Anda atau saya mungkin sering mendengar kiprah sebagian orang yang mengerjakan hal-hal yang seolah-olah menurut mereka menantang maut. Beberapa kalangan pemain acrobat ada yang melambung namanya karena kepiawaiannya berjalan di atas tali yang dibentangkan di antara dua gedung tinggi, bahkan di atas jurang, antara dua gundukan karang besar.
Ada orang yang seolah-olah mengejar mati dengan mengarungi tujuh samudera, hanya dengan mengendarai perahu layar kecil, seorang diri pula. Dia mengabadikan banyak hal sebagai bukti bahwa ia memang melewati lorong-lorong maut di tujuh samudera besar dunia.
Tak kalah dengan itu, banyak para pesulap yang melakukan aksi ‘separuh’ bunuh diri dengan memendam dirinya dalam tanah dengan tangan terikat dan berusaha membebaskan diri dalam jarak waktu yang bila terlambat beberapa detik saja menurut kebiasaanm nyawanya pasti melayang. Tokoh lain memilih berendam di dalam tumpukan es hingga berjam-jam. Ada pula yang memilih merayap di gedung-gedung bertingkat tanpa alat bantu, sehingga menyerupai manusia laba-laba, spiderman, membuat dunia terperangah. Yang paling berjaya dalam aksi ala spiderman adalah Alain Robert, pria asal Prancis berhasil menaklukan lebih dari 70 gedung tertinggi di dunia. Bisakah mereka disebut sebagai orang-orang yang takut mati?
Sama sekali tidak
Bila Anda ditanya, ‘Apakah Anda takut mati?’ secara logis Anda akan kesulitan menjawabnya. Mereka, Anda, atau saya, bila hanya mengandalkan telaah logika saja, tak layak berkata ‘saya tak takut mati.’ Karena Anda, sata, atau mereka belum pernah merasakan mati. Maka bagaimana mungkin orang pantas disebut tak takut terhadap sesuatu yang dia belum tahu wujud, rasa, dan hakikatnya.
Kalau Anda sudah pernah merasakan sakitnya disuntik, lalu Anda berkata, ‘saya tak takut disuntik,’ itu wajar-wajar saja. Karena Anda sudah tahu batas rasa sakitnya dan wajar pula bila Anda yakin tidak merasa takut terhadapnya. Kalau seseorang merasa yakin tak takut mati, sehingga melakukan hal-hal yang luar biasa yang seolah-olah menantang maut, sementara ia tidak tahu bagaimana rasanya kematian. Bagaimana rasa sakit dalam sakaratul maut, maka ia lebih layak disebut ‘nekat’, ketimbang pemberani.
Maka seorang mukmin yang berjigad di jalan Allah, pada hakikatnya bukanlah pribadi yang sama sekali tidak takut mati. Namun, karena ia yakin bahwa di balik kematian ini masih ada kehidupan lagi, dan bahwa dengan berjihad, lalu ia mati terbunuh, ia akan mendapatkan kehidupan yang bahagia dan abadi, maka rasa takut terhadap kematian itu pun ia abaikan.
Maka sesungguhnya di dunia ini tidak ada orang yang tidak takut mati, dalam makna yang paling hakiki. Seorang mukmin yang menyukai kematian di jalan Allah, sesungguhnya buka menyukai kematian itu sendiri, tapi kepada keindaha dan kebahagiaan di balik kematian tersebut.
Firman Allah “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mmereka itu) mati, bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya…” (QS,Al-Baqarah:154)
Bila demikian, ada hal-hal lain yang sangat luar biasa yang mampu menggugah dan memaksa kaum beriman untuk menepis segala rasa takut mereka terhadap kematian, bahkan terhadap berbagai jenis rasa sakit yang dapat dibayangkan saat menghadapi kematian, seperti terjangan peluru, tikaman pisau dan tombak, bakaran api, bahkan juga sakaratul maut itu sendiri.
Namun, kita harus sepakat bahwa rasa takut terhadap mati seperti juga halnya rasa takut terhadap binatang buas, terhadap rasa sakit, kesemuanya itu ada dan nyata. Namun, ada bermacam-macam kualitas pada rasa takut itu, yang akan menampakan secara jelas kualitas iman dan ketaatan seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar