Oleh
ARIFIN
Tidak salah, kalau Anda merasa takut mati. Rasa takut itu adalah fihtrah, dan manusia hidup sudah dibekali dengan berbagai perangkat dan kemampuan untuk mempertahankan hidup, sebatas yang dikehendaki oleh Allah Yang Maha Kuasa. Dan sesungguhnya kondisi kejiwaan seperti itu sudah diisyaratkan firman Allah dalam QS. Al-jumu’ah:8,
Fitrah manusia, mengajak siapapun menghindari kematian. Makan dan minum bukan saja soal kebutuhan, soal nafsu dan selera, tetapi juga soal mempertahankan hidup. Kenapa manusia harus belajar menghemat uang, belajar bertahan dalam lapar, bahakan juga mempelajari seni bela diri untuk bertahan mrnghadapi serangan dari luar dirinya? Karena secara fitrah, manusia sudah terdiorong untuk bertahan hidup, menghindari mati, atau minimal menurut logika kefitrahan adalah menunda kematian.
Meski tak seorang pun bisa berlari dari kematian, tapi Allah tidak menyalahkan orang yang selalu mencoba bertahan untuk hidup, selama ia bisa, dan selama itu diperbolehkan. Bahkan dalam kondisi demikian, seseorang berkewajiban mempertahankan hidup yang merupakan karunia Allah atas diirinya. Maka segala usaha yang dilakukan oleh manusia saat ini, seperti makan, minum, berolahraga atau beristirahat, tidak lain adalah proses alami mempertahankan hidup dan menghindari kematian, sebagaimana yang difitrahkan oleh Allah dalam diri mereka.
Namun, tentu berbeda makna antara takut mati dengan membenci kematian. Sangat tidak sama antara takut mati dengan ketakutan menghadapi kematian.
Rasa takut terhadap mati, seperti halnya rasa khawatir atau takut terhadap penyakit, terhadap rasa sakit, terhadap kemiskinan, atau hal-hal yang dinggap buruk oleh umumnya manusia. Berbeda dengan kebencian terhadap kematian. Rasa benci terhadap kematian itulah yang bisa menyebabkan seseorang mencintai hidup dan enggan bersiap-siap menghadapi mati. Seperti yang selalu disebutkan dalam hadits, “cinta dunia dan takut mati”
Begitu pula dengan sikap ketakutan menghadapi kematian. Takut berbeda dengan ketakutan. Orang yang merasa takut terhadap musuh pun masih dianggap wajar. Namun, ketakutan menghadapi musuh adalah berbahaya, karena ujung-ujungnya adalah lari dari peperangan.
Insting seseorang adalah selalu bergerak untuk merasa takut menghadapi mati. Namun orang yang ketakutan menghadapi mati adalah orang yang tak pernah merasa siap menghadapinya. Ia hanya selalu berusaha memuaskan diri dengan hidup dan kehidupan, hanya suka bersenang-senang, dan nyaris tak pernah memikirkan soal mati dan kematian. Orang yang seperti itu akan sangat ketakutan menghadapi mati. Bahkan ia rela membiarkan banyak orang mati , asalkan ia bisa terus hidup. Da sesungguhnya orang seperti itu justru kehilangan kenyamanan menikmati hidup.
Gambarannya seperti seorang pemimpin umat yang kerjanya hanya menumpuk kekayaan melalui korupsi dan sejenisnya. Ia hanya menghabiskan masa jabatannya dengan ketakutan, memuaskan diri tapi tidak pernah merasakan kepuasan. Turun dari jabatan, apalagi sebelum berakhirnya masa jabatannya, sungguh merupakan kiamat bagi tipikal pemimpin seperti itu. Bayangkan hilangnya kekuasaan dan potensi untuk menghuni jeruji besi sungguh merupakan siksaan tersendiri yang menyebabkan hidupnya tak pernah nyaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar