Oleh
ARIFIN
Diskusi seputar paradigm pikir mahasiswa menemukan urgensinya ketika gejala teralienasinya peran dan fungsi mahasiswa muncul di mana-mana. Keinginan untuk mengkritisi ulang terhadap pola sikap mahasiswa diperlihatkan oleh sebagian mahaasiswa yang kecewa terhadap label-label perguruan tinggi. Kondisi demikian diperparah dengan adanya pengaburan identitas dari yang sesungguhnya oleh sebagian media melalui propaganda isu yang mereka lemparkan ke publik yang cenderung menjadikan isu seputar mahasiswa sebagai komoditi profit agar rating penjualan informasinya kian melonjak dengan menegasikan faktor edukatif di dalamnya. Lebih jauh dan kompleks, peran dan fungsi mahasiswa itu sendiri senantiasa memdapat soorotan. Apalagi saat ini, berkembangnya insstans culture alias budaya pop/hedon juga tak luput telah menggerus identitas dan kepribadian mahasiswa.
Pola berpikir mahasiswa biasanya mengikuti pola berfikir kultur dominan di kampus sehingga sudah tidak sedikit yang terhipnotis dan tergiur dengan gemerlapnya budaya ini. Itu sebabnya, seperti yang disinyalir oleh kritikus Lorraine Gamman dan Margaret Marshment yang bersepakat bahwa budaya pop adalah sebuah medan pergulatan ketika mengemukakan bahwa tidaklah cukup bagi kita untuk semata-mata menilai budaya pop sebagai alat kapitalisme dan patriarki yang menciptakan kesadaran palsu di kalangan banyak orang. Bagi mereka, budaya pop juga tempat dipertarungkannya makna dan digugatnya ideology dominan. Akibatnya, tanpa sadar kita dipaksa patuh dengan logic of capital (logika proses produksi), yakni hal-hal yang dangkal yang cepat ditangkap dan cepat laku. Inilah yang sering dijuluki dengan instans culture.
Realitas demikian sungguh berbalik dari kulminasi identitas yang seharusnya terselamatkan kepada mahasiswa. Sebagaimana sejarah pergerakan dan perubahan di berbagai negara mencatat peranan gerakan mahasiswa sebagai inspirator melalui pemikiran dan tuntutannya. Mahasiswa tampil sebagai avant garde perjuangan dengan daya kritis dan keberaniannya, sehingga dikenang sebagai pahlawan dalam pengorbanannya, meskipun mahaiswa idealisnya tidak menempatkan dirinya sebagai pahlawan. Biarkanlah public yang menilai. Catatan perjuangan mahasiswa tidak selalu diakhiri dengan kemenangan, namun ide-ide perjuangan mahasiswa tidak akan pernah mati sampai kemenagan diraih oleh para kader penerus dan pendukungnya.
Dengan demikian, menjadi patut untuk kita pikirkan dengan memberi perhatian dalam usaha restorasi/perbaikan paradigma pikir mahasiswa saat ini ialah dengan mendahulukan segala hal berkaitan dengan pelurusan paradigma pikir atau cara pandang. Berpijak dari adanya kecenderungan mahasiswa diposisikan subordinat oleh oknum tertentu dengan mempergunakan celah yang a da ataupun memang karena ketidakmampuan kita selaku mahasiswa untuk bersikap sebagaimana mestinya. Tidak diragukan lagi bahwa kita memerlukan suatu landasan yang sangat kuat untuk melakukan perbaikan di internal kemahasiswaan kita. Salah satu unsure terpenting pada kekuatan mahasiswa adalah pemikiran.
Paradigm berfikir adalah kecenderungan manusiawi yang dinamis, ia dapat memengaruhi siapa saja, ia dapat menguatkan, dan dapat pula melemahkan. Apapun yang terjadi di dalam hidup kita mmerupakan realisasi dari pikiran kita yang dominan. Karenanya kita adalah hasil dari apa yang kita pikirkan. Oleh karena itu, upaya perbaikan terhadap pemikiran mahasiswa yang hedon dan jahiliah menjadi pemikiran yang idealis progresif adalah suatu kewajiban sehingga cahaya penegakkan jalan kebenaran senantiasa merupakan keniscayaan. Karena sangat tidak masuk akal, bahwa amal perbuatan dapat meneliti jalan yang benar, kalau pemikirannya saja tidak lurus. Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair “Bilakah bayangan akan lurus kalau tongkatnya bengkok?” atau sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Buddha “pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk”.
Apabila kita kembali menilik historigrafi perubahan radikal, tak satupun revolusi di dunia yang tidak berawal dari perubahan pemikiran, paradigm, atau visi. Dan untuk mengubahnya adalah dengan melalui pembacaan ulang. Sebab pemikiran akan berubah apabila ada bacaan baru atau informasi baru yang dipadukan dengan informasi yang berbeda dengan sebelumnya. Dapat dipetik pelajaran, mengapa wahyu yang pertama turun adalah surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5 berisi perintah membaca. Begitu juga yang semestinya menjadi pilihan kita selaku mahasiswa saat ini ingin melakukan revolusi ataupun gerakan lainnya yang sifatnya perbaikan adalah dengan cara melakukan pembacaan ualang terhadap kelamahan mahasiswa selama ini. Dan tak dapat dipungkiri bahwa penyakit akut yang mendera adalah pola pikir yang telah terkontaminasi virus-virus jahiliah instans culture/pop atau hedonism. Pola pikir inilah yang meski diberangus. Karena bagaimana pun juga, siapapun yang pandangannya tidak baik terhadap suatu perkara, maka perilakunya yang berkaitan dengan perkara itu juga tidak akan baik. Karena sesungguhnya perilaku itu sangat dipengaruhi oleh pandangannya, baik ataupun buruk.
Atas dasar itu, pertarungan pemikiran (ghozwul fikri) yang senantiasa bergulir dan berusaha untuk didominasi Neoliberalisme menjadi mesti untuk kita menangkan, maka urgensi pelurusan pemikiran yang menyimpang, dan konsep-konsep yang tidak benar menemukan relevansinya untuk diberi prioritas dan didahulukan oleh perkara yang lain. Hal ini digolongkan sebagai perang besar melawan kezaliman sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat Al-Furqan.
Dengan demikain, suatu hal yang mendesak untuk digalakan secara massif tentang upaya restorasi/perbaikan paradigm pikir mahasiswa dalam kaitannya dengan penciptaan atmosfer kehidupan kampus yang ilmiah dan religius.
Kelompok Mahasiswa
Mahasiswa sebagaimana masyarakat tidaklah homogeny. Dalam konteks perubahan paradigma pikir, setidaknya ada tiga kelompok mahasiswa. Pertama, Intelektual Progresif. Kelompok mahsiswa ini merupakan bagian mahasiswa yang memiliki kualitas tinngi. Mereka memahami betul visi, misi, dan tujuan menjadi mahasiswa. Pemikiran dan metode apa yang ditempuh dalam melakukan perubahan menuju tegaknya kebenaran demikian jelas di benak dan jiwanya. Mrekalah kader, perintis, sakaligus pejuang garis depan yang mengusung perjuangan untuk terpraktisikannya kalam-kalam kebanaran. Umumnya mereka sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan jumlah mahasiswa secara keseluruhan.
Kedua, Moralis Empatitis. Mereka adalah kelompok mahasiswa yang bukan ujung tombak perubahan. Mereka bukanlah kader perubahan, namun memiliki semangat dan dorongan untuk melakukan perubahan. Ketika opini menggiring mereka untuk mengganti sistim kapitalisme misalnya, kelompok mahsasiswa ini akan mendukungnya karena mereka mempunyai daya rasa yang sensitif untuk membela yang terampas haknya. Dalam waktu tertentu mereka menjadi masa mengambang apabila tanpa ada dorongan dari luar dirinya, namun momen tertentu bisa menjadi masa ideologis apabila besama kelompok mahasiswa intelektual progresif.
Ketiga, Hedonis. Berbeda dengan kedua kelompok mahasiswa di atas, mahasiswa hedonis tidak memiliki orintasi perjuangan. Bagi mereka yang penting adalah kondisi aman dan perut kenyang. Kondisi comfort zone adalah keadaan yang mereka gandrungi. Ketika penguasaannya menerapkan peraturan yang menindas, mereka ikut, kala penguasanya menerapkan kapitalisme, mereka pun setuju. Saat kawa-kawan mahasiswanya yang lain berjuang, mereka akan mendukung tapi hanya dengan niatan untuk sekadar mengisi waktu luang, bukan sebagai sesuatu yang seharusnya dilakukan. Tidak bisa disangsikan, di lingkup kelokalan mahasiswa, kelompok ini umumnya mayoritas.
Berdasarkan strukutur mahasiswa seperti itu, perbaikan paradigm pikir itu dilakukan terhadap pelaku utama (mahasiswa intelektual progresif) dan pelaku pendukung (mahasiswa moralitas empatitik dan hedonis). Pendekatan terhadap keduanya berbeda. Untuk para kader (mahasiswa yang telah terdaftar sebagai anggota biasa pada structural BEM ataupun UKM) pembentuknya lewat pembinaan intensif. Sebaliknya, perbaikan paradigma pikir pada kelompok mahasiswa lainnya sulit ditempuh lewat pembinaan intensif. Di samping tidak mungkin setiap orang dibina, juga tidak setiap orang siap untuk dibina. Karenanya, untuk menanamkan paradigma pikir yang ideal pada mereka, dilakukan dengan pembinaan umum.
