Masjid di desaku tetap seperi dulu
Konon seratus lebaran telah berlalu
Hanya keranda mayat sudah berganti
Imam penghulu lima turunan
Buku khotbah semakin kusam
Lembaran qur’an brceceran
Tali tali tikar putus simpulnya
Ada mumuk dan kecoak sembunyi
Rumput liar menebar burung kepinis ranum
Perangkai sarang di dekat mihrab
Ke manakah wahai pialang imam?
Serak suara muazim menerpa padang ilalang
Hanya orang-orang tua yang gontai
Terompah kayu dan sarung yang memudar
Mereka tetap setia mengumbar harap
Masjid di d esaku tetap seperti dulu
Hanya waktu yang berpacu
Kehidupan berganti baju
Pialang iman ama tergusur
Suara adzan jemu dalam kaset
Orang tua gontai kian menipis , habis!
Marhaban ya pialng salam
Konglomerat segudang harap
Real estate pembawa nikmat
Dan kini masjid di desaku berpoles diri
Cantik lampu-lampu kristal
Amuadzim jemu gema dalam kaset
Yang itu itu juga
Sedang ruang cemerlang memantul cahaya
Tapi hanpa tanpa jiwa tanpa makna
Mihrab masjid di desaku
Telah lama meratap
Tubuhnya yang gagah
Kini tapa toh tanpa jiwa
Magrib sendu bertambah sendu
Hanya gelak tawa para badut menerpa kamar
Masjid di desaku hilang jiwa musnah ambisi
Dan para pialang sujud sumpah diduli televise
Masjid di desaku meratap
Air matanaya berhamburan
Sagava cinta manusia telah lindap
Karena engkau wahai pengembara fana
Sungguh tidak lagi peduli
Tidak ada komentar:
Posting Komentar