TUGAS BAHASA JURNALISTIK
PENGGUNAAN GAYA BAHASA PERBANDINGAN DAN PERTENTANGAN DALAM KORAN KENDARI POS, EDISI JUMAT, 2 SEPTEMBER 2011
OLEH
ARIFIN
A1D1 09 069
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011
KATA PENGANTAR
Tiada kata yang layak kita haturkan selain mengucap rasa syukur kepada Allah SWT atas segala Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya, walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana.
Semakin ketatnya persaingan di kalangan media cetak membuat para jurnalis harus bisa menggunakan bahasa yang menarik agar media mereka laku di pasaran. Makalah ini berjudul AnalisisMembandingkan Gaya Bahasa Perbandingan dan Gaya Bahasa Pertentangan Dalam Koran Kendari Pos Edisi Jumat, 2 September 2011.
Penulisan makalah ini banyak dibantu oleh berbagai pihak. Oleh karen itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen mata kuliah bahasa Jurnalistik yang telah memberikan arahan dan pemahaman, kepada teman-teman dan semua pihak yang telah memberikan semua kontribusinya terhadap penulisan makalah ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik konstruktif diperlukan menuju ke arah yang lebih baik dan kesempurnaan. Akhir kata, semoga makalah ini nantinya dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan dinilai ibadah dalam pandangan Allah SWT, Amin.
Kendari, November 2011
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMA JUDUL............................................................................................
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHUKUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................... 1
1.2 Rumusa Masalah............................................................................... 2
1.3 Tujuan Penelitian............................................................................... 3
1.4 Manfaat Penelitian............................................................................. 3
1.5 Ruang Lingkup.................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Gaya Bahasa.................................................................... 4
2.2 Jenis Gaya Bahasa............................................................................. 4
2.2.1 Gaya Bahasa Perbandingan.................................................... 5
1. Perumpamaan................................................................... 5
2. Metafora........................................................................... 6
3. Personifikasi..................................................................... 6
4. Depersonifikasi................................................................ 7
5. Alegori............................................................................. 7
6. Antitesis........................................................................... 7
7. Pleonasme dan taitologi................................................... 8
8. Perifrasisi......................................................................... 8
9. Antisipasi......................................................................... 9
10. Koreksio.......................................................................... 9
2.2.2 Gaya Bahasa pertentangan................................................... 9
1. Hiperbola.......................................................................... 9
2. Litotes.............................................................................. 10
3. Ironi................................................................................. 10
4. Okimoron......................................................................... 10
5. Satire................................................................................ 11
6. Inuendo............................................................................ 11
7. Antifrasisi........................................................................ 11
8. Paradoks.......................................................................... 12
9. Klimaks............................................................................ 12
10. Antiklimks ....................................................................... 12
11. Sinisme............................................................................. 12
12. Sarkasme.......................................................................... 13
2.3 Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa dalam koran Kendari Pos,
edisi Jumat, 2 September 2011....................................................... 13
2.3.1 Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa Perbandingan Dalam
Koran Kendari Pos, Edisi Jumat, 2 September 2011............ 13
1. Gaya Bahasa Metafora.................................................... 13
2. Gaya Bahasa Tautologi.................................................... 14
3. Gaya Bahasa Pleonasme.................................................. 15
2.3.2 Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa Pertentangan Dalam
Koran Kendari Pos, Edisi Jumat, 2 September 2011........... 15
1. Gaya Bahasa Hiperbola.................................................. 15
2. Gaya Bahasa Ineundo..................................................... 16
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................ 17
3.2 Saran.......................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gaya bahasa adalah bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Secara singkat penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale, 1971 : 220; Guntur Tarigan, 2009 : 4). Gaya Bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak atau pembaca (Guntur Tarigan, 2009 : 4).
Sehubungan dengan hal tersebut Toeti Adhitama (1978 : 33) mengatakan bahwa supaya komunikasi dapat efektif, pembicara (penulis) selain harus menghayati apa yang harus dikemukakannya ia juga harus trampil menggunakannya. Ia bukan harus menguasai tata bahasanya tetapi juga harus peka terhadap gaya bahasa yang dipilihnya.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa “gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut: kejujuran, sopan-santun, dan menarik (Keraf, 1985: 113). Kejujuran dalam bahasa berarti kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Pemakaian kata-kata yang kabur dan tak terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit adalah jalan untuk mengundang ketidakjujuran. Sedangkan yang dimaksud dengan sopan santun adalah memberi hormat atau menghormati yang diajak bicara, khususnya pendenganr atau pembaca. Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkatan. Menyampaikan sesuatu secara singkat dan jelas berarti tidak membuat pembaca dan pendengar memeras keringat untuk mencari tahu apa yang ditulis atau katakan.
Fungsi penggunaan gaya bahasa yaitu bila dilihat dari fungsi bahasa, penggunaan gaya bahasa termasuk ke dalam fungsi puitik yaitu menjadikan pesan lebih berbobot. Pemakaian gaya bahasa yang tepat (sesuai dengan waktu dan penerima yang menjadi sasaran) dapat menarik perhatian penerima. Sebaliknya, bila penggunaannya tidak tepat, maka penggunaan gaya bahasa akan sia-sia belaka, bahkan mengganggu pembaca.
Dalam koran banyak kita jumpai ragam gaya bahasa. Koran tidak hanya sekadar memberikan sebuah informasi kepada pembaca, akan tetapi koran juga bisa menjadi media pembelajaran gaya bahasa bagi para pembaca. Secara tidak sadar bahasa yang dalam dalam koran dapat mempengaruhi tingkat perkembangan bahasa seseorang, khususnya pengetahuan tentang gaya bahasa. Menyadari pentingnya pemahaman gaya bahasa dalam koran, maka penulis mencoba meneliti penggunaan gaya bahasa dalam koran, khususnya membandingkan gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan dalam koran Kendari Pos edisi Jumat, 2 September 2011.
1.2 Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka yang menjadi masalah dalam makalah ini adalah Bagaimanakah penggunaan gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011?
1.3 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini yaitu untuk mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011.
1.4 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi penulis, yaitu untuk memperoleh pemahaman kajian ilmu kebahasaan khususnya gaya bahasa perbandingan dan pertentangan, sehingga bisa lebih baik lagi dalam hal teoritik dan praktiknya.
2. Bagi pembaca, yaitu untuk memperoleh pemahaman kajian ilmu kebahasaan khususnya gaya bahasa perbandingan dan pertentangan, sehingga bisa lebih baik lagi dalam hal teoritik dan praktiknya.
3. Bagi media cetak, yaitu untuk memberikan masukan tentang penggunaan gaya bahasa agar dalam penggunaannya lebih tepat dan lebih sempurna,
1.5 Ruang Lingkup
Ruang lingkup makalah ini adalah gaya bahasa perbandingan dan pertentangan dala koran Kondari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011, pada kolom berita utama dan opini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Gaya Bahasa
Gaya bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis; pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek tertentu; keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra; cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan (Depdikbud, 1995: 297).
Gaya bahasa adalah bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Secara singkat penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale, 1971:220; Guntur Tarigan,2009 : 4). Secara singkat (Guntur Tarigan, 2009 : 4) mengemukakan bahwa gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak atau pembaca.
Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah pengaturan kata-kata oleh penulis dalam mengekspresikan ide, gagasa, dan pengalamannya untuk mempengaruhi dan meyakinkan para pembaca.
Bahasa dalam koran kadang menggunakan bahasa yang “bersayap,” cenderung konotatif dan ambigu (bermakna lebih dari satu). Bahasa ambigu membuat koran menjadi tidak kering. Penggunaan bahasa “bersayap’ disebut juga dengan majas (Depdiknas, 2005:89).
2.2 Jenis-Jenis Gaya Bahasa
Dalam kaitannya dengan gaya bahasa yang berlaku di Indonesia, gaya bahasa dapat ditinjau dari bermacam-macam sudut pandang. Guntur Tarigan (2009 : 5-6) membedakan gaya bahasa menjadi empat, yaitu (1) gaya bahasa perbandingan , (2) gaya bahasa pertentangan, (3) gaya bahasa pertautan, dan (4) gaya bahasa perulangan. Akan tetapi yang fokus terhadap gaya bahasa dalam pembahasan ini adalah pada gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan.
2.2.1 Gaya Bahasa Perbandingan
Sesuai dengan namanya, gaya bahasa perbandingan mencoba membandingkan dua hal yang sama atau dua hal yang berbeda. Dengan gaya bahasa perbandingan, kita akan mengetahui unsur-unsur apa saja yang dianggap sama, dan unsur-unsur apa pula yang dianggap berbeda atau bahkan bertentangan satu sama lain. Menurut Henry Guntur Tarigan, gaya bahasa perbandingan mencakup sepuluh jenis: (1) perumpamaan, (2) merafora, (3) personifikasi, (4) depersonifikasi, (5) alegori, (6) antitesis, (7) pleonasme dan tautologi, (8) perifrasisi, (9) antisipasi, dan (10) koreksio.
1. Perumpamaan
Gaya bahasa perumpamaan adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berbeda sehingga dianggap memiliki unsure-unsur persamaan yang diantara keduanya. Dalam bahasa latin, perumppamaan disebut simile yang bermakna seperti. Menyebut sesuatu dengan seperti, bererti sifat-sifat atau cirri-ciri pokok yang melekat pada sesuatu yang akan dibandingkan, seolah disamakan sehingga menjadi tidak tampak.
Para jurnalis hanya dapat menggunakan gaya bahasa perumpamaan ini ketika menulis tajuk rencana, arikel, kolom, berbagai jenis cerita khas berwarna (feature), catatan perjalanan, atau pelaporan mendalam.
Contoh:
penjahat itu licik seperi belut, rakus seperti monyet.bagai air di daun talas.
2. Metafora
Metafora adalah pemakain kata-kata bukan arti yang sebenarya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan (Poerwadarminta, 1976:648). Metafora adalah sejenis gaya bahasa perbandingan yang singkat, padat, tersusun rapi. Di dalamnya terlihat dua gagasan. Gagasan yang pertama adalah suatu kenyataan, sesuatu yang dipikirkan, sesuatu yang menjadi objek. Gagasan yang kedua merupakan pembanding terhadap kenyataan pertama tersebut (Tarigan, 1983:14: 1985:183).
Contoh:
Anak emas, buah bibir, buah tangan. Gudang ilmu, surga dunia, airmata buaya, dll.
3. Personifikasi
Secara etimologis, personifikasi berasal dari bahasa latin, persona yang berarti orang, pemain, pelaku, actor, subjek, atau topeng dalam permainan drama atau sandiwara. Menurut Edgar dale, dengan gaya bahasa personifikasi, kita memberikan ciiri-ciri atau kualitas pribadi seseorang kepada gagasan atau benda-benda tidak bernyawa sehingga benda-benda tidak bernyawa itu seolah-olah menjadi hidup atau bernyawa seperti layaknya manusia (Dale, 1971:221).
Dalam redaksi yang berbeda, personifikasi adalah gaya bahasa perbandingan yang mengandaikan benda-benda mati, termasuk gagasan atau konsep-konsep yang abstrak, berprilaku seperti manusia yang bisa menggerkkan seluruh tubuhnya, berkata-kata, bernyanyi, bersiul, berlari, manari, melihat, dan sebagainya.
Personifikasi lebih tepat digunakan untuk karya-karya jurnalistik yang sifatnya sotf news.
Contoh:
Nyiur melambbai, mentari mencium tubuh gadis itu.
4. Depersonifikasi
Depersonifikasi mengandaikan manusia atau segala hal yang hidup, bernyawa, seolah benda-benda mati yang kaku beku, tidak bias mellihat, mendengar, mencium, menggerakan tubuhnya.
Contoh:
Dari tadi kakek tua itu mematung, wajah gadis itu membeku.
5. Alegori
Alegori berasal dari bahasa Yunani, Allegorein, yang berarti bicara secara kias atau bicara dengan menggunakan kias. Alegori adalah cerita yang dikisahkan dalam lambing-lambang, tempat atau wadah pbjnek-objek atau gagasan yang diperlambangkan. Alegori biasanya mengandung sifat-sifat moral atau spiritual manusia.
6. Antitesis
Antithesis berarti lawan yang tepat atau pertentangan yang sebenarnya (Poerwadarminta, 1976:52). Antithesis adalah sejenis gaya bahasa yang mengadakan perbandingan antara dua antonim yaitu kata-kata yang mengandung cirri-ciri semantic yang bertentangan (Ducrot dan Todorow, 1981:277 dalam Tarigan, 1985:27).
Antitesis membuat laporan jurnalistik yang sifatnya fakktual, menjadi seolah-olah karya fiksi yang sifatnya imajisional. Artinya sangat sarat dengan lukisan suasana serta pengembangan karakter khas dari para pelaku yang terlibat dalam cerita itu.
Contoh:
Dia bersuka cita kalau aku dipenjara, kencantikannyalah yang membawa dirinya ke lembah nista.
7. Pleonasme dan Tautologi
Pelonasme adalah pemakain kata mubazir atau berlebihan yang sebenarnya tidak perlu (Poerwawadarminta, 1976:76). Suatu acuan disebut pleonasme apabila kata yang berlebihan itu dihilangkan (Keraf, 1985:133). Pleonasme bisa juga merupakan penegasan terhadap suatu kata atau konsep yang sudah tegas dan jelas. Sedangkan tautologi adalah penegasan terhadap suatu hal yang mengandung unsure perulangan tetapi dengan menggunakan kata-kata yang lain. Bahasa jurnalistik tidak menyikai pleonasme dan tautologi karena keduanya bertentangan dengan prinsip keringkasan dan kelugasan.
Contoh pleonasme:
Rector baru akan tiba pukul 06.00 sore. Hanya harga kentang dan cabai merah yang sudah lagi turun ke bawah.
Contoh tautologi:
Darah merah itulah yang melumuri wajahnya, para pengungi menerima bantuan satu ton atau seribu kg beras dari pemerintah provsinsi
8. Perifrasis
Perifrasisi adalah gaya bahasa yang mirip dengan pleonasme, kedua-duanya menggunakan kata-kata lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Pada gaya bahasa perifrasis, kata-kata yang berlebihan itu pada prinsipnya dapat diganti dengan sebuah kata saja (Keraf, 2004:134).
Contoh:
Setelah dirawat selama tiga pekan di rumah sakit, mantan pejuang yang sangat dicintai keluarganya itu akhirnya beristirahat dengan tenang utnuk selama-lamanya (menungal dunia).
9. Antisipasi (Proolepsis)
Kata antiisipasi berasal dari bahasa latin anticipatio yang berarti mendahului atau penetpan yang mendahului tentang suatu yang masih akan dikerjakan atau akan terjadi (Shadily, 1980:234).
Contoh:
Tiga hari sebelumnya, gadis malang itu masih sempat ke salon di dekat rumah untuk potong rambut.
10. Koreksio
Koreksio adalah gaya bahasa yang berwujud semula inngin menegaskan sesuatu. Tetapi kemudian memeriksa dan memp[erbaikinya mana yang salah (Tarigan, 1985:34-35).
Contoh:
laki-laki pemulung itu pun mencinatai, eh meniduri, sang nenek separuh bayah ini hingga subuh.
2.2.2 Gaya Bahasa Pertentangan
Gaya bahasa pertentangan membandingkan dua hal yang berlawanan atau bertolak belakang. Menurut Pof.Henry Guntur Tarigan, gaya bahasa pertentangan semuanya terdiri dari 20 jenis. Dari 20 jenis gaya bahasa tersebut, dintaranya: (1) hiprbola, (2) litotes, (3) ironi), (4) oksimoron, (5) satire, (6) ineundo, (7) antifrasis, (8) paradoks, (9) klimaks, (10) antiklimaks, (11) sinisme, dam (12) sarkasme (Tarigan, 1985:55-85).
1. Hiperbola
Hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang melebih-lebihkan jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
Contoh:
Sedikitnya 120 rumah rata dengan tanah disapu badai.
2. Litotes
Litotes adalah majas yang dalam pengungkapannya menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif atau bentuk yang bertentangan. Litotes mengurangi atau melemahkan kekuatan pernyataan yang sebenarnya (Moeliono, 1984:3). Menurut Tarigan (1985:58) litotes adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang dikecil-kecilkan, dikurangi dari kenyataan yang sebenarnya, misalnya untuk merendahkan diri.
Contoh:
Jika ada waktu singgahlah ke gubuk saya padahal rumahnya seperti istana), saya memang menjadi juara tetapi dia tetap labih baik (padahal tiga kali juara dunia).
3. Ironi
Ironi ialah majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud berolok-olok. Maksud ini dapat dicapai dengan mengemukakan tiga hal: (1) makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya, (2) ketidaksesuaian antara suasana yang diketengahkan dengan kenyataan yang mendasarinya, dan (3) ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan.
Contoh:
Bandung adalah kota kembang yang penuh sampah; bagus benar prestsinya, tiga kali naik ring, tiga kali terkapar.
4. Oksimoron
Oksimoron adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung penekanan atau pendirian suatu hubungan sintaksis baik koordinasi maupun determinasi, antara dua antonim (Ducrot dan Todorow, 1981:278).
Contoh:
Terjun payung adalah olahraga beresiko, tetapi eksekutif muda itu sangat menyukainya.
5. Satire
kata satire diturunkan dari kata satura berarti talam yang penuh berisi buah-buahan. Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Bentuk ini tidak harus bersifat ironis. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia. Tujuan utamanya adalah agar diadakan perbaikan secara etis dan estetis (Keraf, 1985:144; 2004:144).
Contoh:
Mari kita belajar dari koruptor yang dermawan; Indonesia surga narkoba.
Ajari kami untuk pandai menipu rakyat.
6. Inuendo
Inusndo adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenrnya. Gaya bahasa ini menyatakann kritik dengan sugesti langsung dan sering tampaknya tidak menyakitkan hati kalau ditinjau sambil lalu saja (Keraf, 1985:144).
Contoh:
Pidatonya disambut dingin karena tidak menyinggung kenaikan gaji.
7. Antifrasis
Antifrasisi adalah gaya bahasa yang berupa penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya.
Contoh:
Inilah pahlawan kita (padahal pneghianat)
8. Paradoks
Paradox adalah suatu pernyataan yang bagaimanapun diartiakan selalu berakhir dengan pertentangan (shadily, 1984:2552). Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya (Keraf, 1985:136; 2004:136).
Contoh:
Dia menderi dalam kelurga bahagia; mantan pejabat itu merasa bahagia setelah masuk penjara.
9. Klimaks
Klimaks adalah sejenis gaya bahasa yang berupa susunan yang makin lama makin mengandung penekanan. Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang brsifat periodik. Kimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya (Keraf, 1985:124; 2004:124).
Contoh:
Datang, berjuang, menang; Balita, remaja, dewasa, manula.
10. Antiklimaks
Antiklimaks adalah suatu acuan yang berisi gagasan-gagasan tang diurutkan dari yang terpenting berturut-turut kegagasan yang kurang penting. Gaya bahasa antiklimaks dapat digunakan sebagai suatu istilah umum yang masih mengenal spesifikasi lebih lanjut, yaitu dekrementum, katabasis, dan batos.
11. Sinisme
Sinisme adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati.
Contoh:
Apa yang tidak bisa Anda beli? Jangankan mobil dan rumah mewah, istri orang lain pun Anda sikat. Bahkan Negara ini besok lusajadi milik Anda. Kalau mau, Ana juga bis menyebut diri sebagai Tuhan.
12. Sarkasme
Sarkasme adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung olok-olok atau sindiran pedas dan menyakiti hati (Poerwadarminta, 1976:874).
Contoh:
perbuatan kakek tua ini, mungkin sama dengan setan yang suka gentayangan tengah malam.
2.3 Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011
Berdasarkan hasil analisis, maka gaya bahasa yang terdapat dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011 yaitu gaya bahasa metafora, pleonasme, tautologi, hiperbola, dan ineundo.
2.3.1 Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa perbandingan dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011
Berdasarkan hasil analisis, maka gaya bahasa perbandingan yang terdapat dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011 yaitu gaya bahasa metafora, pleonasme, tautologi.
1. Gaya Bahasa Metafora
Penggunaan majas merafora dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya berjumlah 12.
Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas metafora pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:
1) Kesepakatan lima bakal calon gubernur dari partai Golkar yang mereka teken di depan Ketua Umum DPP Golkar, Aburizal Bakri, akhir Juli lalu ternyata mengisahkan sedikit cerita sumbang.
2) Ketua Kolkar Sultra, Ridwan BAE tak mau isu itu menjadi bola liar dan jadi konsumsi rival politik partai ini di masyarakat.
3) Selamat berjuang garuda.
4) Se-Indonesia sepantasnya mendukung perjuangan anak-anak garuda agar pengorbanan mereka mendapatkan hasil yang maksimal.
5) Sehingga mampu membuat seluruh warga negara bangga akan garuda.
6) ... sebagai buah manis dari reformasi pemerintahan yang telah berhasil diletakkan secara gradual sejak tumbangnya rezim pemerintahan orde baru.
7) ....pemilihan langsung sebagaimana telah dipraktikan selama ini di bawah payung hukum Undang-Undang No. 32 Tahun 2004.
8) Dalam iklim pembangunan sistem demokrasi pemerintah untuk tegaknya negara hukum.
9) ... secara kreatif, dinamis, dan integral di bawah payung konstitusi.
10) ... menyemburkan aroma miskin koordinasi dalam kabinet pemerintahan Presiden SBY, yang makin membingungkan rakyat.
11) Dalam konteks ini kita sepatutnya bangga atas loncatan jauh yang telah kita capai dalam kehidupan berdemokrasi...
2. Gaya Bahasa Pleonasme
Penggunaan majas pleonasme dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya hanya satu.
Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas pleonasme pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:
1) Ribuan warga yang mengikuti shalat ied dimaksud terlihat tetap khusu menunaikan shalat dan antusias mendengarkan khotbah shalat ied yang disampaikan oleh Gubernur Nur Alam.
3. Gaya Bahasa Tautologi
Penggunaan majas tautologi dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya hanya satu.
Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas tautologi pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:
1). Tentu yang kita inginkan adalah kemenangan atas Iran, minimal mendapatkan satu poin alias bisa menahan imbang tuan rumah yang ditempatkan pada unggulan pertama Group E Zona Asia.
3.2 Deskripsi Penggunaan Gaya Bahasa Pertentangan dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 september 2011
Berdasarkan hasil analisis, maka gaya bahasa pertentangan yang terdapat dalam koran Kendari Pos, edisi Jumat, 2 September 2011 yaitu gaya bahasa hiperbola dan gaya bahasa ineundo.
1. Gaya Bahasa Hiperbola
Penggunaan majas hiperbola dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya berjumlah enam.
Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas hiperbola pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:
1). Memang, sejak tenggelam pada sabtu dini hari lalu, Suhariyah menumpang di atas kapal fery naas tersebut dan hingga kini belum ditemukan, termasuk satu ajudannya bernama Suryani.
2). Kasus suap di tubuh Kemenaketrans semakin memanas.
3). Nama menaketrans Muhaimin Iskandar semakin santer disebut –sebut terlibat dalam kasus suap dikemenaketransnya.
4). Pemain harus berjibaku di atas lapangan menghadapi Iran, yang akan di helat malam nanti.
5). Namun mengatasinya dengan merubah mekanisme pemilihan gubernur dengan menariknya dari tangan rakyat sama halnya dengan pelecehan atas kedaulatan....
6). ... bukan sebaliknya hukum digunakan untuk memasung hak-hak rakyat untuk berpartisipasi dalam sistim pemerintahan yang demokrasi itu.
2. Gaya Bahasa Ineundo
Penggunaan majas ineundo dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 seluruhnya hanya satu.
Berdasarkan hasil analisis maka penggunaan majas ineundo pada koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 sebagai berikut:
1). Hasilnya, seperti kita sudah ketahui semua, dalam laga uji coba itu, Indonesia ditekuk 1-0 oleh tim lawan, dan diperparah dengan cederanya kiper Fery Rotinsulu.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan temuan data dalam menganalisis penggunaan gaya bahasa dalam koran Kendari Pos, edisi 2 September 2011 dapat disimpulkan sebagai berikut:
Jumlah seluruh penggunaan gaya bahasa dalam koran Kendari Pos edisi 2 September 2011 adalah 21majas, terdiri dari: (a) majas perbandingan berjumlah 14, meliputi penggunaan majas metafora (12), pleonasme dan tautologi masing-masing satu. (b) majas pertentangan berjumlah tujuh, meliputi penggunaan majas hiperbola (6), dan majas ineundo satu.
3.2 Saran
Sehubungan dengan hasil penelitian ini, sejumlah saran penulis kemukakan Kepada Peneliti Selanjutnya, agar hasil penelitian ini bisa menjadi acuan penelitian lebih lanjut serta dengan mengembangkan kemungkinan-kemungkinan terhadap unsur-unsur kebahasaan yang lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar