Oleh
ARIFIN
Kontunaga adalah sebuah desa yang terletak di Kabupaten Muna, yang hanya berjarak sekitar sebelasa km dari kota Raha. Bila ditempuh dengan menggunakan kendaraan beroda dua, hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menjangkau kampungku. Kontunaga juga merupakan nama sebuah kecamatan sekaligus merangkap menjadi nama ibu kotanya yaitu Kecamatan Kontunaga dengan ibu kota Kontunaga. Desa Kontunaga adalah sebuah desa yang tidak tercantum dalam peta Kabupaten Muna, apalagi dalam peta Sulawesi Tenggara. Mungkin ketika peta Kabupaten Muna dibuat, kata Kontunaga tidak ada dalam benak pembuat peta. Atau mungkin orang takut dengan sebutan Kontunaga ysng identik dengan Naga. Atau mungkin lupa karena kontunaga hanya sebuah kampong kecil yang terpinggirkan, yang tidak memiliki arti apa-apa bagi kebanyakan orang.
Dahulu desa Kontunaga bernama Kontudopi, kontu berarti batu dan dopi berarti papan. Jadi kontudopi berarti batu papan atau batu yang berbentuk seperti sebuah papan. Dinamakan Kontudopi karena di kampungku ada sebuah bongkahan batu besar yang berbentuk seperti papan. Namun, seiring dengan bergantinya waktu, berkembangnya zaman, maka nama kontudopi berganti nama menjadi kontunaga, kontu berarti batu, dan naga berarti naga. Jadi kontunaga adalah batu yang berbentuk naga, memang kedengarannya lain, tapi begitulah adanya. Bergantinya nama kontudopi menajdi kontunaga karena ditemukannya sebuah batu berbentuk naga di bagian molo (pegunungan). Mungkin di dunia ini tidak ada kampung diman kampung itu pernah hidup seekor naga selain kampungku. Di dunia ini belum ada seseorang yang melihat naga secara nyata, selain orang-orang di kampungku pada waktu itu, jadi seharusnya sejarah kampungku bisa masuk dalam cerita dunia diman pernah hidup seekor naga di dalamnya dan ini bisa menjadi sejarah dunia yang bisa sangat mengglobal.
Mungkin orang akan bertanya-tanya benarkah ada batu berbentuk naga? Dan dengan lantangnya saya akan mengatakannya ya, kalau Anda tidak percaya silahkan jalan-jalan di kampungku dan buktikan sendiri kebenarannya. Tetapi kalau Anda bertanya tentang sejarah kontunaga, Anda harus menanyakannya kepada orang tua kampong yang ada di desaku.
Konon kata orang-orang yang dahulu hidup dan bermukim di kontunaga, di kampungku hidup seekor naga rakasasa. Setiap harinya naga itu selalu meminta kepada masyarakat untuk memberinya makanan. Pemberiaan makanan kepada naga selalu dilakukan oleh orang-orang yang hidup di kontunaga secara rutin dalam setiap harinya, sehingga orang-orang sangat akrab dengan naga tersebut. Pada awalnya naga itu tidak ganas, mungkin seperti hewan-hewan yang lain juga pada umumnya. Jika datang mutnya maka dia akan baik, tetapi jika dalam keadaan tidak mut maka dia akan berubah menjadi raksasa yang sangat menyeramkan. Awalnya naga itu hidup makmur dengan warga kampong. Dia selalu membantu warga kampong dalam setiap kegiatan. Namun, seiring berjalannya waktu warga mulai tidak senang dengan keberadaan naga raksasa itu, karena mereka sudah tidak sanggup lagi member makan naga itu dengan porsi yang sangatlah banyak. Hingga pada suatu hari warga tidak menyiaapkan makanan pada naga itu. Naga rakasasa itu pun marah, dia mengamuk menghancurkan kampungku. Dia membunuh setiap warga yang dia lihat. Sehingga banyak warga kampong yang menjadi korban keganasan naga raksasa itu. Warga pun beramai-ramai membuat perangkap untuk menangkap naga itu. Akhirnya, naga itu berhasil dilumpuhkan berkat kesaktian salah seorang warga kampung. Naga itu akhirnya terbang ke langit dan meninggalkan kepalaya di kampungku, yang kini dijadikan sebagai symbol kampungku. Dan orang sakti yang berhasil melumpuhkan naga itu, ketika dia meninggal, dia dikuburkan di dekat batu yang berbentuk naga itu.
Selintas membaca cerita itu, mungkin kita agak sedikit ngiris dan betanta-tanya akan kebenaran cerita tersebut. Apakah cerita itu memang benar adanya atau tidak, tidak ada yang tahu. Mau bertanya kepada pepohonan tidak mungkin. Atau mau bertanya kepada gunung-gunung tempat batu berbentuk naga itu berada juga tidak mungkin. Atau mau bertanya kepada kicauan burung-burung pada pagi hari juga tidak mungkin, karena batu yang berbentuk naga itu lebih tua dari pepohonan dan gunung-gunung tetapi lebih muda dari sejarah kampungku. Mungkin sejarah kampungku hamper sama dengan film-film di televisi yang menjadi seekor naga sebagai salah satu tokohnya, yang menceritakan tentang seekor naga yang selalu mengganggu kehidupa rakyat yang mulanya hidup makmur dengan warga. Atau seorang anak manusa yang melahirkan seekor naga karena suaminya bersekutu denga jin yang wujudnya berbentuk naga sehingga keturunannya akan adaa seekor naga, yang kemudian naga itu berbuat kkerusakan di kampung itu. Mungkinkan naga yang hidup di kampungku berpuluh-puluh ribu tahun yang lalu itu adalah anak dari seorang warga di kampungku? Entah dari mana naga itu berasal, tanah pun yang menjadi saksi kehidupan juga tak mampu menjawabnya.
Ketika matahari menyabut datangnya fajar, para petani denga pacul yang diletakan di punggung, berjalan melintasi hutan, menuruni lereng-lereng, tanpa peduli hujan atau panas. Mereka menuju kebun yang digarap untuk menyambung hidup di masa depan. Ketika matahari kembali ke peraduannya, angin bertiup kencang menebarkan hawa dingin yang cukup menggigiti tulang di sum-sum, ditambah denga suara burung hanru semakin menambah dingin malam dan sunyinya kampungku bagaikan kora mati atau rumah tua yang ditinggal penghuninya.
Bukit-bukit dengan gunung-gunungnya yang tinggi berjejeran, pepohonan yang berhijauan menambah semakin indahnya panorama akampungku. Namun, jalannya yang sudah tua dan rusak, yang lebih tua dari usia bebatuan di lereng-lereng gunung membuat hatiku ngiris memikirkan perkembangan di kampungku. Mungkinkah ini adalah karma dari naga itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar