Aku tak ingin menghujat apalagi mengutuk, karena itu bukan hak dan kepribadiaku. Maka biarlah derita ini kubawa berlari sendiri.
Dengan hati compang-camping, aku tembus cakrawala, semoga saja Tuhan masih mau membagi sisa kasihnya.
Kini aku harus tegar, berpijak di bumi, mengadahkan kepalaku memandang langit. Karena keluh kesah dan hanyalah hanya akan menyiksa diriku, sedang engkau kan sedikitpun tak pernah lagi ingat padaku, lagi pula mana engkau mau peduli, sedang setisp detik hidupmu tersita penuh dengan si dia.
Aku ternista karena cinta, mungkin inilah kata yang paling pantas. Dan aku sibuk sendiri, bergelut sendiri dengan impianku, padahal engkau sedikitpun tak pernah mau peduli, apalagi mengharap engkau sekadar mengingatku, sedang dalam benakmu, nama dan kehadiranku ternyata hanyalah selingan belaka bagimu.
Kini aku berada di tengah kebun jagung, hujan rintik dan awan mendung mengayut di batas bukit, persis ketika kita bersama dulu. (Hanya saja, kini aku hanya sendirian, dan batinku terhimpit, air mataku bertetesan sederas air hujan yang semakin deras. Jiwaku beku, sedingin udara pegunungan.
Malam tadi selepas sholat isya di rumah tua ini, aku meraung di tengan ilalang, malam pekat sekali, dan aku tak mau peduli.
Aku datangi pelabuhan tua, sebagaimana kita dahulu pernah jumpa, hanya saja di bangku tunggu itu tidak ada siapapun, kecuali bayanganmu, matamu bola berbinar, dan rasanya saat itu kita ingin berpelukan (malam itu aku duduk di atas bangku, tempat engkau menunggu, jiwaku tersayat lagi.
Lantas, jam tiga sore esok harinya akupun pergi, entah desa apa, kupandang rumah yang pernah kita idamkan. Rumah itu rasanya begitu indah, tapi ah..
Maka simpanlah kenangan ini, hanya kita bertiga yang tahu, aku, engakau dan Allah.
Hancurkan segala kenangan itu, karena kini engkau bukan milik siapapun. Hanya asal engkau tahu, aku sudah kehabisan perbendaharaan kata untuk melukiskan betapa indahnya kisah cinta kita berdua.
Kalau engaku sudah membaca tulisan ini, maka hancurkanlah, agar menjadi debu, jangan engkau pikirkan aku, walau aku tahu, toh kini engkau tak pernah memikirkan aku, atau mungkin dahulu pun hanya sekadar selingan untuk menungggu waktu belaka, wallohu’alam. Tapi nuraniku tetap mencoba meyakini bahwa engakau memang pernah cinta kepadaku.
Sebaiknya, ucapkanlah untukku sekarang juga sebuah kata dari makna kematian, innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’uun, dan memang aku telah mematikan diriku sebelum hari kematian yang sebenarnya menjemputku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar