welcome

Jumat, 08 Juni 2012

RPP

RPP paragraf Deduktif dan Induktif

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Satuan Pendidikan    : SMA
Mata Pelajaran         : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester        : XI/I
Alokasi waktu          : 2 X 40 menit

A. STANDAR KOMPETENSI
Menulis: menggungkapkan pikiran, pendapat, dan informasi dalam penulisan karangan berpola deduktif dan induktif.

 B. KOMPETENSI DASAR
Menulis karangan berdasarkan topik tertentu dengan pola pengembangan deduktif dan induktif

  C. INDIKATOR

  1.  Kognitif
   a. proses
  •     Menemukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf
  •     Menemukan kalimat penjelas yang mendukung kalimat utama
  •     Menemukan paragraf induktif dan deduktif
    b.  Produk
  •     Menentukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf
  •     Menentukan kalimat penjelas yang mendukung kalimat utama
  •     Menentukan paragraf induktif dan deduktif
  2.  Psikomotor
  •     Menjelaskan perbedaan paragraf deduktif dan induktif
  3.  Afektif
    a. Karakter
  •     tanggung jawab
  •     kritis
  •      disiplin
    b.  Keterampilan sosial
  •     Berbahasa santun dan komunikatif
  •     Partisipasi dalam (kerja sama) kelompok
  •     Membantu teman yang mengalami kesulitan
  D.  TUJUAN PEMBELAJARAN
  1.  Kognitif
     a.Proses
Setelah membaca dan memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca nyaring, siswa secara berkelompok diharapkan dapat
   1. Menemukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf
   2. Menemukan kalimat penjelas yang mendukung kalimat utama
   3. Menemukan paragraf induktif dan deduktif
     b. Produk
Setelah menemukan hasil pencapaian tujuan proses di atas, siswa secara berkelompok diharapkan dapat
   1. Menentukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf
   2. Menentukan kalimat penjelas yang mendukung kalimat utama
   3. Menentukan paragraf induktif dan deduktif

   2. Psikomotor
Setelah menentukan dan memahami hasil pencapaian tujuan produk di atas, siswa secara mandiri diharapkan dapat
   1. Menjelaskan perbedaan paragraf deduktif dan induktif 

  3.  Afektif
    a. Karakter
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan dalam berperilaku yang meliputi sikap
  •     tanggung jawab
  •     kritis
  •      disiplin
  b.  Keterampilan sosial
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan kecakapan sosial yang meliputi
  •     Berbahasa santun dan komunikatif
  •     Partisipasi dalam (kerja sama) kelompok
  •     Membantu teman yang mengalami kesulitan

   E. MATERI PEMBELAJARAN
  •    Paragraf yang berpola deduktif dan induktif
  •     Kalimat utama dan kalimat penjelas
  •     Perbedaan deduktif dan induktif
    F.MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN
  1.  Pendekatan: Pembelajaran Kontekstul
  2.  Model Pembelajaran: Kooperatif Tipe STAD
  3.  Metode: tanya jawab, pemodelan, penugasan, dan unjuk kerja
   G. BAHAN DAN MEDIA
  •     Wacana tulis (artikel)
  •     LKS
  •     Kertas HVS
    H. ALAT
  •     Spidol
  •     Format evaluasi
  •     Pedoman penilaian dan penskoran

I. SKENARIO PEMBELAJARAN

Nokegiatan penilaian pengamat   1   

PERTEMUAN I (80 menit)1234
A1
KegiatanAwal (15):                      Tahap 1(5 menit): Pemancingan dengan mula-mula menanyakan kesiapan belajar siswa, lalu menanyakan pengetahuan dan pengalaman siswa tentang paragraf.
Tahap 2 (10 menit): Pengarahan dengan mula-mula bertanya jawab tentang jenis-jenis paragraf  berdasarkan letak kalimat utamanya, kemudian diakhiri dengan penegasan guru tentang tujuan pembelajaran yang harus dicapai dalam proses pembelajaran pada pertemuan itu.              



B1

Kegiatan Inti (55 menit):(55 menit):                  guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, kemudian memberikan pemahaman kepada siswa mengenai paragraf deduktif dan induktif, serta perbedaan antara kalimat utama dan kalimat penje





C1 

Kegiatan Akhir (10 menit)                              Siswa bersama guru merumuskan kesimpulan umum atas semua butir pembelajaran yang telah dilaksanakan;
Siswa  diminta menyampaikan kesan dan saran (jika ada) terhadap proses pembelajaran yang baru selesai mereka ikuti;
Guru menugaskan siswa untuk mencari artikel di media masa yang akan mereka identifikasi paragraf deduktif dan induktif  








   J. SUMBER PEMBELAJARAN
  1.  Wacana tulis
  2.  Materi Essensial MGMP Sekolah
  3.  Lembar Pegangan Guru
  4. LKS 1 ; LKS 2
  5. LP 1 ; LP 2
  6.  Silabus
    K. EVALUASI DAN PENILAIAN

1. Evaluasi
a. Evaluasi Proses: dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap aktivitas peserta  (siswa) dalam menggarap tugas, diskusi, kegiatan tanya jawab, dan dialog informal.
b. Evaluasi Hasil: dilakukan berdasarkan analisis hasil pengerjaan tugas dan pengerjaan tes, dan pengamatan unjuk keterampilan (performance)

 2. Penilaian
 a. Jenis Tagihan Penilaian: LKS 1 dan LP 1, LKS 2 dan LP 2, , LP 4, LP 5
     1) Tugas Individu: menggunakan LKS 3 ; LP 3
 b.Bentuk Instrumen Penilaian:
     1). Uraian bebas
     2). Jawaban singkat
     3). Pilihan ganda





Satuan Pendidikan    : SMA
Mata Pelajaran    : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester    : XI/I
Standar Kompetensi    : Membaca
Kompetensi Dasar      : Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan           membaca intensif

LEMBAR PEGANGAN GURU
 (LPG)

Pengertian Paragraf
Paragraf (dari bahasa Yunani paragraphos, “menulis di samping” atau “tertulis di samping“) adalah Unit terkecil sebuah karangan yang terdiri dari kalimat pokok atau gagasan utama dan kalimat penjelas atau gagasan penjelas. Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi.
Syarat sebuah paragraf di setiap paragraf harus memuat dua bagian penting, yakni :
    Kalimat utama
Biasanya diletakkan pada awal paragraf, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir paragraf. Kalimat pokok adalah kalimat yang inti dari ide atau gagasan dari sebuah paragraf. Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas.
    Kalimat Penjelas
Kalimat penjelas adalah kalimat yang memberikan penjelasan tambahan atau detail rincian dari kalimat pokok suatu paragraf.

2. Jenis Paragraf Berdasarkan Letak Kalimat Utama
Letak kalimat utama juga turut menentukan jenis paragraf. Penjenisan paragraf berdasarkan letak kalimat utama ini terbagi atas 4 yakni :
    Paragraf Deduktif
Paragraf dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat utama. Kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas yang berfungsi menjelaskan kalimat utama. Paragraf ini biasanya dikembangkan dengan metode berpikir deduktif, dari yang umum ke yang khusus.

Dengan cara menempatkan gagasan pokok pada awal paragraf, ini akan memungkinkan gagasan pokok tersebut mendapatkan penekanan yang wajar. Paragraf semacam ini biasa disebut dengan paragraf deduktif, yaitu kalimat utama terletak di awal paragraf.

    Paragraf Induktif
Paragraf ini dimulai dengan mengemukakan penjelasan-penjelasan atau perincian-perincian, kemudian ditutup dengan kalimat utama. Paragraf ini dikembangkan dengan metode berpikir induktif, dari hal-hal yang khusus ke hal yang umum.
    Paragraf Campuran (Deduktif-Induktif)
Pada paragraf ini kalimat topik ditempatkan pada bagian awal dan akhir paragraf. Dalam hal ini kalimat terakhir berisi pengulangan dan penegasan kalimat pertama. Pengulangan ini dimaksudkan untuk lebih mempertegas ide pokok. Jadi pada dasarnya paragraf campuran ini tetap memiliki satu pikiran utama, bukan dua.
    Paragraf Tersebar
Paragraf ini tidak mempunyai kalimat utama, berarti pikiran utama tersebar di seluruh kalimat yang membangun paragraf tersebut. Bentuk ini biasa digunakan dalam karangan berbentuk narasi atau deskripsi.



DAFTAR PUSTAKA
Irawan, yudi (dkk). 2007. Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia. Jakarta : Pusat Perbukuan



               
LEMBAR PENILAIAN

LP 1 : KOGNITIF PROSES
Pedoman Penskoran LKS 1

No. 

Komponen
DeskriptorSkorBobotSkor x BobotCatatan
1.  Menemukan kalimat utama dan kalimat penjelas dalam  paragraf   a.Dapat menemukan kalimat utama  dan kalimat penjelas pada semua paragraf
b.Hanya dapat menemukan kalimat utama  dan  kalimat penjelas pada beberapa  paragraf .
c.Tidak dapat menemukan  kalimat utama dan kalimat penjelas dalam paragraf.  

2


1


5      

2.   Menemukan paragraf yang berpola deduktif dan induktifa.Dapat menemukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada semua paragraf
b.Hanya dapat menemukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada beberapa  paragraf .
c.Tidak dapat menemukan  paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada semua paragraph  
2


1

0  

5  


Jumlah





Catatan :  0 = Sangat kurang  1  = kurang   2 = baik 

Cara Pemberian NilaiRumus :
nilai=   (skor perolehan siswa)
           (skor maksimum)          X 100


LP 2 : KOGNITIF PRODUK
Pedoman Penskoran LKS 2

No.

Komponen 

Deskriptor
SkorBobot  Skor x Bobot Catatan

1.
Menentukan kalimat utama dan kalimat penjelas dalam  paragrafa.Dapat menentukan kalimat utama  dan kalimat penjelas pada semua paragraf
b.Hanya dapat menentukan kalimat utama  dan  kalimat penjelas pada beberapa  paragraf .
c.Tidak dapat menentukan  kalimat utama dan kalimat penjelas dalam paragraf.  

2


1


0   
5      

2.
Menentukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif
a.Dapat menentukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada semua paragrafb.Hanya dapat menentukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada beberapa  paragraf .
c.Tidak dapat menentukan  paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada semua paragraf
2


1

0  
5

jumlah





Catatan :  0 = Sangat kurang  1  = kurang   2 = baik 
Cara Pemberian Nilai
Rumus :
nilai=(skor perolehan siswa)/(skor maksimum)    X 100


              
LP 3 = Psikomotor
Pedoman Penskoran LKS 3


No.   Komponen  Deskriptor SkorBobot  Skorx
Bobot
Catatan
1.Menjelaskan perbedaan paragraf deduktif dan induktifa.Dapat menjelaskan dengan sangat jelas dengan bahasa yang efektif dan santun.
b.Dapat menjelaskan, namun dengan terbata-bata.
c.Tidak dapat menjelaskan apa-apa.  


3

2

0  
5

jumlah





Catatan :  0 = Sangat kurang 2 = cukup baik  3 = baik 
Cara Pemberian Nilai
Rumus :

nilai=(skor perolehan siswa)/(skor maksimum)    X 100



LP 4 = Afektif : Perilaku Berkarakter
Petunjuk :
Berikan penilaian atas setiap perilaku berkarakter siswa menggunakan skala berikut :
A = sangat baik            B = memuaskan
C = Cukup baik            D = kurang baik



No.

Rincian tugas kinerja
Memerlukan perbaikan
(D)
Menunjukkan kemajuan
(C)
Memuaskan(B)    Sangat baik(A)
1.Tanggung jawab



2.Kritis



3.Disiplin






Hari/Tanggal :

Guru/Pengamat


(…………………..)




LP 5 = Afektif : Perilaku Keterampilan Sosial
Petunjuk :
Berikan penilaian atas setiap perilaku berkarakter siswa menggunakan skala berikut :
A = sangat baik            B = memuaskan
C = Cukup baik            D = kurang baik

No.Rincian tugas kinerjaMemerlukan perbaikan(D)   Menunjukkan kemajuan(C) Memuaskan(B)  Sangat baik(A)
1.
 Berbahasa santun dan komunikatif              




2.Partisipasi dalam (kerja sama) kelompok



3.Membantu  teman yang kesulitan              






Hari/Tanggal :

Guru/Pengamat


(…………………..)




MEDIA PEMBELAJARAN

Bacalah Kutipan Artikel Berikut!
Efek Rumah Kaca

       Segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika mengenai permukaan bumi, energi berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagi radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun, sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini.gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi. Akibatnya panas akan tersimpan di permukaan bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata  tahunan bumi terus meningkat.
      Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsenterasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala mahkluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15˚C (59˚F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33˚C (59˚F) dengan efek rumah kaca (tanpanya suhu bumi hanya -18˚C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi). Akibatnya jumlah gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.
     Kenaikan suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan.misalnya naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan
        Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perbedaan politik dan publik di dunia mengenai tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut. Sebagian besar Negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca

                                                                                                                 Kendari,  Desember 2011
Guru Pamong                                                                                           Mahasiswa KKP                                                              
HARLINA, S.Pd                                                                                              A R I S
NIP  197605292007012012                                                                         A1D1 07 105




Mengetahui,
Kepala SMA Kartika VII-2 Kendari


Drs. H. NP. DAHLAN





Kamis, 07 Juni 2012

GALAU

Sudah lama keluh cintaku
Untuk selalu bersamamu kasih
Sudah lama aku ternista
Dalam kasih yang tak pasti

Sejuta duka telah kucipta
Lantas aku tercampakan
Dalam sakit menggigit

Kucoba membela diri
Mereguk nostalgia merenda mimpi
Tapi sia-sia
Semua sudah berlalu
Tinggal kenangan
Lantas kupandang sang bulan
Kumenanti jawaban
Mungkinkah dia kembali
Meminta hati
Mengharap kasih
Tapi hanya galau yang menghadang

Kasih
Hatiku menjerit sakit
Cintaku tercabik terhimpit
Dalam mimpi aku masih berharap
Masih mungkinkah dia kembali padaku
Masih adakah sisa cintanya untukku
Kendari, 2012

SIA-SIA KUKAU HARAP

Kenapa kau masih saja bermimpi
Padahal kasihku sudah lama terkunci
Walau kau hardik aku, dan beri aku sejuta harapan
Kau tidak kan dapat apa-apa, hanya hati kita yang luka

Dan kau tidak dapat apa-apa, kecuali harap
Bisa saja kau robek jiwaku
Dengan janji indah
Tetapi benar-benar takan ada yang kau dapat
Hanya kenangan yang tak tentu
Tidak pernah jiwaku
Tidak pula kasihku
Dan tidak pula cintaku
Tidak! Tidak mungkin itu

Engkau berdiri menangis di atas menara
Aku tak melihat siapa engkau
Tapi jelas engkaulah kenanganku
Berawal dari mimpi
Dan berakhir dengan mimpi
Tapi jiwaku telah lama menangis
Mengharap hujan dimusim kemarau
Yang mampu membasahi lereng
Tetapi tidak dengan jiwaku
Hatiku terlalu kering untuk kau basahi
Karena cintaku memang bukan milikmu
Kendari, Mei 2012

KENANGAN

Kupandang potret wajahmu
Manis dan cantik
Kasihku tercinta entah di hati yang mana

Kuingat masa lalu kita
Begitu indah untuk dikenang
Tetapi semua tinggal kenangan

Kupandang raut wajahmu
Menembus segala rasa rinduku padamu, tapi itu dulu
Cerita masa lalu
Harapan yang tak mau terwujud
Kenangan itu, setiap gambarmu melukiskan cerita tentang kita
Bukan bernostalgia, tetapi betapa jiwaku masih menyayangimu
Waktu telah mengubur segalanya
Menjadi kenangan terindah

Kukenang masa lalu
Mengapa begitu singkat
Kisah kasih kita
Segalanya hanya sepintas
Datang dan pergi begitu saja
Meninggalkan sejuta cerita
Dan luka mengiris hati

Kendari, 2012

RINDU

Mata batinku mengharap jumpa
Denganmu wahai sang pemilik hati
Telah lupa apa makna kasih
Telah habis untaian kata
Merajuk makna
Untuk mewujud dalam harap
Kian kusebut kian tak berarti
Kian kuingat kian merindu

Seharusnya aku lama mencari arti
Tapi relung hatiku selalu penuh
Jelaga hitam kehidupan
Menutup cahaya batinku

Lama batinku menangis
Meratapi harapan jumpa
Dengan engkau wahai sang kekasih
Kalau kubisa meminta waktu
Ingin kutumpahkan semuanya
Segala rasa rinduku
Namun samudera bumi tak mampu menampungnya
Wajah dan cintamu kekasih
Biarlah menutupi seluruh jiwaku
Di bawah bentangan laut aku menanti
Kendari,  Mei 2012

TAKUT MATI, SALAHKAH?

Oleh
ARIFIN
    Tidak salah, kalau Anda merasa takut mati. Rasa takut itu adalah fihtrah, dan manusia hidup sudah dibekali dengan berbagai perangkat dan kemampuan untuk mempertahankan hidup, sebatas yang dikehendaki oleh Allah Yang Maha Kuasa. Dan sesungguhnya kondisi kejiwaan seperti itu sudah diisyaratkan firman Allah dalam QS. Al-jumu’ah:8,
     Fitrah manusia, mengajak siapapun menghindari kematian. Makan dan minum bukan saja soal kebutuhan, soal nafsu dan selera, tetapi juga soal mempertahankan hidup. Kenapa manusia harus belajar menghemat uang, belajar bertahan dalam lapar, bahakan juga mempelajari seni bela diri untuk bertahan mrnghadapi serangan dari luar dirinya? Karena secara fitrah, manusia sudah terdiorong untuk bertahan hidup, menghindari mati, atau minimal menurut logika kefitrahan adalah menunda kematian.
    Meski tak seorang pun bisa berlari dari kematian, tapi Allah tidak menyalahkan orang yang selalu mencoba bertahan untuk hidup, selama ia bisa, dan selama itu diperbolehkan. Bahkan dalam kondisi  demikian, seseorang berkewajiban mempertahankan hidup yang merupakan karunia Allah atas diirinya. Maka segala usaha yang dilakukan oleh manusia saat ini, seperti makan, minum, berolahraga atau beristirahat, tidak lain adalah proses alami mempertahankan hidup dan menghindari kematian, sebagaimana yang difitrahkan oleh Allah dalam diri mereka.
    Namun, tentu berbeda makna antara takut mati dengan membenci kematian. Sangat tidak sama antara takut mati dengan ketakutan menghadapi kematian.
    Rasa takut terhadap mati, seperti halnya rasa khawatir atau takut terhadap penyakit, terhadap rasa sakit, terhadap kemiskinan, atau hal-hal yang dinggap  buruk oleh umumnya manusia. Berbeda dengan kebencian terhadap kematian. Rasa benci terhadap kematian itulah yang bisa menyebabkan seseorang mencintai hidup dan enggan bersiap-siap menghadapi mati. Seperti yang selalu disebutkan dalam hadits, “cinta dunia dan takut mati”
    Begitu pula dengan sikap ketakutan menghadapi kematian. Takut berbeda dengan ketakutan. Orang yang merasa takut terhadap musuh pun masih dianggap wajar. Namun, ketakutan menghadapi musuh adalah berbahaya, karena ujung-ujungnya adalah  lari dari peperangan.
    Insting seseorang adalah selalu bergerak untuk merasa takut menghadapi mati. Namun orang yang ketakutan menghadapi mati adalah orang yang tak pernah merasa siap menghadapinya. Ia hanya selalu berusaha memuaskan diri dengan hidup dan kehidupan, hanya suka bersenang-senang, dan nyaris tak pernah memikirkan soal mati dan kematian. Orang yang seperti itu akan sangat ketakutan menghadapi mati. Bahkan ia rela membiarkan banyak orang mati ,  asalkan ia bisa terus hidup. Da sesungguhnya orang seperti  itu justru kehilangan kenyamanan menikmati hidup.
    Gambarannya seperti seorang pemimpin umat yang kerjanya hanya menumpuk kekayaan melalui korupsi dan sejenisnya. Ia hanya menghabiskan masa jabatannya dengan ketakutan, memuaskan diri tapi tidak pernah merasakan kepuasan. Turun dari jabatan, apalagi sebelum berakhirnya masa jabatannya, sungguh merupakan kiamat bagi tipikal pemimpin seperti itu. Bayangkan hilangnya kekuasaan dan potensi untuk menghuni jeruji besi sungguh merupakan siksaan tersendiri yang menyebabkan hidupnya tak pernah nyaman.

RESTORASI KELEMBAGAAN MAHASISWA

Oleh
ARIFIN

    Diskusi seputar paradigm pikir mahasiswa menemukan urgensinya ketika gejala teralienasinya peran dan fungsi mahasiswa muncul di mana-mana. Keinginan untuk mengkritisi ulang terhadap pola sikap mahasiswa diperlihatkan oleh sebagian mahaasiswa yang kecewa terhadap label-label perguruan tinggi. Kondisi demikian diperparah dengan adanya pengaburan identitas dari yang sesungguhnya oleh sebagian media melalui propaganda isu yang mereka lemparkan ke publik yang cenderung menjadikan isu seputar mahasiswa sebagai komoditi profit agar rating penjualan informasinya kian melonjak dengan menegasikan faktor edukatif di dalamnya. Lebih jauh dan kompleks, peran dan fungsi mahasiswa itu sendiri senantiasa memdapat soorotan. Apalagi saat ini, berkembangnya insstans culture alias budaya pop/hedon juga tak luput telah menggerus identitas dan kepribadian mahasiswa.
    Pola berpikir mahasiswa biasanya mengikuti pola berfikir kultur dominan di kampus sehingga sudah tidak sedikit yang terhipnotis dan tergiur dengan gemerlapnya budaya ini. Itu sebabnya, seperti yang disinyalir oleh kritikus Lorraine Gamman dan Margaret Marshment yang bersepakat bahwa budaya pop adalah sebuah medan pergulatan ketika mengemukakan bahwa tidaklah cukup bagi kita untuk semata-mata menilai budaya pop sebagai alat kapitalisme dan patriarki yang menciptakan kesadaran palsu di kalangan banyak orang. Bagi mereka, budaya pop juga tempat dipertarungkannya makna dan digugatnya ideology dominan. Akibatnya, tanpa sadar kita dipaksa patuh dengan logic of capital (logika proses produksi), yakni hal-hal yang dangkal yang cepat ditangkap dan cepat laku. Inilah yang sering dijuluki dengan instans culture.
    Realitas demikian sungguh berbalik  dari kulminasi identitas yang seharusnya terselamatkan kepada mahasiswa. Sebagaimana sejarah pergerakan dan perubahan di berbagai negara mencatat peranan gerakan mahasiswa sebagai inspirator melalui pemikiran dan tuntutannya. Mahasiswa tampil sebagai avant garde perjuangan dengan daya kritis dan keberaniannya, sehingga dikenang sebagai pahlawan dalam pengorbanannya, meskipun mahaiswa idealisnya tidak menempatkan dirinya sebagai pahlawan. Biarkanlah public yang menilai. Catatan perjuangan mahasiswa tidak selalu diakhiri dengan kemenangan, namun ide-ide perjuangan mahasiswa tidak akan pernah mati sampai kemenagan diraih oleh para kader penerus dan pendukungnya.
    Dengan demikian, menjadi patut untuk kita pikirkan dengan memberi perhatian dalam usaha restorasi/perbaikan paradigma pikir mahasiswa saat ini ialah dengan mendahulukan segala hal berkaitan dengan pelurusan paradigma pikir atau cara pandang. Berpijak dari adanya kecenderungan mahasiswa diposisikan subordinat oleh oknum tertentu dengan mempergunakan celah yang a da ataupun memang karena ketidakmampuan kita selaku mahasiswa untuk bersikap sebagaimana mestinya. Tidak diragukan lagi bahwa kita memerlukan suatu landasan yang sangat kuat untuk melakukan perbaikan di internal kemahasiswaan kita. Salah satu unsure terpenting pada kekuatan mahasiswa adalah pemikiran.
    Paradigm berfikir adalah kecenderungan manusiawi yang dinamis, ia dapat memengaruhi siapa saja, ia dapat menguatkan, dan dapat pula melemahkan. Apapun yang terjadi di dalam hidup kita mmerupakan realisasi dari pikiran kita yang dominan. Karenanya kita adalah hasil dari apa yang kita pikirkan. Oleh karena itu, upaya perbaikan terhadap pemikiran mahasiswa yang hedon dan jahiliah menjadi pemikiran yang idealis progresif adalah suatu kewajiban sehingga cahaya penegakkan jalan kebenaran senantiasa merupakan keniscayaan. Karena sangat tidak masuk akal, bahwa amal perbuatan dapat meneliti jalan yang benar, kalau pemikirannya saja tidak lurus. Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair “Bilakah bayangan akan lurus kalau tongkatnya bengkok?” atau sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Buddha “pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk”.
    Apabila kita kembali menilik historigrafi perubahan radikal, tak satupun revolusi di dunia yang tidak berawal dari perubahan pemikiran, paradigm, atau visi. Dan untuk mengubahnya adalah dengan melalui pembacaan ulang. Sebab pemikiran akan berubah apabila ada bacaan baru atau informasi baru yang dipadukan dengan informasi yang berbeda dengan sebelumnya. Dapat dipetik pelajaran, mengapa wahyu yang pertama turun adalah surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5 berisi perintah membaca. Begitu juga yang semestinya menjadi pilihan kita selaku mahasiswa saat ini ingin melakukan revolusi ataupun gerakan lainnya yang sifatnya perbaikan adalah dengan cara melakukan pembacaan ualang terhadap kelamahan mahasiswa selama ini. Dan tak dapat dipungkiri bahwa penyakit akut yang mendera adalah pola pikir yang telah terkontaminasi virus-virus jahiliah instans culture/pop atau hedonism. Pola pikir inilah yang meski diberangus. Karena bagaimana pun juga, siapapun yang pandangannya tidak baik terhadap suatu perkara, maka perilakunya yang berkaitan dengan perkara itu juga tidak akan baik. Karena sesungguhnya perilaku itu sangat dipengaruhi oleh pandangannya, baik ataupun buruk.
    Atas dasar itu, pertarungan pemikiran (ghozwul fikri) yang senantiasa bergulir dan berusaha untuk didominasi Neoliberalisme menjadi mesti untuk kita menangkan, maka urgensi pelurusan pemikiran yang menyimpang, dan konsep-konsep yang tidak benar menemukan relevansinya untuk diberi prioritas dan didahulukan oleh perkara yang lain. Hal ini digolongkan sebagai perang besar melawan kezaliman sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat Al-Furqan.
      Dengan demikain, suatu hal yang mendesak untuk digalakan secara massif tentang upaya restorasi/perbaikan paradigm pikir mahasiswa dalam kaitannya dengan penciptaan atmosfer kehidupan kampus yang ilmiah dan religius.
Kelompok Mahasiswa
    Mahasiswa sebagaimana masyarakat tidaklah homogeny. Dalam konteks perubahan paradigma pikir, setidaknya ada tiga kelompok mahasiswa. Pertama, Intelektual Progresif. Kelompok mahsiswa ini merupakan bagian mahasiswa yang memiliki kualitas tinngi. Mereka memahami betul visi, misi, dan tujuan menjadi mahasiswa. Pemikiran dan metode apa yang ditempuh dalam melakukan perubahan menuju tegaknya kebenaran demikian jelas di benak dan jiwanya. Mrekalah kader, perintis, sakaligus pejuang garis depan yang mengusung perjuangan untuk terpraktisikannya kalam-kalam kebanaran. Umumnya mereka sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan jumlah mahasiswa secara keseluruhan.
    Kedua, Moralis Empatitis. Mereka adalah kelompok mahasiswa yang bukan ujung tombak perubahan. Mereka bukanlah kader perubahan, namun memiliki semangat dan dorongan untuk melakukan perubahan. Ketika opini menggiring mereka untuk mengganti sistim kapitalisme misalnya, kelompok mahsasiswa ini akan mendukungnya karena mereka mempunyai daya rasa yang sensitif untuk membela yang terampas haknya. Dalam waktu tertentu mereka menjadi masa mengambang apabila tanpa ada dorongan dari luar dirinya, namun momen tertentu bisa menjadi masa ideologis apabila besama kelompok mahasiswa intelektual progresif.
    Ketiga, Hedonis. Berbeda dengan kedua kelompok mahasiswa di atas, mahasiswa hedonis tidak memiliki orintasi perjuangan. Bagi mereka yang penting adalah kondisi aman dan perut kenyang. Kondisi comfort zone  adalah keadaan yang mereka gandrungi. Ketika penguasaannya menerapkan peraturan yang menindas, mereka ikut, kala penguasanya menerapkan kapitalisme, mereka pun setuju. Saat kawa-kawan mahasiswanya yang lain berjuang, mereka akan mendukung tapi hanya dengan niatan untuk sekadar mengisi waktu luang, bukan sebagai sesuatu yang seharusnya dilakukan. Tidak bisa disangsikan, di lingkup kelokalan mahasiswa, kelompok ini umumnya mayoritas.
    Berdasarkan strukutur mahasiswa seperti itu, perbaikan paradigm pikir itu dilakukan terhadap pelaku utama  (mahasiswa intelektual progresif) dan pelaku pendukung (mahasiswa moralitas empatitik dan hedonis). Pendekatan terhadap  keduanya berbeda. Untuk para kader (mahasiswa yang telah terdaftar sebagai anggota biasa pada structural BEM ataupun UKM) pembentuknya lewat pembinaan intensif. Sebaliknya, perbaikan paradigma pikir pada kelompok mahasiswa lainnya sulit ditempuh lewat pembinaan intensif. Di samping tidak mungkin setiap orang dibina, juga tidak setiap orang siap untuk dibina. Karenanya, untuk menanamkan paradigma pikir yang ideal pada mereka, dilakukan dengan pembinaan umum.
    Cahaya dengan terus mengembangakan opini umum, bukan sekadar opini, melainkan opini yang dibangun di atas  kesadaran umum. Tanpa opini, kelompok mahasiswa yang memiliki kesadaran dan melakukan perubahan hanyalah sedikit. Itupun akan ditentang oleh bagian masyarakat yang tidak paham akan kebaikan perubahan yang dibawanya, apabila ada opini yang menyudutkannya. Di sinilah letak pentingnya opini umum. Dalam hal ini, bukan mahasiswa itu sendiri yang mempunyai tanggung jawab, tetapi seluruh citivas akademika kampus mesti turut serta termasuk di dalamnya birokrasi dengan amanah jabatannya dan dosen dengan otoritas mengajarnya yang idealnya bukan hanya memprioritaskan pembangunan kognitif tapi juga perbaikan paradigma pikir mahasiswa, misalnya dengan membangun opini di kampus bahwa aktivis tawuran adalah musuh bersama dan siapapun yang terlibat di dalamnya adalah penghianat-penghianat mahasiswa, mengingat aktivitas inilah yang paling ampuh mendiskreditkan integritas mahasiswa di masyarakat dan melemahkan  gerakan mahasiswa. Hal ini merupakan salah satu selain masih banyak problem lainnya.
     Pada sisi lain, perubahan paradigma pikir mahasiswa bukan semata-mata ditujukan agar kebenaran ditegakkan, melainkan juga demi lestarinya nilai-nilai kebenaran tersebut. Siapa yang mesti menggawanginya? Tidak cukup hanya sekadar sata atau dua kelompok mahasiswa. Yang harus menggawanginya adalah mahasiswa itu sendiri. Hal ini tidak akan terjadi jika opini yang berkembang bukanlah opini yang mendukung mahasiswa. Lagi-lagi, pembentukan opini menjadi suatu perkara yang mutlak dalam perubahan paradigma pikir mehasiswa menuju cita idealitasnya. Pembentukan opini yang demikian merupakan salah satu metode yang ditempuh sang revolusioner sejati Nabi Muhammad saw. Dulu, ketika di Makkah, Rasulullah saw. membina para sahabatnya di rumah Arkam bin Abil Arqam secara intensif. Para sahabat pun saling membina satu sama lain di rumah-rumah mereka.
    Selain itu, Rasul saw. membentuk  opini umum dengan mengundang berbagai suku di bukit Shafa, atau mengundang makan sanak family dan kerabat-kerabatnya di rumah, lalu menyampaikan dakwah kepada mereka. Rasul saw. melakukan pembinaan intensif sekaligus pembinaan umum lewat pembentukan opini.  Kalau pembentukan kader melalui pembinaan intensif diibaratkan sayap kanan, maka pembentukan opini umum sebagai agitasi propaganda merupakan sayap kirinya.
Pecundang Bukan Pilihan   
Harus diakui, tak bisa disangsi bahwa perang pemikiran ini setidaknya sampai saat ini, terkadang dimenagkan oleh oknum-oknum yang ingin agar gerakan mahasiswa stagnan dan terkungkung dalam kesalahan. Para Thogut (anti kebenaran) menuai untung, kita yang terhempas. Tentuntan  tidak ingi kondis ini member kita beban yang begitu berat. Jadi, saatnya kita bangkit dari keterpurukan ini. Hiidup jadi pecundang tidak saja menyakitkan, tetapi juga terhina total. Itu sebabnya, kita tetap waspada dengan kondisi ini. Waspada dalam pengertian tidak mudah tergoda dengan budaya baru yang kontra dengan prestise agent of change, Agent of Social Control dan iron stoke. Dengan kata lain, pandai memilih dan memilah. Kita harus dalam menilai budaya tersebut sebagi lawan, bukan yang lain. Sebagai manusia kita adalah satu-satunya makhluk hidup di dunia ini yang memiliki kemampuan berfikir mengenai proses berfikir. Istilah teknisnya adalah metakignisi. Tidak sedikit mahasiswa yang tidak sadar, tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau bahkan tidak mau tahu bahwa mereka sebenarnya terjerambab ke dalam paradigma pikir yang hedon. Dan sebab itu, mereka tidak pernah sadar bahwa seumur hidup mereka telah menjadi budak atau hamba dari pikiran mereka sendiri.
Kampus Ilmiah dan Religius
Menurut Al-Gazali, ilmiah (berasal bahasa Arab ‘ilmy) dimaknai sebagai suatu aqly (bersiat akal) yang lebih tinggi sifatnya dari dua tingkat pengetahuan di bawahnya. Dua pengetahuan di bawahnya yaitu pertama adalah pengetahuan takliqy (otoriter, bersifat pedagogis). Tingkat pengetahuan yang kedua adalah pengetahuan inderawi, yaitu pengetahuan yang dapat dijelaskan dengan bantuan/ pembuktian panca indera. Kampus yang ilmiah adalah kampus yang segala halnya lebih mengedepankan pemahaman/pengertian yang objektif tentang suatu hal yang bbersifat logis (dapat diterima akal/rasio/penalaran/pikiran). Sedagkan religious dalam pengertiannya yang lebih progresif dan militant adalah keadaan dimana perjuangan melawan hawa nafsu adalah kelaziman, baik hawa nafsu di luar diri seperti kkeserakaha dan kebejatan system dan struktur maupun hawa nafsu dalam diri seperti paradigma pikir hedois dan sebagainya sebagai sebuah antitesa ketidakadilan dan kebatilan yang mesti dilawan dengan logika, etika, dan cinta. Ilmiah dan religius, tatanan kampus inilah yang berusaha untuk kita realisasikan.

PANTUN BAHASA MUNA

Oleh
ARIFIN
a. Pantun Anak-anak
    mieno dhapa nepiara sapi
    nofofumaane bhakeno labu
    ana  la hae mebhantino aniini
    insoba ulangi tanasepaku
                    b. Pantun Orang Muda
                         oamonimo tekato-kato
                         oaeampe omanu buri
                         hinggamo bhela potunggato
                         ane suano bhela ngjaburi
C. Pantun Orang Tua
   manu ngkariri kaensetie
   nekangkura ra[o-rapo
  ane damondo simbasitie
  ngkadai mpotapo-tapo
d. Pantun Agama
   aeutamo bhakeno labu
   arunsae welo bhasi
   ane paise dasumambahea
  kanaraka nemponamisi
E. Pantun Jenaka
   akalamo te masalili
  apansuru we katibu
  pake songkono peda hatibi
  lembi songkono peda kasibu




F. Pantun Teka-teki
   aealamo seghonu pae
   adapoane opanamba
   ane bhahi ihintu mie mande
  setangke roo hae welo hola


KONTUNAGA

Oleh
ARIFIN
       Kontunaga adalah sebuah desa yang terletak di Kabupaten Muna, yang hanya berjarak sekitar sebelasa km dari kota Raha. Bila ditempuh dengan menggunakan kendaraan beroda dua, hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menjangkau kampungku. Kontunaga juga merupakan nama sebuah kecamatan sekaligus merangkap menjadi nama ibu kotanya yaitu Kecamatan Kontunaga dengan ibu kota Kontunaga. Desa Kontunaga adalah sebuah desa yang tidak tercantum dalam peta Kabupaten Muna, apalagi dalam peta Sulawesi Tenggara. Mungkin ketika peta Kabupaten Muna dibuat, kata Kontunaga tidak ada dalam benak pembuat peta. Atau mungkin orang takut dengan sebutan Kontunaga ysng identik dengan Naga. Atau mungkin lupa karena kontunaga hanya sebuah kampong kecil yang terpinggirkan, yang tidak memiliki arti apa-apa bagi kebanyakan orang.
       Dahulu desa Kontunaga bernama Kontudopi, kontu berarti batu dan dopi berarti papan. Jadi kontudopi berarti batu papan atau batu yang berbentuk seperti sebuah papan. Dinamakan Kontudopi karena di kampungku ada sebuah bongkahan batu besar yang berbentuk seperti papan. Namun, seiring dengan bergantinya waktu, berkembangnya zaman, maka nama kontudopi berganti nama menjadi kontunaga, kontu berarti batu, dan naga berarti naga. Jadi kontunaga adalah batu yang berbentuk naga, memang kedengarannya lain, tapi begitulah adanya. Bergantinya nama kontudopi menajdi kontunaga karena ditemukannya sebuah batu berbentuk naga di bagian molo (pegunungan). Mungkin di dunia ini tidak ada kampung diman kampung itu pernah hidup seekor naga selain kampungku. Di dunia ini belum ada seseorang yang melihat naga secara nyata, selain orang-orang di kampungku pada waktu itu, jadi seharusnya sejarah kampungku bisa masuk dalam cerita dunia diman pernah hidup seekor naga di dalamnya dan ini bisa menjadi sejarah dunia yang bisa sangat mengglobal.
       Mungkin orang akan bertanya-tanya benarkah ada batu berbentuk naga? Dan dengan lantangnya saya akan mengatakannya ya, kalau Anda tidak percaya silahkan jalan-jalan di kampungku dan buktikan sendiri kebenarannya. Tetapi kalau Anda bertanya tentang sejarah kontunaga, Anda harus menanyakannya kepada orang tua kampong yang ada di desaku.
       Konon kata orang-orang yang dahulu hidup dan bermukim di kontunaga, di kampungku hidup seekor naga rakasasa. Setiap harinya naga itu selalu meminta kepada masyarakat untuk memberinya makanan. Pemberiaan makanan kepada naga selalu dilakukan oleh orang-orang yang hidup di kontunaga secara rutin dalam setiap harinya, sehingga orang-orang sangat akrab dengan naga tersebut. Pada awalnya naga itu tidak ganas, mungkin seperti hewan-hewan yang lain juga pada umumnya. Jika datang mutnya maka dia akan baik, tetapi jika dalam keadaan tidak mut maka dia akan berubah menjadi raksasa yang sangat menyeramkan. Awalnya naga itu hidup makmur dengan warga kampong. Dia selalu membantu warga kampong dalam setiap kegiatan. Namun, seiring berjalannya waktu warga mulai tidak senang dengan keberadaan naga raksasa itu, karena mereka sudah tidak sanggup  lagi member makan naga itu dengan porsi yang sangatlah banyak. Hingga pada suatu hari warga tidak menyiaapkan makanan pada naga itu. Naga rakasasa itu pun marah, dia mengamuk menghancurkan kampungku. Dia membunuh setiap warga yang dia lihat. Sehingga banyak warga kampong yang menjadi korban keganasan naga raksasa itu. Warga pun beramai-ramai membuat perangkap untuk menangkap naga itu. Akhirnya, naga itu berhasil dilumpuhkan berkat kesaktian salah seorang  warga kampung. Naga itu akhirnya terbang ke langit dan meninggalkan kepalaya di kampungku, yang kini dijadikan sebagai symbol kampungku. Dan orang sakti yang berhasil melumpuhkan naga itu, ketika dia meninggal, dia dikuburkan di dekat batu yang berbentuk naga itu.
       Selintas membaca cerita itu, mungkin kita agak sedikit ngiris dan betanta-tanya akan kebenaran cerita tersebut. Apakah cerita itu memang benar adanya atau tidak, tidak ada yang tahu. Mau bertanya kepada pepohonan tidak mungkin. Atau mau bertanya kepada gunung-gunung tempat batu berbentuk naga itu berada juga tidak mungkin. Atau mau bertanya kepada kicauan burung-burung pada pagi hari juga tidak mungkin, karena batu yang berbentuk naga itu lebih tua dari pepohonan dan gunung-gunung tetapi lebih muda dari  sejarah kampungku. Mungkin sejarah kampungku hamper sama dengan film-film di televisi yang menjadi seekor naga sebagai salah satu tokohnya, yang menceritakan tentang seekor naga yang selalu mengganggu kehidupa rakyat yang mulanya hidup makmur dengan warga. Atau seorang anak manusa yang melahirkan seekor naga karena suaminya bersekutu denga jin yang wujudnya berbentuk naga sehingga keturunannya akan adaa seekor naga, yang kemudian naga itu berbuat kkerusakan di kampung itu. Mungkinkan naga yang hidup di kampungku berpuluh-puluh ribu tahun yang lalu itu adalah anak dari seorang warga di kampungku? Entah dari mana naga itu berasal, tanah pun yang menjadi saksi kehidupan juga tak mampu menjawabnya.
       Ketika matahari menyabut datangnya fajar, para petani denga pacul yang diletakan di punggung, berjalan melintasi hutan, menuruni lereng-lereng, tanpa peduli hujan atau panas. Mereka menuju kebun yang digarap untuk menyambung hidup di masa depan. Ketika matahari kembali ke peraduannya, angin bertiup kencang menebarkan hawa dingin yang cukup menggigiti tulang di sum-sum, ditambah denga suara burung hanru semakin menambah dingin malam dan sunyinya kampungku bagaikan kora mati atau rumah tua yang ditinggal penghuninya.
       Bukit-bukit dengan gunung-gunungnya yang tinggi berjejeran, pepohonan yang berhijauan menambah semakin indahnya panorama akampungku. Namun, jalannya yang sudah tua dan rusak, yang lebih tua dari usia bebatuan di lereng-lereng gunung membuat hatiku ngiris memikirkan perkembangan di kampungku. Mungkinkah ini adalah karma dari  naga itu?

CITRA PERGERAKAN MAHASISWA

Oleh
Arifin (A1D1 09 069)
      Mahasiswa adalah sebutan untuk orang yang melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Menjadi mahasiswa merupakan suatu kebanggaan tersendiri karena tidak semua orang dapat menyandang status sebagai mahasiswa. Mahasiswa selalu memiliki kedudukan yang lebih di mata masyarakat. Mahasiswa memiliki pperanan yang amat penting bagi masyarakat. Mahasiswa merupakan penyalur aspirasi rakyat kepada pemerintah. Mahasiswa adalah harapan rakyat.
      Organisasi merupakan pilihan sebagai wadah bernaungnya aspirasi. Dan mahasiswa bebas memilih organisasi mana yang ingin dia masuki. Organisai akan menjadi  wadah mahasiswa untuk berperan alktif menjalankan eksistensinya sebagai mahasiswa sejati. Mahasiswa yang bukan sekadar akademisi namun juga sebagai seorang aktivis. Tanpa masuk organisasi mahasiswa hanyalah seorang akademisi yang tidak tahu menahu problematika yang ada dalam masyarakat. Lebih dari itu, kemampuan mahasiswa untuk bersosialisasi dengan masyarakat juga akan dipertanyakan karena dalam bangku perkuliahan tidak ada mata kuliah yang membahas masalah tersebut.
        Organisasi yang menjadi pilihan sangat bervariasi, baik organisasi internal maupun eksternal. Organisasi internal mulai  dari HMPS, BEM, MPM, dan organisasi ekternal kampus seperti HMI, KAMMI, dan sebagainya menjadi pilihan  bagi nmahasiswa yang sejatinya untuk mengembangkan dirinya menjadi lebih bermakna. Namun, apakah setiap mahasiswa sadar dengan niat mereka masuk organisasi khususnya organisasi internal kampus hanya semata memperjuangkan aspirasi mahasiswa yang lain, atau karena yang lainnya. Yang patut kita pertanyakan adalah menjadi ketua-ketua organisasi, niat untuk memperjuangkan aspirasi mahasiswa atau demi dana matriks. Maaf kalau mnyinggung dana matriks. Karena selama setahun kepengurusan, baik BEM Fakultas, BEM Universtas, maupun MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa) sangat sedikit kegiatan tang terlaksana, sehingga patut dipertanyakan dikemanakan anggaran yang ada. Apakah memang anggaran yang ada hanya cukup untuk menyelenggarakan satu atau dua kegiatan saja atau memang lari ke tempat lain. Apakah mahasiswa saat ini masuk organisasi ingin menghidupkan organisasi atsu ingin mencari makan (kehidupan) dalam organisasi?
        Tidak jauh  beda dengan organisasi ekstrernal kampus. Saat ini, organisasi eksternal biasanya dibawahi oleh partai-partai politik lingkup  nasional. Partai inilah yang kemudian membiayai segala bentuk kegiatan mahasiswa yang tergabung di dalamnya untuk membentuk mindset bagi mahaiswa yang menyoroti roda pemerintahan. Mahasiswa kerap dianggap sebagai  boneka dalam konstruksi politik. Padahal, selayaknya tidak begitu. Mahasiswa adalah agent of change dan control of power bagi negara. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri mengingat kampus adalah sebuah miniatur negara. Politik dapat dengan subur berkembang di kalangan mahasiswa.
      Menjadi mahasiswa, masuk organisasi, dan menjadi demonstran. Mungkin, seperti itu pemikiran sebagian mahasiswa saat ini. Katanya bukan mahasiswa kalau  tidak pernah ikut demo. Apalagi mahasiswa adalah penyalur lidah masyarakat yang tertindas. Sehingga turun ke jalan, berteriak menyuarakan aspirasi masyarakat, menuntut keadilan, memaki-maki pemerintah yang telah mereka pilih dalam pemilihan umum merupakan rutinitas yang dilakukan oleh sebagian mahasiswa. Memang mahasiswa itu aneh, sudah memilih pemimpin namun ketika terpilih minta dia mundur dari jabatannya. Demonstrasi sangat sarat dengan kekeraan, pembakaran ban, membuat macet lalu lintas, walalupun tidak semua demonstrani dilakukan dengan anarkis namun kita perlu pertanyakan apa arti dari sebuah demonstrasi itu. Memang kita tidak dapat menafikan bahwa selama ini demonstrasi yang terjadi tidak jarang berakhir dengan kekerasan, tetapi kita tidak dapat juga menggeneralisasikan semua demonstrasi seperti itu.
       Kalau becermin dari demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa saat ini, kita patut pertanyakan kemurnian aksi yang dilakukan para demonstran. Demo yang hanya dilakukan oleh lima sampai enam orang apakah murni menyuarakan aspirasi masyarakat atau murni dilakukan demi mendapatkan ini dan itu. Jika murni demi aspirasi masyarakat apakah mungkin mereka ikhlas mengeluarkan uang ayang ada dalam kantong mereka untuk membayar ongkos mobil dan biaya peminjaman salon yang digunakan ketika melakukan demo. Secara akal sehat tidak mungkin dan memang tidak mungkin hal ini dilakukan oleh masyarakat karena kebanyakan dari mereka adalah anak kos-kosan yang uangnya juga pas-pasan.
          Fenomena ini tentunya membuat peran mahasiswa sebagai agent of change, agent of control, dan agen pembaharu mulai kehilangan tajinya. Ditambah lagi banyak ditemukannya demo bayaran yang ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Sehingga banyak anggapan miring yang muncul, bahwa mahasiswa hanya bisa bicara, Cuma bisa mengkritik pemerintah tanpa manawarkan solusi yang bisa dilakukan demi perbaikan atas kebijakan yang telah mereka soroti. Di samping itu, banyaknya mahasiswa yang hanya ikut-ikutan dalam rombongan para demonstran tanpa mengetahui tujuan aksi yang mereka suarakan. Ketika turun ke jalan menuntut keadilan penegakan  hukum, penuntasan kasus korupsi,  dan sebagainya tidak semua demonstran menguasai atau sekadar hanya tahu apa yang akan disuarakan pada hari itu. Mungkin mereka ikut demo hanya karena lari dari kegiatan perkuliahan sebab tidak mengerjakan tugas kuliah, atau demi segelas aqua, atau demi sebatang rokok, atau sebungkus nasi, atau demi beberapa lembaran uang rupiah. Jika hal ini terus terjadi, maka legalitas mahasiswa telah terjual murah kepada orang-orang yang ada di atasnya. Hal ini membuat prgerakan mahasiswa minim analisis dan hanya menjadi penyebab kemacatan lalu lintas.
          Pergerakan mahasiswa saat ini terkesan tidak lagi murni menyuarakan aspirasi rakyat, namun adanya simbolis dengan orang ketiga membuat pergerakan mahasiswa melupakan peranannya sebagai control of power bagi pemerintah. Demonstrasi tidak lagi ditujukan sebagai jalan untuk menyuarakan aspirasi demi tercapainya sebuah perubahan bagi publik, namun hanya sekadar rutinitas balaka. Demo hanya sekadar turun aksi, yang penting teriak di jalan sehingga disebut pandai berbicara. Aksi-aksi mereka hanya member baud an merusak citra aktivis-aktivis yang benar-benar murni memperjuangkan suara rakyat. Sehingga kemurnian gerakan mahasiswa menjadi pertanyaan. Apakah aktivitas dalam gerakan organisasi mahasiswa murni didasarkan demi melakukan perubahan keadaan masyarakat yang lebih baik, atau hanya sekadar batu loncatan untuk memraih kekuasaan atau kedekatan politik dengan pusat penguasa.
         Aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa hanya sekadar formalitas mahasiswa beraktivitas. Demonstrasi yang dilakukan hanya sebagai konfirmasi mahasiswa yang berfungsi sebagai agen yang mengontrol kebijakan pemerintah. Mahasiswa tidak ingin dinggap apatis terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Mahasiswa hanya tidak ingin dianggap tidak peduli dengan isu-isu yang lagi hangat diperbincangkan. Demonstrasi saat ini tampil dengan wajah baru jika disbanding dengan demonstrasi-demonstrasi masa sebelumnya. Demonstrasi lebih memperhatikan keuntungan materialismenya dan keistimewaannya bagi para demonstran. Demonstrasi gerakan mahaiswa saat ini tidak lagi murni mengusung politik moral. Para demonstran saat ini menjadi masa bayaran oleh orang-orang yang mencari keuntungan dari moment politik yang ada.
       Dalam melakukan aksi tidak lagi memperhatikan batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Para demonstran tidak perduli apakah aksi mereka melangggar hokum atau tidak. Yang penting bicara walaupun tidak tahu betul konkrit permasalahan yang ada.
           Sebenarnya gerakan mahasiswa bukan berarti harus turun ke jalan. Gerakan mahasiswa bukan hanya menjadi team sukses bagi suatu partai politik atau calon anggota legislatif ketika pemilihan tiba. Mahasiswa sebagai insane yang peka terhadap nadi masyarakat kecil tidak selamannya memperjuangkan nasib wong cilik lewat demonstrasi. Namun, pergerakan mahasiswa bisa lebih dari itu semua dan lebih beretika tentunya. Dengan tulisan misalnya, gerakan mahasiswa bisa mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah dengan solusi yang lebih pasti dan lebih terarah tanpa ada pihak-pihak yang dirugikan.
        Apakah kita adalah sebuah organisasi pergerakan suka rela yang didorong oleh hati nurani untuk memperjuangkan aspirasi rakyat? Atau apakah kita sebuah organisasi pergerakan yang menyuarakan aspirasi rakyat hanya sekadat formalitas mahasiswa sebagai agen yang mengontrol kebijakan pemerintah dengan maksud mendapat imbalan dari para donatur yang memotori pergerakan kita? Atau apakah kita termasuk keduanya? Jika keduanya apakah kita sudah bisa membedakan keduanaya dengan jelas sehingga kita bisa melayani sebaik-baiknya seperti yang kita inginkan dalam setiap peran?
        Apakah kita terutama sebuah pergerakan mahasiswa yang terlibat dalam atau mendukung masyarakat dalam menyalurkan aspirasinya untuk mengurangi penderitaan mereka akibat kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat? Atau apakah kita merupakan sebuah pergerakan mahaiswa yang sedang melakukan campur tangan sementara dengan para pusat penguasa dengan maksud mendatangkan keuntungan bagi pergerakan yang kita galang tanpa memperhatikan aspirasi rakyat dan lupa pada legalitas kita sebagai mahasiswa?
       Melihat kenyataan tersebut, wajar jika para aktivis mahasiswa berfikir perlukah merekonstruksi dan merevolusi lembaga kemahasiswaan? Jika kita melihat kenyataan yang ada, sangatlah perlu jika harus menata ulang dan menyusun kembali organisasi kemahasiswaan yang ada. Karena organisasu kemahasiswaan yang ada saat ini tidak lagi bersifat independent dimana sudah banyak pihak-pihak lain yang berada di belakang para aktivis yang bertarung dalam pemiliha ketua lembaga kemahasiswaan. Sehingga banyak aktivis mahasiswa yang telah lupa dengan fungsi dan legitimasinya sebagai mahasiswa, dimana sebagai agent of change dan control of power bagi negara. Fungsi mahasiswa sebagai sebagai agent of change dan control of power bagi Negara telah lalai dijalankan karena mahasiswa telah menajdi boneka bagi kelompok-kelompok yang berkuasa. Sehingga revolusi organisasi kemahasiswaaan perlu dilakukan untuk mengembalikan citra dan fungsi mahasiswa sebagai agent of change dan control of power.

Jumat, 01 Juni 2012

nonama siswanilai UT
nilai UAS
nilai rapor
1muh. alfaris809085
2abdul kadir838885.5
3zulkifli878686.5

Kamis, 31 Mei 2012

PENGGUNAAN GAYA BAHASA PERBANDINGAN DAN PERTENTANGAN DALAM KORAN KENDARI POS, EDISI JUMAT, 2 SEPTEMBER 2011

TUGAS BAHASA JURNALISTIK

PENGGUNAAN GAYA BAHASA PERBANDINGAN DAN  PERTENTANGAN DALAM KORAN KENDARI POS, EDISI JUMAT, 2 SEPTEMBER 2011







OLEH
ARIFIN
A1D1 09 069



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011



KATA PENGANTAR
       Tiada kata yang layak kita haturkan selain mengucap rasa syukur kepada Allah SWT atas segala Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya, walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana.
        Semakin ketatnya persaingan di kalangan media cetak membuat para jurnalis harus bisa menggunakan bahasa yang menarik agar media mereka laku di pasaran. Makalah ini berjudul AnalisisMembandingkan Gaya Bahasa Perbandingan dan Gaya Bahasa Pertentangan Dalam Koran Kendari Pos Edisi Jumat, 2 September 2011.
        Penulisan makalah ini banyak dibantu oleh berbagai pihak. Oleh karen itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen mata kuliah bahasa Jurnalistik yang telah memberikan arahan dan pemahaman, kepada teman-teman dan semua pihak yang telah memberikan semua kontribusinya terhadap penulisan makalah ini.
       Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik konstruktif diperlukan menuju ke arah yang lebih baik dan kesempurnaan. Akhir kata, semoga makalah ini nantinya dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan dinilai ibadah dalam pandangan Allah SWT, Amin.
                       
                                                                                                            Kendari,   November 2011

                                                                                                            Penulis

DAFTAR ISI

                                                                                                      Halaman
HALAMA JUDUL............................................................................................   
KATA PENGANTAR......................................................................................   i
DAFTAR ISI......................................................................................................   ii
BAB 1 PENDAHUKUAN
1.1    Latar Belakang...................................................................................   1
1.2    Rumusa Masalah...............................................................................    2    
1.3    Tujuan Penelitian...............................................................................   3  
1.4    Manfaat Penelitian.............................................................................   3
1.5    Ruang Lingkup..................................................................................   3
BAB II PEMBAHASAN
    2.1 Pengertian Gaya Bahasa....................................................................   4
    2.2 Jenis Gaya Bahasa.............................................................................   4
          2.2.1   Gaya Bahasa Perbandingan....................................................   5
              1.  Perumpamaan...................................................................   5
              2.  Metafora...........................................................................   6
        3.  Personifikasi.....................................................................  6
    4.  Depersonifikasi................................................................   7
    5.  Alegori.............................................................................   7
    6.  Antitesis...........................................................................   7
    7.  Pleonasme dan taitologi...................................................   8
    8.  Perifrasisi.........................................................................   8
    9.  Antisipasi.........................................................................   9
                10.  Koreksio..........................................................................   9
2.2.2    Gaya Bahasa pertentangan...................................................   9
1.    Hiperbola..........................................................................   9
2.    Litotes..............................................................................   10
3.     Ironi.................................................................................   10
4.    Okimoron.........................................................................  10
5.    Satire................................................................................  11
6.    Inuendo............................................................................   11
7.    Antifrasisi........................................................................   11
8.    Paradoks..........................................................................   12
9.    Klimaks............................................................................  12
10.    Antiklimks .......................................................................  12 
11.    Sinisme.............................................................................  12
12.    Sarkasme..........................................................................  13
2.3     Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa dalam koran Kendari Pos,
 edisi    Jumat, 2 September 2011.......................................................  13
  2.3.1    Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa Perbandingan Dalam
              Koran Kendari Pos, Edisi Jumat, 2 September 2011............  13
1.    Gaya Bahasa Metafora....................................................   13
2.    Gaya Bahasa Tautologi....................................................  14
3.    Gaya Bahasa Pleonasme..................................................  15
2.3.2    Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa Pertentangan  Dalam
Koran Kendari Pos, Edisi Jumat, 2 September 2011...........      15
1.    Gaya Bahasa Hiperbola..................................................   15
2.    Gaya Bahasa Ineundo.....................................................  16
BAB III PENUTUP
3.1    Kesimpulan................................................................................  17
3.2    Saran..........................................................................................  17

DAFTAR PUSTAKA




BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
    Gaya bahasa adalah bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Secara singkat penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale, 1971 : 220; Guntur Tarigan, 2009 : 4). Gaya Bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak atau pembaca (Guntur Tarigan, 2009 : 4).

       Sehubungan dengan hal tersebut Toeti Adhitama (1978 : 33) mengatakan bahwa supaya komunikasi dapat efektif, pembicara (penulis) selain harus menghayati apa yang harus dikemukakannya ia juga harus trampil menggunakannya. Ia bukan harus menguasai tata bahasanya tetapi juga harus peka terhadap gaya bahasa yang dipilihnya.

        Secara singkat dapat dikatakan bahwa “gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut: kejujuran, sopan-santun, dan menarik (Keraf, 1985: 113). Kejujuran dalam bahasa berarti kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Pemakaian kata-kata yang kabur dan tak terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit adalah jalan untuk mengundang ketidakjujuran. Sedangkan yang dimaksud dengan sopan santun adalah memberi hormat atau menghormati yang diajak bicara, khususnya pendenganr atau pembaca. Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkatan. Menyampaikan sesuatu secara singkat dan jelas berarti  tidak membuat pembaca dan pendengar memeras keringat untuk mencari tahu apa yang ditulis atau katakan.

         Fungsi penggunaan gaya bahasa yaitu bila dilihat dari fungsi bahasa, penggunaan gaya bahasa termasuk ke dalam fungsi puitik yaitu menjadikan pesan lebih berbobot. Pemakaian gaya bahasa yang tepat (sesuai dengan waktu dan penerima yang menjadi sasaran) dapat menarik perhatian penerima. Sebaliknya, bila penggunaannya tidak tepat, maka penggunaan gaya bahasa akan sia-sia belaka, bahkan mengganggu pembaca.

          Dalam koran banyak kita jumpai ragam gaya bahasa. Koran tidak hanya sekadar memberikan sebuah informasi kepada pembaca, akan tetapi koran juga bisa menjadi media pembelajaran gaya bahasa bagi para pembaca.  Secara tidak sadar bahasa yang dalam dalam koran dapat mempengaruhi tingkat perkembangan bahasa seseorang, khususnya pengetahuan tentang gaya bahasa. Menyadari pentingnya pemahaman gaya bahasa dalam koran, maka penulis mencoba meneliti penggunaan gaya bahasa dalam koran, khususnya membandingkan gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan dalam koran Kendari Pos edisi Jumat, 2 September 2011.

1.2          Masalah
         Berdasarkan  uraian latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka yang menjadi  masalah dalam  makalah ini adalah Bagaimanakah penggunaan gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011?

1.3    Tujuan
     Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini yaitu untuk mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011.

1.4   Manfaat
        Manfaat yang diharapkan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagi penulis, yaitu untuk memperoleh pemahaman kajian ilmu kebahasaan khususnya gaya bahasa perbandingan dan pertentangan, sehingga bisa lebih baik lagi dalam hal teoritik  dan praktiknya.
2.    Bagi pembaca, yaitu untuk memperoleh pemahaman kajian ilmu kebahasaan khususnya gaya bahasa perbandingan dan pertentangan, sehingga bisa lebih baik lagi dalam hal teoritik  dan praktiknya.
3.    Bagi media cetak, yaitu untuk memberikan masukan tentang penggunaan gaya bahasa agar dalam penggunaannya lebih tepat dan lebih sempurna,

1.5    Ruang Lingkup
Ruang lingkup makalah ini adalah gaya bahasa perbandingan dan pertentangan dala koran Kondari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011, pada kolom berita utama dan opini.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Pengertian Gaya Bahasa
        Gaya bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis; pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek tertentu; keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra; cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan (Depdikbud, 1995: 297).

   Gaya bahasa adalah bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Secara singkat penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale, 1971:220; Guntur Tarigan,2009 : 4). Secara singkat (Guntur Tarigan, 2009 : 4) mengemukakan bahwa gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak atau pembaca. 

       Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah pengaturan kata-kata oleh penulis dalam mengekspresikan ide, gagasa, dan pengalamannya untuk mempengaruhi dan meyakinkan para pembaca.
Bahasa dalam koran kadang menggunakan bahasa yang “bersayap,” cenderung konotatif dan ambigu (bermakna lebih dari satu). Bahasa ambigu membuat koran menjadi tidak kering. Penggunaan bahasa “bersayap’ disebut juga dengan majas (Depdiknas, 2005:89).

2.2       Jenis-Jenis Gaya Bahasa
      Dalam kaitannya dengan gaya bahasa yang berlaku di Indonesia, gaya bahasa dapat ditinjau dari bermacam-macam sudut pandang. Guntur Tarigan (2009 : 5-6) membedakan gaya bahasa menjadi empat, yaitu (1) gaya bahasa perbandingan , (2) gaya bahasa pertentangan, (3) gaya bahasa pertautan, dan  (4) gaya bahasa perulangan. Akan tetapi yang fokus  terhadap gaya bahasa dalam pembahasan ini adalah pada gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan.

2.2.1    Gaya Bahasa Perbandingan
        Sesuai dengan namanya, gaya bahasa perbandingan mencoba membandingkan dua hal yang sama atau dua hal yang berbeda. Dengan gaya bahasa perbandingan, kita akan mengetahui unsur-unsur apa saja yang dianggap sama, dan unsur-unsur apa pula yang dianggap berbeda atau bahkan bertentangan satu sama lain. Menurut Henry Guntur Tarigan, gaya bahasa perbandingan mencakup sepuluh jenis: (1) perumpamaan, (2) merafora, (3) personifikasi, (4) depersonifikasi, (5) alegori, (6) antitesis, (7) pleonasme dan tautologi, (8) perifrasisi, (9) antisipasi, dan (10) koreksio.

1.  Perumpamaan
         Gaya bahasa perumpamaan adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berbeda sehingga dianggap memiliki unsure-unsur persamaan yang diantara keduanya. Dalam bahasa latin, perumppamaan disebut simile yang bermakna seperti. Menyebut sesuatu dengan seperti,  bererti sifat-sifat atau cirri-ciri pokok yang melekat pada sesuatu yang akan dibandingkan, seolah disamakan sehingga menjadi tidak tampak.
         Para jurnalis hanya dapat menggunakan gaya bahasa perumpamaan ini ketika menulis tajuk rencana, arikel, kolom, berbagai jenis cerita khas berwarna (feature), catatan perjalanan, atau pelaporan mendalam.
Contoh:
        penjahat itu licik seperi belut, rakus seperti  monyet.bagai air di daun talas.

2.    Metafora
     Metafora adalah pemakain kata-kata bukan arti yang sebenarya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan (Poerwadarminta, 1976:648). Metafora adalah sejenis gaya bahasa perbandingan yang singkat, padat, tersusun rapi. Di dalamnya terlihat dua gagasan. Gagasan yang pertama adalah suatu kenyataan, sesuatu yang dipikirkan, sesuatu yang menjadi objek. Gagasan yang kedua merupakan pembanding terhadap kenyataan pertama tersebut (Tarigan, 1983:14: 1985:183).
Contoh:
Anak emas, buah bibir, buah tangan. Gudang ilmu, surga dunia, airmata buaya, dll.

3.  Personifikasi
        Secara etimologis, personifikasi berasal dari bahasa latin, persona yang berarti orang, pemain, pelaku, actor, subjek, atau topeng dalam permainan drama atau sandiwara. Menurut Edgar dale, dengan gaya bahasa personifikasi, kita memberikan ciiri-ciri atau kualitas pribadi seseorang kepada  gagasan atau benda-benda tidak bernyawa sehingga benda-benda tidak bernyawa itu seolah-olah menjadi hidup atau  bernyawa seperti layaknya manusia (Dale, 1971:221).

    Dalam redaksi yang berbeda, personifikasi adalah gaya bahasa perbandingan yang mengandaikan benda-benda mati, termasuk gagasan atau konsep-konsep yang abstrak, berprilaku seperti manusia yang bisa menggerkkan seluruh tubuhnya, berkata-kata, bernyanyi, bersiul, berlari, manari, melihat, dan sebagainya.
    Personifikasi lebih tepat digunakan untuk karya-karya jurnalistik yang sifatnya sotf news.
Contoh:
        Nyiur melambbai, mentari mencium tubuh gadis itu.


4.    Depersonifikasi
        Depersonifikasi mengandaikan manusia atau segala hal yang  hidup, bernyawa, seolah benda-benda mati yang kaku beku, tidak bias mellihat, mendengar, mencium, menggerakan tubuhnya.
Contoh:
    Dari tadi kakek tua itu mematung, wajah gadis itu membeku.

5.    Alegori
    Alegori berasal dari bahasa Yunani, Allegorein, yang berarti bicara secara kias atau bicara dengan menggunakan kias. Alegori adalah cerita yang dikisahkan dalam lambing-lambang, tempat atau wadah pbjnek-objek atau gagasan yang diperlambangkan. Alegori biasanya mengandung sifat-sifat moral atau spiritual manusia.
   
6.   Antitesis
    Antithesis berarti lawan yang tepat atau pertentangan yang sebenarnya (Poerwadarminta, 1976:52). Antithesis adalah sejenis  gaya bahasa yang mengadakan perbandingan antara dua antonim yaitu kata-kata yang mengandung cirri-ciri semantic yang bertentangan (Ducrot dan Todorow, 1981:277 dalam Tarigan, 1985:27).

     Antitesis membuat laporan jurnalistik yang sifatnya fakktual, menjadi seolah-olah karya fiksi yang sifatnya imajisional. Artinya sangat sarat dengan lukisan suasana serta pengembangan karakter khas dari para pelaku yang terlibat dalam cerita itu.
Contoh:
     Dia bersuka cita kalau aku dipenjara, kencantikannyalah yang membawa           dirinya ke lembah nista.


7.  Pleonasme dan Tautologi
    Pelonasme adalah pemakain kata mubazir atau berlebihan yang sebenarnya tidak perlu (Poerwawadarminta, 1976:76). Suatu acuan disebut pleonasme apabila kata yang berlebihan itu dihilangkan (Keraf, 1985:133). Pleonasme bisa juga merupakan penegasan terhadap suatu kata atau konsep yang sudah tegas dan jelas. Sedangkan tautologi adalah penegasan terhadap suatu hal yang mengandung unsure perulangan tetapi dengan menggunakan kata-kata yang lain. Bahasa jurnalistik tidak menyikai pleonasme dan tautologi karena keduanya bertentangan dengan prinsip keringkasan dan kelugasan.
Contoh pleonasme:
    Rector baru akan tiba pukul 06.00 sore. Hanya harga kentang dan cabai merah yang sudah lagi turun ke bawah.
Contoh tautologi:
Darah merah itulah yang melumuri wajahnya, para pengungi menerima bantuan satu ton atau seribu kg beras dari pemerintah provsinsi

8.  Perifrasis
        Perifrasisi adalah gaya bahasa yang mirip dengan pleonasme, kedua-duanya menggunakan kata-kata lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Pada gaya bahasa perifrasis, kata-kata yang berlebihan itu pada prinsipnya dapat diganti dengan sebuah kata saja (Keraf, 2004:134).
Contoh:
    Setelah dirawat selama tiga pekan di rumah sakit, mantan pejuang yang sangat dicintai keluarganya itu akhirnya beristirahat dengan tenang utnuk selama-lamanya (menungal dunia).

9.   Antisipasi (Proolepsis)
    Kata antiisipasi berasal dari bahasa latin anticipatio yang berarti mendahului atau penetpan yang mendahului tentang suatu yang masih akan dikerjakan atau akan terjadi (Shadily, 1980:234).
Contoh:
Tiga hari sebelumnya, gadis malang itu masih sempat ke salon di dekat rumah untuk potong rambut.

10.    Koreksio
    Koreksio adalah gaya bahasa yang berwujud semula inngin menegaskan sesuatu. Tetapi kemudian memeriksa dan memp[erbaikinya mana yang salah (Tarigan, 1985:34-35).
Contoh:
laki-laki pemulung itu pun mencinatai, eh meniduri, sang nenek separuh  bayah ini hingga subuh.

2.2.2    Gaya  Bahasa Pertentangan
        Gaya bahasa pertentangan membandingkan dua hal yang berlawanan atau bertolak belakang. Menurut Pof.Henry Guntur Tarigan, gaya bahasa pertentangan semuanya terdiri dari 20 jenis. Dari 20 jenis gaya bahasa tersebut, dintaranya: (1) hiprbola, (2) litotes, (3) ironi), (4) oksimoron, (5) satire, (6) ineundo, (7) antifrasis, (8) paradoks, (9) klimaks, (10) antiklimaks, (11) sinisme, dam (12) sarkasme (Tarigan, 1985:55-85).

1.    Hiperbola
       Hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang melebih-lebihkan jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
Contoh:
Sedikitnya 120 rumah rata dengan tanah disapu badai.

2. Litotes
       Litotes adalah majas yang dalam pengungkapannya menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif atau bentuk yang bertentangan. Litotes mengurangi atau melemahkan kekuatan pernyataan yang sebenarnya (Moeliono, 1984:3). Menurut Tarigan (1985:58) litotes adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang dikecil-kecilkan, dikurangi dari kenyataan yang sebenarnya, misalnya untuk merendahkan diri.
Contoh:
Jika ada waktu singgahlah ke  gubuk saya padahal rumahnya seperti istana), saya memang menjadi juara tetapi dia tetap labih baik (padahal tiga kali juara dunia).

3.  Ironi
        Ironi ialah majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud berolok-olok. Maksud ini dapat dicapai dengan mengemukakan tiga hal: (1) makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya, (2) ketidaksesuaian antara suasana yang diketengahkan dengan kenyataan yang mendasarinya, dan (3) ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan.
 Contoh:
Bandung adalah kota kembang yang penuh sampah; bagus benar prestsinya, tiga kali naik ring, tiga kali terkapar.

4.  Oksimoron
      Oksimoron adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung penekanan atau pendirian suatu hubungan sintaksis baik koordinasi maupun determinasi, antara dua antonim (Ducrot dan Todorow, 1981:278).
Contoh:
    Terjun payung adalah olahraga beresiko, tetapi eksekutif muda itu sangat menyukainya.

5.  Satire
      kata satire diturunkan dari kata satura berarti talam yang penuh berisi buah-buahan. Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Bentuk ini tidak harus bersifat ironis. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia. Tujuan utamanya adalah agar diadakan perbaikan secara etis dan estetis (Keraf, 1985:144; 2004:144).
Contoh:
    Mari kita belajar dari koruptor yang dermawan; Indonesia surga narkoba.
    Ajari kami untuk pandai menipu rakyat.


6.  Inuendo
      Inusndo adalah sejenis gaya  bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenrnya. Gaya bahasa ini menyatakann kritik dengan sugesti langsung dan sering tampaknya tidak menyakitkan hati kalau ditinjau sambil lalu saja (Keraf, 1985:144).
Contoh:
     Pidatonya disambut dingin karena tidak menyinggung kenaikan gaji.

7.   Antifrasis
        Antifrasisi adalah gaya bahasa yang berupa penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya.
Contoh:
Inilah pahlawan kita (padahal pneghianat)

8. Paradoks
     Paradox adalah suatu pernyataan yang bagaimanapun diartiakan selalu berakhir dengan pertentangan (shadily, 1984:2552). Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya (Keraf, 1985:136; 2004:136).
Contoh:
Dia menderi dalam kelurga bahagia; mantan pejabat itu merasa bahagia setelah masuk penjara.

9.  Klimaks
     Klimaks adalah sejenis gaya bahasa yang berupa susunan yang makin lama makin mengandung penekanan. Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang brsifat periodik. Kimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya (Keraf, 1985:124; 2004:124).
Contoh:
Datang, berjuang, menang; Balita, remaja, dewasa,  manula.

10. Antiklimaks
      Antiklimaks adalah suatu acuan yang berisi gagasan-gagasan tang diurutkan  dari yang terpenting berturut-turut kegagasan yang kurang penting. Gaya bahasa antiklimaks dapat digunakan sebagai suatu istilah umum yang masih mengenal spesifikasi lebih lanjut, yaitu dekrementum, katabasis, dan batos.

11.  Sinisme
        Sinisme adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati.

Contoh:
Apa yang tidak bisa Anda beli? Jangankan mobil dan rumah mewah, istri orang lain pun Anda sikat. Bahkan Negara ini besok lusajadi milik Anda. Kalau mau, Ana juga bis menyebut diri sebagai Tuhan.

12.  Sarkasme
        Sarkasme adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung olok-olok atau sindiran pedas dan menyakiti hati (Poerwadarminta, 1976:874).
Contoh:
perbuatan kakek tua ini, mungkin sama dengan setan yang suka gentayangan tengah malam.

2.3    Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011
         Berdasarkan hasil analisis, maka gaya bahasa yang terdapat dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011 yaitu gaya bahasa metafora, pleonasme, tautologi, hiperbola, dan ineundo.

2.3.1    Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa perbandingan dalam koran Kendari    Pos, edisi Jumat, 2 September 2011
Berdasarkan hasil analisis, maka gaya bahasa perbandingan yang terdapat dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011 yaitu gaya bahasa metafora, pleonasme, tautologi.

1.     Gaya Bahasa Metafora
      Penggunaan majas merafora dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya berjumlah 12.
Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas metafora pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:
1)    Kesepakatan lima bakal calon gubernur dari partai Golkar yang mereka teken di depan Ketua Umum DPP Golkar, Aburizal Bakri, akhir Juli lalu ternyata mengisahkan sedikit cerita sumbang.
2)    Ketua Kolkar Sultra, Ridwan BAE tak mau isu itu menjadi bola liar dan jadi konsumsi rival politik partai ini di masyarakat.
3)    Selamat berjuang garuda.
4)    Se-Indonesia sepantasnya mendukung perjuangan anak-anak garuda agar pengorbanan mereka mendapatkan hasil yang maksimal.
5)    Sehingga mampu membuat seluruh warga negara bangga akan garuda.
6)    ... sebagai buah manis dari reformasi pemerintahan yang telah berhasil diletakkan secara gradual sejak tumbangnya rezim pemerintahan orde baru.
7)    ....pemilihan langsung sebagaimana telah dipraktikan selama ini di bawah payung hukum Undang-Undang No. 32 Tahun 2004.
8)    Dalam iklim pembangunan sistem demokrasi pemerintah untuk tegaknya negara hukum.
9)    ... secara kreatif, dinamis, dan integral di bawah payung konstitusi.
10)    ... menyemburkan aroma miskin koordinasi dalam kabinet pemerintahan Presiden SBY, yang makin membingungkan rakyat.
11)    Dalam konteks ini kita sepatutnya bangga atas loncatan jauh yang telah kita capai dalam kehidupan berdemokrasi...

2.        Gaya Bahasa Pleonasme
    Penggunaan majas pleonasme dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya hanya satu.
Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas pleonasme pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:
1)    Ribuan warga yang mengikuti shalat ied dimaksud terlihat tetap khusu menunaikan shalat dan antusias mendengarkan khotbah shalat ied yang disampaikan oleh Gubernur Nur Alam.
3.         Gaya Bahasa Tautologi
Penggunaan majas tautologi dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya hanya satu.
Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas tautologi pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:
1). Tentu yang kita inginkan adalah kemenangan atas Iran, minimal mendapatkan satu poin alias bisa menahan imbang tuan rumah yang ditempatkan pada unggulan pertama Group E  Zona Asia.

3.2    Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa Pertentangan dalam koran Kendari     Pos, edisi Jumat, 2 september 2011
Berdasarkan hasil analisis, maka gaya bahasa pertentangan yang terdapat dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011 yaitu gaya bahasa hiperbola dan gaya bahasa ineundo.

1.           Gaya Bahasa Hiperbola
        Penggunaan majas hiperbola dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya berjumlah enam.
     Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas hiperbola pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:
1).  Memang, sejak tenggelam pada sabtu dini hari lalu, Suhariyah menumpang di atas kapal fery naas tersebut dan hingga kini belum ditemukan, termasuk satu ajudannya bernama Suryani.

2).  Kasus suap di tubuh Kemenaketrans semakin memanas.

3).  Nama menaketrans Muhaimin Iskandar semakin santer disebut –sebut terlibat dalam kasus suap dikemenaketransnya.
4).  Pemain harus berjibaku di atas lapangan menghadapi Iran, yang akan di helat malam nanti.
5). Namun mengatasinya dengan merubah mekanisme pemilihan gubernur dengan menariknya dari tangan rakyat sama halnya dengan pelecehan atas kedaulatan....
6).  ... bukan sebaliknya hukum digunakan untuk memasung hak-hak rakyat untuk berpartisipasi dalam sistim pemerintahan yang demokrasi itu.
2.         Gaya  Bahasa Ineundo
Penggunaan majas ineundo dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya hanya satu.
Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas ineundo pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:

1). Hasilnya, seperti kita sudah ketahui semua, dalam laga uji coba itu, Indonesia ditekuk 1-0 oleh tim lawan, dan diperparah dengan cederanya kiper Fery Rotinsulu.





BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
     Berdasarkan temuan data dalam menganalisis penggunaan gaya bahasa dalam koran Kendari Pos, edisi 2 September 2011 dapat disimpulkan sebagai berikut:
Jumlah seluruh penggunaan gaya bahasa dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 adalah 21majas, terdiri dari: (a) majas perbandingan berjumlah 14, meliputi penggunaan majas metafora (12), pleonasme dan tautologi masing-masing satu. (b) majas pertentangan berjumlah tujuh, meliputi penggunaan majas hiperbola (6), dan majas ineundo satu. 

3.2    Saran
      Sehubungan dengan hasil penelitian ini, sejumlah saran penulis kemukakan Kepada Peneliti Selanjutnya, agar hasil penelitian ini bisa menjadi acuan penelitian lebih lanjut serta dengan mengembangkan kemungkinan-kemungkinan terhadap unsur-unsur kebahasaan yang lainnya.