).

2.3.1    Verba Ekatransitif
    Verba ekatransitif adalah verba transitif yang diikuti oleh satu objek (Alwi 2010:95).  Sudaryanto (1992:80) berpendapaat bahwa “verba ekatransitif yang mempunyai dua pendamping, yaitu konstituen subjek dan konstituen objek”. Kridalaksana (2008:52) mengatakan bahwa “verba ekatransitif adalah verba yang mempunyai 1 objek”.

     Pendapat yang menjadi acuan peneliti adalah pendapat yang dikemukakan oleh Alwi  yang mengatakan bahwa verba ekatransitif adalah verba yang diikuti oleh satu objek seperti: membawa, memperbaiki, memperbesar, membeli, adalah verba ekatransitif karena hanya membutuhkan satu objek, hal ini tampak pada kalimat berikut.
Saya membawa buku.
   S       P         O
Ayah memperbaiki atap.
   S      P              O
Ani membeli sayur.
   S      P          O
   Membawa, memperbaiki, membeli,  pada konstruksi di atas adalah verba ekatrnasitif karena membutuhkan satu objek yaitu buku, atap, dan sayur. Afiks yang melekat pada verba yanag menandakan ketransitifan verba tersebut adalah afiks mem- pada kata bawa yang menghasilkan kata membawa, gabungan afiks memper- pada kata besar menghasilkan kata memperbesar, afiks men- pada kata beli menghasilkan kata membeli. 

2.3.2    Verba Dwitransitif
      Verba Dwitransitif adalah verba yang dalam kalimat aktif dapat diikuti oleh dua nomina sebagai objek, satu sebagai objek penderita dan satu lagi sebagai pelengkap (Alwi 2010:95).  Sudaryanto (1992:29) mengatakan bahwa “verba dwitransitif  adalah verba ynag mempunyai tigabuah pendamping, yaitu konstituen subjek dan konstituen yang lain dapat berupa objek pelengkap”. Selanjutnya verba dwitransitif adalah verba yang dalam bentuk aktif diikuti oleh subjek penderita dan pelengkap (Moeliono. 1988:136).

       Pendapat yang menjadi acuan peneliti adalah pendapat Alwi (2010:95) yang mengatakan bahwa “verba dwitransitif adalah verba yang dalam kalimat aktif dapat diikuti oleh dua nomina sebagai objek, satu fungsi sebagai objek dan satu sebagai pelengkap”. Membawakan, membelikan, mengambilkan, dan mencarikan adalah verba dwitransitif, karena membutuhkan objek dan pelengkap, hal ini tampak pada kalimat berikut:
        Bibi membawakan adik makanan.
          S         P            O     Pel
        Ibu membelikan ayah minuman.
         S       P          O        Pel
        Kakak mengambilkan nenek kapur sirih.
            S        P        O         Pel
        Paman mencarikan kakak pekerjaan.
            S            P        O    Pel
    Membawakan, membelikan, mengambilkan, dan mencarikan pada kalimat di atas adalah verba dwitransitif, karena membutuhkan adanya objek yaitu adik, ayah, nenek dan kakak pada kalimat terakhir, serta membutuhkan pelengkap yaitu makanan, minuman kapur sirih dan pekerjaan. Afiks yang melekat pada verba yang menandakan ketransitifan verba tersebut adalah gabungan afiks mem-kan, pada kata bawa yang menghasilkan membawakan, gabungan afiks mem-kan, pada kata beli yag menghasilkan kata membelikan, gabungan afiks meng-kan, pada kata ambil yang menghasilkan kata mengambilkan dan gabungan afiks men-kan pada kata cari menghasilkan kata mencarikan. Hal ini senada dengan pendapat Chaer (1994:276) mengatakan bahwa fungsi gabungan mem-kan, memper-kan adalah membentuk kata kerja aktif transitif.

2.3.3    Verba Semitransitif
     Verba semitransitif adalah verba yang objeknya boleh ada boleh juga tidak ada (Alwi 2010:96). Moeliono (1988:137), verba semitransitif adalah verba yang mempunyai dua pendamping seperti ekatransitif, akan tetapi tidak dengan peragai yang sepenuhnya transitif (Sudaryanto,  1992:80). Makan minum, menulis, adalah verba semitransitif, karena tidak dengan peragai yang sepenuhnya transitif kehadiran satu objek boleh ada dan boleh tidak ada. Hal ini tampak pada kalimat berikut:
a.    Adik sedang makan.
    S    P
b.    Adik sedang makan nasi.
   S        P         O
       Makan pada kalimat di atas adalah verba semitransitif karena tidak mewajibkan kehadiran objek nasi. Pada kata-kata atertentu verba semitransitif terdapat afiks yang melekat pada verba seperti pada afiks mem- pada kata tulis yang menghasilkan kata menulis, tetapi pada kata-kata tertentu terdapat verba dasar seperti kata makan dan minum di atas.


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1    Metode dan Jenis Penelitian
3.1.1    Metode Penelitian
       Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode ini digunakan dalam pengumpulan, pengkajian data, dan penyajian laporan penelitian.  Penggunaan metode ini untuk membuat deskripsi yang terstruktur dan akurat mengenai data, dan cirri-ciri alami yang ada dalam data penelitian, serta hubungan fenomena yang diteliti.

3.1.2    Jenis Penelitian
       Jenis penelitian ini tergolong penelitian lapangan, karena itu semua data dalam penelitian ini diperoleh di lokasi penelitian sesuai masalah penelitian.

3.2    Data dan sumber data
3.2.1    Data
       Data dalam penelitian ini adalah data bahasa lisan. Data bahasa lisan yaitu berupa tuturan-tuturan yang dituturkan oleh penutur asli masyarakat Muna, di Desa Kontunaga, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna.  Data ini adalah data mentah. Serta kumpulan kalimat yang mengandung bentuk-bentuk verba transitif bahasa Muna.

3.2.2    Sumber Data
       Sumber data penelitian ini adalah informan. Data lisan diperoleh dari sejumlah informan penutur asli bahasa Muna, peneliti menetapkan tiga informan, satu informan utama yang dipilih dari tokoh masyarakat dan dua informan tambahan yang berasal dari masyarakat biasa. Kriteria informan yang diacu dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “(1) penutur asli bahasa yang diteliti dan berdomisili di lokasi penelitian, (2) jarang meninggalkan daerah atau lokasi (menetap),  (3) Sadar dan memahami apa yang diajukan oleh peneliti, (4) memiliki alat-alat artikulasi yang utuh” (Konisi, 2001:6). Dalam memperoleh data, ditempuh dengan tiga cara yaitu: (1) data yang diperoleh dengan cara merekam cerita rakyat, dari cerita tersebut peneliti memilih kalimat yang terdapat verba transitif, (2) data yang diperoleh secara lepas, misalnya menyimak suatu percakapan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dan (3) data buatan, yaitu data yang dipersiapkan oleh peneliti berupa sekumpulan kalimat yang memiliki bentuk-bentuk verba transitif bahasa Muna kemudian diverifikasi kepada informan untuk diklarifikasi kebenarannya.

3.3    Metode dan Teknik Penelitian
       Metode yang digunakan dalam pengumpulan data ialah metode cakap dan metode simak. Metode ini dilakukan dengan membangun interaksi yang komunikatif (wawancara) antara peneliti dengan informan lalu peneliti menyimaknya secaraseksama.

       Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik rekam dan teknik catat.  Teknik ini dugunakan dengan pertimbangan bahwa data yang diteliti berupa data bahasa lisan. Teknik ini dilakukan dengan merekam wawancara antara peneliti dan informan dengan menggunakan alat  bantu rekam (tape recorder) lalu mengarsipkannya ke dalam catatan-catatan atau perbagian sesuai dengan substansi permasalahan. Setelah data terkumpul, peneliti juga menggunakan teknik introspeksi melalui teknik elisitasi (Djajasudarma dalam Konisi, 2001:9). Teknik ini digunakan karena peneliti juga adalah penutur asli bahasa Muna.

3.4    Metode dan Teknik Analisis Data
      Analisis data penelitian ini menggunakan pendekatan structural. Pendekatan ini sesuai dengan objek penelitian yakni verba transitif bahasa Muna yang dikaji berdasarkan aspek morfologinya. Arti struktural dalam penelitian ini merujuk arti suatu bentuk yang ditentukan oleh hubungan distribusinya dengan bentuk lain (Samsuri, 1988:187-168). Analisis data penelitian ini adalah kegiatan membagi “tubuh” tuturan yang berentet atau beruntun memajang dan bersifat linear itu menjadi beberapa bagian atau beberapa konstituen (Sudaryanto, 1992:28).
       Sudaryanto selanjutnya mengemukakan bahwa:
Dalam tahap analisis “karya ilmiah” merupakan trknik dasar dan disebut dengan teknik Pilah Unsur Langsung atau teknik PUL. Dengan teknik ini tampak adanya konstituen-konstituen, dan konstituen adalah  satuan lingual   itu membentuk “konstruksi” satuan lingual pila (1992:28).

    Dalam metode analisis bahasa dikenal metode kajian distribusional. Metode kajian distribusional menggunakan alat bantu bahasa itu sendiri. Metode ini berhubungan erat dengan paham strukturalisme. Dasar penentu dalam kerja metode distribusional adalah teknik pemilihan kata berdasarkan kategori tertentu dari segi gramatikal bahasa sesuai dengan cirri-ciri alami yang ada dalam data penelitian. Ada dua teknik dalam kajian distribusional, yakni teknik kajian menurun (top down), dan teknik kajian naik (button up).

     Teknik yang diterapkan untuk menganalisis verba transitif bahasa Muna adalah teknik kajian menurun (top down), yang dipadukan dengan teknik pilah Unsur langsung (PUL), akan tampak seperti berikut:
Bagan analisis verba ekatransitif




‘membuat    ‘membuat’


    Verba nerabu bila terdapat dalam sebuah kalimat dapat dianalisi sebagai berikut:
       
    La Ude nerabu medha
                            “La Ude membuat meja”
Verba nerabu ‘membuat’ pada kalimat di atas tergolong verba transitif karena terdapat prefiks ne- yang melekat pada verba dasar rabu ‘buat’ dan menghasilkan verba ekatransitif nerabu ‘membuat’ yang membutuhkan nomina medha ‘meja’ sebagai objek, sekaligus  menunjukan berapa jumlah nomina yang yang terdapat di belakang verba tersebut.



DAFTAR PUSTAKA


Alieva. 1991. Bahasa Indonesia:Deskripsi dan Teori. Yokyakarta:Kanisius.

Alwi, Hasan dkk.2010. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Badudu. J. S. 1998. Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdagri.

Ba’dulu Muis. 1985. Sistem Morfologi Bahasa Mandar. Jakarta: Pusat pembinaan dan Pengrmbangan Bahasa.

Chaer, Abdul. 1993. Gramatika Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

______, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Bharatara.

Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Ende Flores: Nusa Indah.

Konisi, La Yani. 2001. “Penelitian Bahasa: Sistematika, Metode dan Teknik. Kendari: Universitas Haluoleo.

Kridalaksana, Harimurti. 1993.  Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

______, 2008. Kelas Kata Dalam Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Moeliono, Anton M. 1998. Tata Bahasa Baku Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Parera, Jos Daniel. 1993. Morfologi. Jakarta: Gramedia.

Ramlan. 2009. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yokyakarta: CV. Karyono.

Samsuri. Morfologi Pembentukan Kata. Jakarta: Depdikbud.

Soedjono. 1981. Bahasa Kontekstual. Yokyakarta: Kaniisius.

Sudaryanto. 1992. Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta: Tiara Wacana Yokya.

Sutawijaya, H. Alam. 1996. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Tarigan, Henry Guntur. 1984. Pengjaran Morfologi. B andung: Angkasa.

Verhaar, J.M.W. 1986. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Kanisius.

_____      1996. Asas-Asas Linguitik Umum.  Yogyakarta: Gajah Mada University.