Cahaya dengan terus mengembangakan opini umum, bukan sekadar opini, melainkan opini yang dibangun di atas kesadaran umum. Tanpa opini, kelompok mahasiswa yang memiliki kesadaran dan melakukan perubahan hanyalah sedikit. Itupun akan ditentang oleh bagian masyarakat yang tidak paham akan kebaikan perubahan yang dibawanya, apabila ada opini yang menyudutkannya. Di sinilah letak pentingnya opini umum. Dalam hal ini, bukan mahasiswa itu sendiri yang mempunyai tanggung jawab, tetapi seluruh citivas akademika kampus mesti turut serta termasuk di dalamnya birokrasi dengan amanah jabatannya dan dosen dengan otoritas mengajarnya yang idealnya bukan hanya memprioritaskan pembangunan kognitif tapi juga perbaikan paradigma pikir mahasiswa, misalnya dengan membangun opini di kampus bahwa aktivis tawuran adalah musuh bersama dan siapapun yang terlibat di dalamnya adalah penghianat-penghianat mahasiswa, mengingat aktivitas inilah yang paling ampuh mendiskreditkan integritas mahasiswa di masyarakat dan melemahkan gerakan mahasiswa. Hal ini merupakan salah satu selain masih banyak problem lainnya.
Pada sisi lain, perubahan paradigma pikir mahasiswa bukan semata-mata ditujukan agar kebenaran ditegakkan, melainkan juga demi lestarinya nilai-nilai kebenaran tersebut. Siapa yang mesti menggawanginya? Tidak cukup hanya sekadar sata atau dua kelompok mahasiswa. Yang harus menggawanginya adalah mahasiswa itu sendiri. Hal ini tidak akan terjadi jika opini yang berkembang bukanlah opini yang mendukung mahasiswa. Lagi-lagi, pembentukan opini menjadi suatu perkara yang mutlak dalam perubahan paradigma pikir mehasiswa menuju cita idealitasnya. Pembentukan opini yang demikian merupakan salah satu metode yang ditempuh sang revolusioner sejati Nabi Muhammad saw. Dulu, ketika di Makkah, Rasulullah saw. membina para sahabatnya di rumah Arkam bin Abil Arqam secara intensif. Para sahabat pun saling membina satu sama lain di rumah-rumah mereka.
Selain itu, Rasul saw. membentuk opini umum dengan mengundang berbagai suku di bukit Shafa, atau mengundang makan sanak family dan kerabat-kerabatnya di rumah, lalu menyampaikan dakwah kepada mereka. Rasul saw. melakukan pembinaan intensif sekaligus pembinaan umum lewat pembentukan opini. Kalau pembentukan kader melalui pembinaan intensif diibaratkan sayap kanan, maka pembentukan opini umum sebagai agitasi propaganda merupakan sayap kirinya.
Pecundang Bukan Pilihan
Harus diakui, tak bisa disangsi bahwa perang pemikiran ini setidaknya sampai saat ini, terkadang dimenagkan oleh oknum-oknum yang ingin agar gerakan mahasiswa stagnan dan terkungkung dalam kesalahan. Para Thogut (anti kebenaran) menuai untung, kita yang terhempas. Tentuntan tidak ingi kondis ini member kita beban yang begitu berat. Jadi, saatnya kita bangkit dari keterpurukan ini. Hiidup jadi pecundang tidak saja menyakitkan, tetapi juga terhina total. Itu sebabnya, kita tetap waspada dengan kondisi ini. Waspada dalam pengertian tidak mudah tergoda dengan budaya baru yang kontra dengan prestise agent of change, Agent of Social Control dan iron stoke. Dengan kata lain, pandai memilih dan memilah. Kita harus dalam menilai budaya tersebut sebagi lawan, bukan yang lain. Sebagai manusia kita adalah satu-satunya makhluk hidup di dunia ini yang memiliki kemampuan berfikir mengenai proses berfikir. Istilah teknisnya adalah metakignisi. Tidak sedikit mahasiswa yang tidak sadar, tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau bahkan tidak mau tahu bahwa mereka sebenarnya terjerambab ke dalam paradigma pikir yang hedon. Dan sebab itu, mereka tidak pernah sadar bahwa seumur hidup mereka telah menjadi budak atau hamba dari pikiran mereka sendiri.
Kampus Ilmiah dan Religius
Menurut Al-Gazali, ilmiah (berasal bahasa Arab ‘ilmy) dimaknai sebagai suatu aqly (bersiat akal) yang lebih tinggi sifatnya dari dua tingkat pengetahuan di bawahnya. Dua pengetahuan di bawahnya yaitu pertama adalah pengetahuan takliqy (otoriter, bersifat pedagogis). Tingkat pengetahuan yang kedua adalah pengetahuan inderawi, yaitu pengetahuan yang dapat dijelaskan dengan bantuan/ pembuktian panca indera. Kampus yang ilmiah adalah kampus yang segala halnya lebih mengedepankan pemahaman/pengertian yang objektif tentang suatu hal yang bbersifat logis (dapat diterima akal/rasio/penalaran/pikiran). Sedagkan religious dalam pengertiannya yang lebih progresif dan militant adalah keadaan dimana perjuangan melawan hawa nafsu adalah kelaziman, baik hawa nafsu di luar diri seperti kkeserakaha dan kebejatan system dan struktur maupun hawa nafsu dalam diri seperti paradigma pikir hedois dan sebagainya sebagai sebuah antitesa ketidakadilan dan kebatilan yang mesti dilawan dengan logika, etika, dan cinta. Ilmiah dan religius, tatanan kampus inilah yang berusaha untuk kita realisasikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar